fbpx
Article

APAKAH VIDEO LEARNING EFEKTIF?

Apakah belajar melalui video learning efektif? Pertanyaan ini menarik untuk diajukan. Sebagaimana kita ketahui bersama, pandemi telah mendorong, bahkan memaksa kita mengubah banyak hal, termasuk cara belajar. Tuntutan untuk social distancing dan stay at home membuat sangat banyak hal dilakukan secara daring. Bukan cuma belanja, kerja, atau meeting.Tapi juga sekolah, kuliah, bahkan sidang skripsi dan wisuda.

Dalam urusan aktivitas daring ini, tentu tak luput pula berbagai pelatihan dan kursus. Di sini ada dua varian, yaitu online course yang berbentuk streaming, dan video learning. Kita fokus membahas yang kedua. Data menunjukkan, akses publik terhadap video learning memang melonjak drastis selama pandemi. Apalagi kemudian beberapa platform belajar daring menggratiskan sejumlah kursusnya selama periode tertentu.

Video learning gratis sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelumnya, kita bisa belajar banyak hal, mulai dari membuat kue kering, melakukan presentasi yang efektif, hingga disain grafis, dengan mengakses video di berbagai kanal youtube secara cuma-cuma.

Ada catatan untuk segala sesuatu yang gratis. Biasanya ada moral hazard di situ. Maksudnya, di bawah sadar ada kecenderungan kita tidak menganggapnya sebagai sesuatu yang cukup serius, karena merasa tidak perlu melakukan pengorbanan tertentu untuk memperolehnya. Tidak heran, agak jarang kita terdorong untuk belajar belajar sungguh-sungguh dari video leraning gratis, misalnya dengan menyediakan waktu khusus, atau setidaknya menontonnya sampai selesai.

Apakah itu artinya video learning yang berbayar akan lebih efektif? Boleh jadi demikian, karena biasanya kalau sudah berkorban, orang biasanya termotivasi untuk memperoleh benefit sebesar-besarnya dari pengorbanan tersebut. Tapi tentunya, berbayar atau tidak bukan satu-satunya faktor yang menentukan efektifitas belajar lewat video learning. Yuk kita bahas faktor-faktor lainnya.

Pertama, kebutuhan dan tujuan yang jelas. Video learning akan lebih efektif membantu Anda belajar, jika kebutuhan dan tujuan Anda sudah dirumuskan dengan jelas. Anda tahu pasti skills atau knowledge apa yang ingin dipelajari dan dikuasai. Hal ini tentunya akan mengarahkan Anda untuk mencari dan memilih video learning yang sesuai, dari ribuan atau bahkan jutaan yang tersedia di dunia daring. Jadi, Anda bukan sekedar shopping di sebuah platform, lalu tiba-tiba menemukan video learning yang dirasa menarik, dan kemudian mengaksesnya.

Kedua, komitmen dan self-discipline. Bayangkan situasinya Anda memanggil guru les privat piano. Namun kerap Anda membatalkan jadwal belajar yang sudah disepakati, karena Anda punya kesibukan lain yang dirasa lebih penting dan mendesak. Bisa dipastikan, Anda tidak akan pernah mahir memainkan piano.

Hal yang kurang lebih sama berlaku untuk proses belajar menggunakan media video learning. Percuma Anda bayar akses video tersebut di sebuah platform tertentu, kalau Anda tidak menyediakan waktu yang betul-betul Anda komitmenkan untuk mempelajarinya.

Komitmen dan self-discipline juga menyangkut tindak lanjut dan praktek, khususnya jika yang dipelajari adalah hardskill. Tentunya menonton video learning sampai selesai tidak cukup. Hal tersebut hanya tahap pertama yang mengubah dari tidak tahu menjadi tahu. Untuk menjadi paham, mampu melakukan, apalagi trampil dan mahir, Anda perlu mempraktikkan hal-hal yang diulas dalam video tersebut. Dan sangat boleh jadi tidak cukup sekali, melainkan berkali-kali.

Ketiga, apakah video learning tersebut diproduksi atau disediakan oleh institusi atau platform yang punya reputasi yang baik? Apakah orang yang memberikan materi dalam video learning tersebut memang ahli di bidangnya? Ingat, internet adalah dunia yang praktis tanpa batas. Siapapun bisa menjual apapun di sana. Sampah selalu jauh lebih banyak ketimbang mutiara. Tapi jangan khawatir, di dunia digital mengecek reputasi juga jauh lebih mudah. Coba ketik nama si pemberi materi di mesin pencari, dan biarkan internet mengungkapkan track record orang tersebut.

Keempat, seberapa sesuai konten video learning tersebut dengan kebutuhan Anda? Sebuah topik bisa disajikan dengan tingkat keluasan dan kedalaman yang bervariasi. Ini bukan soal benar-salah, tapi soal kesesuaian dengan kebutuhan, dan juga kondisi Anda. Bisa jadi konten yang disajikan di sebuah video ternyata terlalu kompleks dan tidak mudah Anda pahami, karena prasyarat untuk memahami dan menguasai terlebih dahulu materi yang tingkatannya di bawah itu.

Kelima, apakah video learning tersebut dikemas dan disajikan dengan sistematika yang mudah untuk diikuti? Hal ini menjadi penting karena belajar dengan medium video learning berarti belajar secara mandiri. Jadi, kemudahan dan kenyamanan alur materi di video tersebut harus betul-betul menjadi pertimbangan.

Sebagai contoh, dalam video learning “Public Speaking that Connects” yang diproduksi oleh Peopleshift, materinya disajikan sangat compact namun mendalam, dengan kerrangka why-how-what. Pengguna diajak mengikuti sebuah journey yang mengalir mulus dari awal sampai akhir. Di samping itu, materi dipecah ke dalam sejumlah section yang pendek, sehingga lebih mudah diikuti. Dan di akhir setiap section diberikan latihan yang bisa dipraktrikkan secara mudah oleh pengguna. Bahkan disediakan sebuah mekanisme di mana pengguna bisa memperoleh feedback dari pengisi materi terhadap hasil latihan yang dilakukannya.

Mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana cara menilai kriteria kelima di atas tanpa menyaksikan videonya terlebih dahulu? Biasanya, video learning yang bagus dan diproduksi oleh institusi yang bereputasi baik menyediakan teaser yang bisa diakses secara gratis. Cara lainnya, Anda bisa membaca ulasan yang ditulis oleh orang-orang yang sudah terlebih dahulu mengakses video tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *