fbpx
Activity

BELAJAR GRATIS LEWAT WEBINAR

Walaupun sudah cukup lama eksis, namun seminar daring alias webinar benar-benar naik daun di masa pandemi ini. Alasannya, karena kita lebih banyak stay at home dan melakukan segala sesuatunya secara online. Berdiam di rumah ternyata membuat sebagian orang memiliki waktu yang lebih luang, sehingga mencari-cari pengisi waktu dan pengusir kebosanan. Dalam situasi itu, tampaknya webinar menjadi salah satu alternatif yang cukup bergizi.

Di masa sebelum pandemi, webinar mungkin lebih akrab dengan generasi milenial yang mendapat julukan digital natives. Untuk kelompok ini, gadget dan segala sesuatu yang berbau digital adalah makanan sehari-hari. Tampaknya, sebagian besar millennials punya prinsip, jika sesuatu bisa diperoleh secara online, mengapa harus repot-repot offline. Mencari informasi atau ilmu baru termasuk salah satu kebutuhan yang bisa dipenuhi secara daring, dan webinar adalah salah satu mediumnya.

Lain halnya bagi generasi X ke atas, yang dalam konteks digital kerap disebut digital migrant. Sebutan itu saja sudah menunjukkan keterpaksaan. Artinya, generasi ini adalah kelompok orang-orang yang terpaksa beradaptasi dengan dunia digital yang merebak sedemikian cepat. Jika diberi pilihan, mungkin sebagian orang di generasi ini lebih nyaman beraktivitas secara offline. Bertemu, bertatap-muka langsung secara fisik, termasuk dalam aktivitas belajar, adalah alternatif yang lebih disukai.

Namun, pandemi terbukti menjadi akselerator proses transformasi digital yang sangat efektif. Mendadak, orang-orang dari semua generasi terlibat aktif dalam webinar, baik sebagai penyelenggara atau pembicara, maupun peserta. Di awal masa pandemi mungkin generasi X masih menahan diri, karena masih punya harapan bahwa dalam waktu singkat pandemi akan reda, sehingga mereka bisa kembali beraktivitas normal. Yang mereka sebut “normal” itu tentunya adalah offline. Apa daya, ternyata pandemi berkepanjangan, sehingga para senior ini perlahan tapi pasti menerima kenyataan, harus mulai mengakrabkan diri dengan webinar. Oleh karena itu sekarang kita lihat bahkan emak-emak pun getol ikut webinar.

Tak heran kemudian kita menyaksikan hampir tak ada topik yang tidak dibuat webinarnya. Yang menarik, sebagian – mungkin sebagian besar – topik-topik tersebut terkait atau dikaitkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan pandemi. Ada banyak webinar tentang bahaya Covid-19 berikut pencegahan dan penanggulangannya. Namun marak pula webinar yang menyoroti langkah Pemerintah dalam menangani bencana global ini, baik pro maupun kontra. Ada juga webinar yang mengupas bagaimana menjaga motivasi, kesehatan mental, produktivitas, dan team engagement selama work from home (WFH). Peluang-peluang bisnis yang bisa memberikan hasil yang menjanjikan di masa pandemi, juga tak luput menjadi bahasan webinar. Bahkan, ada webinar tentang bagaimana menangani jenazah dengan protokol Covid-19.

Di samping berbagai insitusi, organisasi, atau kelompok independen dalam masyarakat, sejumlah instansi Pemerintah, baik di pusat maupun daerah, juga menjadi webinar sebagai media untuk menjangkau publik yang lebih luas dalam mensosialisasikan berbagai kebijakan dan langkah Pemerintah. Hal ini merupakan trend baru yang menarik, karena di masa lalu tidak banyak dilakukan.

Lalu, pertanyaan yang menarik untuk dibahas, seberapa efektif webinar sebagai media pembelajaran? Jawabannya tidak bisa eksak, atau hitam-putih, karena bagaimanapun banyak sekali faktor yang menjadi penentunya.

Dari sisi penyelenggara webinar, kemampuan berempati dan membaca kebutuhan kelompok masyarakat yang disasar menjadi kunci utama. Secara umum, semakin spesifik user persona yang dituju, dan semakin tajam topik dirumuskan berdasarkan kebutuhan – baik pain yang ingin diatasi, maupun gain yang ingin diperoleh – webinar tersebut akan semakin diminati publik. Namun kadang-kadang penyelenggara lebih menitikberatkan pada upaya menghadirkan pembicara terkenal yang diharapkan mampu menarik massa.

Dari sisi Anda sebagai calon partisipan, ukuran efektif tidaknya tentu harus dikembalikan kepada kebutuhan Anda. Sebagian besar webinar memang gratis. Namun tentunya, cuma-cuma semestinya tidak menjadi percuma. Tetap Anda berkorban waktu untuk mengikuti sebuah webinar yang gratis. Sayang jika manfaatnya tidak banyak bagi Anda. Karena itu, sekali lagi, pastikan Anda hanya mengikuti webinar yang sesuai dengan kebutuhan Anda.

Masalahnya, untuk topik-topik yang Anda butuhkan, niscaya tersedia begitu banyak webinar di luar sana. Sehingga tantangan berikutnya adalah, bagaimana memilih webinar yang berkualitas? Salah satu indikatornya adalah seberapa kredibel dan kompeten institusi penyelenggaranya. Tentunya hal tersebut tidak sulit dicek melalui jejak digital institusi tersebut. Secara umum, lebih mudah mengharapkan webinar yang berkualitas dari sebuah institusi yang memiliki rekam jejak yang meyakinkan di bidang yang menjadi topik webinar tersebut.

Potensi kualitas sebuah webinar juga bisa dilihat dari reputasi pembicaranya. Tak heran, banyak partisipan memutuskan mengikuti sebuah webinar karena menghadirkan tokoh-tokoh terkenal sebagai pembicaranya. Terkait dengan hal ini ada fakta menarik yang mungkin luput dari perhatian. Cukup kerap deretan nama-nama beken itu hanya dipajang di poster publikasi sebagai penarik massa. Saat sesi berlangsung tokoh-tokoh kelas atas itu hanya bicara beberapa kalimat di permukaan. Tidak menyentuh dan mengupas topik secara mendalam.

Oleh karena itu, sekedar saran, mungkin baik juga jika Anda tidak serta-merta mengaitkan tingkat keterkenalan seorang tokoh dengan tingkat kepakarannya, atau dengan ilmu yang akan dibagikannya dalam webinar yang Anda pertimbangkan untuk diikuti. Menelisik rekam jejak digital pembicara yang bersangkutan boleh jadi bisa memberikan informasi yang lebih akurat, ketimbang sekedar menimbang keterkenalannya.

Akhirnya, bagaimanapun perlu disadari bahwa dari sebuah webinar berdurasi dua sampai tiga jam kita tidak bisa berharap konten yang benar-benar menyeluruh dan mendalam. Yang paling realistik untuk diharapkan adalah mendapatkan insight, inspirasi, dan pemantik semangat untuk menggali lebih lanjut informasi dan ilmu yang terkait melalui berbagai sumber lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *