fbpx
Article

Public Speaking Itu Penting

Apakah public speaking penting? Banyak orang yang akan spontan menjawab, “penting,” bahkan, “sangat penting.” Tapi anehnya, banyak sekali orang yang mengalami kesulitan melakukannya, bahkan menganggap public speaking adalah momok yang menakutkan, sehingga menghindarinya.

Di mana letak masalahnya? Pertama, mindset yang salah. Banyak mindset yang keliru tentang public speaking beredar di tengah masyarakat, bahkan diyakini sebagai kebenaran. Padahal, hal-hal tersebut mitos yang tidak berdasar. Mari kita lihat beberapa di antaranya.

Pertama, public speaking membutuhkan bakat tertentu. Dengan kata lain, ada orang yang “dari sananya” memang sudah piawai melakukannya. Sebaliknya, ada orang yang ditakdirkan sulit berbicara di muka umum. Sama sekali tidak ada fakta atau dasar ilmiah yang mendukung hal mindset ini.

Ingat, public speaking bukan menyanyi. Ada orang yang memang tidak dianugerahi bakat khusus untuk memproduksi suara yang merdu dan mampu memainkan pita suaranya sedemikian rupa untuk menghasilkan nada-nada tertentu. Sedangkan public speaking pada dasarnya adalah “speaking in front of public.” Jadi, pada dasarnya ia adalah “speaking.” Setiap orang bisa melakukannya, dan dengan latihan yang tepat kemampuan ini bisa diasah.

Kedua, public speaking adalah berpidato. Kita harus tampil perfect, menggunakan bahasa baku, tampilan formal, tone yang berapi-api, dan tidak ada tempat untuk slip of tounge, jokes, dan beragam kesalahan lainnya. Faktanya sebaliknya, public speaking lebih mirip ngobrol dengan teman, ketimbang berpidato. Jadi, ukuran keberhasilannya yang paling mendasar adalah terbangunnya engagement dengan audiens. Tentunya, tampil santai dan menjadi diri sendiri, dengan bahasa yang mengalir, akan jauh lebih mudah diterima. Kemudian nanti tinggal ditambahkan beberapa teknik yang bisa membuatnya lebih powerful.

Mindset atau mitos kedua ini menjadi semakin tidak relevan jika kita berbicara kepada para millennials yang mendominsi populasi pegawai saat ini. Beberapa riset mengkonfirmasi bahwa mereka senang didudukkan setara, dan diperlakukan sebagai teman. Oleh karenanya, dalam berbagai leadership training yang diselenggarakannya, Peopleshift selalu menekankan manfaat melatih story telling sebagai teknik public speaking yang sangat powerful ketika seorang leader berinteraksi dengan millennials. Singkatnya, jika dieksekusi dengan baik, story telling bisa membantu para leaders mencapai ultimate goal dari public speaking, yaitu to persuade.

Ketiga, orang-orang introvert akan sulit, bahkan nyaris tidak mungkin menjadi public speaker yang handal. Mindset ini hanyalah refleksi dari kekhawatiran yang absurd dari orang-orang introvert. Faktanya, banyak public speaker hebat kelas dunia justru adalah orang introvert. Ratu talk show lawas, Oprah Winfrey, adalah seorang introvert. Demikian pula mantan Ibu Negara Amerika Serikat, Michelle Obama.

Kok bisa? Para introvert karap merasa tidak nyaman ketika harus melakukan public speaking. Dampaknya, banyak di antara mereka yang mempersiapkan diri dengan baik. Mulai dari merencanakan topik yang akan diangkat, menyusun kerangka pembicaraan, bahkan sampai menulis scrip dan melakukan rehearsal. Hasilnya? Dahsyat! Banyak dari mereka bisa tampil mulus dan nyaris tanpa cela.

Kondisi tersebut berkebalikan dengan para extrovert. Kerap mereka terlalu nyaman dan percaya diri ketika tampil berbicara di muka umum. Rentetan kata-kata dan kalimat mengalir tak putus-putus dari mulut mereka membombardir audiens. Tanpa disadari, banyak dari mereka melanggar salah satu kaidah paling mendasar dari public speaking. Intinya, public speaking is all about the audience, not the speaker.

Public speaking itu untuk audiens, bukan untuk si pembicara. Oleh karenanya, pikiran, perasaan, dan engagement harus menjadi pusat perhatian, dan pertimbangan utama kita. Dalam banyak kasus, para introvert lebih mampu berempati kepada audiens ketimbang para extrovert, yang cenderung terlalu asyik menikmati pertunjukkannya sendiri ketika public speaking.

Keempat, kalau pekerjaan saya besifat teknis, tidak banyak berurusan dengan manusia, dan cenderung di belakang layar, maka saya tidak memerlukan public speaking. Mindset ini bisa jadi benar jika Anda memang memutuskan untuk tetap berada di posisi pelaksana teknis, dan tidak ingin beranjak ke jenjang karir yang lebih tinggi.

Di dunia bisnis dan karir yang sangat dinamis saat ini, Anda akan melihat betapa banyaknya kondisi yang mengharuskan Anda melakukan public speaking. Bahkan seorang developer atau data scientist tetap dituntut untuk mempresentasikan hasil kerjanya kepada user. Tentunya kita perlu memastikan, jangan sampai kita gagal mendapatkan respon yang positif, atau support yang dibutuhkan dari stakeholders, bukan karena konten yang disajikan kurang berkualitas, tapi semata-mata karena cara kita mempresentasikan konten tersebut tidak powerful.

Kelima, jika saya expert di bidang tertentu dan berbicara di bidang keahlian saya, maka tanpa keterampilan public speaking pun orang akan tetap menyimak apa yang saya sampaikan. Boleh jadi pandangan seperti ini ada benarnya, khususnya untuk audiens yang berpegang pada peribahasa “don’t judge a book by its cover.”

Sayangnya, di dunia nyata justru, “people judge a book by its cover.” Sangat kerap kita menemukan orang-orang yang tidak seberapa ahli di bidangnya, bahkan sama sekali tidak jelas bidang keahliannya apa, justru menjadi panutan publik, semata-mata karena kemampuan komunikasinya yang luar biasa. Jadi, buatlah keahlian Anda di sebuah bidang menjadi lebih impactful dengan melatih public speaking skill yang hebat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *