fbpx
Contact us
Article

Leadership Training di Masa Pandemi (New Normal): Perlukah?

Apakah di masa pandemi, yang diikuti “new normal” saat ini, perusahaan masih perlu menyelenggarakan leadership training untuk para pegawainya?

Mungkin ada yang spontan menjawab, “tidak perlu,” atau setidaknya “bukan prioritas.” Alasannya, banyak perusahaan mengalami kontraksi bisnis yang cukup serius, bahkan beroperasi pada “survival mode.” Dalam kondisi tersebut, budget refocusing menjadi satu kelaziman. Komponen anggaran yang tidak mendesak dipotong, di mana pembelajaran dan pengembangan pegawai kerap menjadi korban pertama.

Pandemi yang diikuti oleh “new normal” adalah salah satu wujud dari situasi volatile, uncertain, complex, ambigu (VUCA), yang sudah menjadi jargon dunia bisnis beberapa tahun terakhir. Dalam situasi VUCA, urusannya bukan lagi “besar” versus “kecil”, melainkan “lincah” versus “lamban”. Perusahaan bisa diibaratkan kapal laut yang harus berlayar melewati karang tajam yang terserak acak. Lambung kapal bisa sobek, jika tak dikemudikan nahkoda yang piawai. Agility menjadi kata kuncii untuk mampu bertahan dan terus tumbuh, sehingga para pemimpin hari ini perlu dibekali dengan mindset, skillset, dan toolset baru yang relevan.

Di sisi lain, tantangan yang terkait dengan people management juga menjadi semakin kompleks. Perusahaan perlu melakukan gap analysis untuk mengukur kesenjangan antara profil SDM yang ada dengan yang dibutuhkan. Lalu, strategi untuk menutup gap tersebut perlu diputuskan: reskilling SDM yang ada melalui program-program learning and development, merekrut SDM baru, atau kombinasi keduanya. Ini sekedar contoh bagaimana people management bertransformasi menjadi strategic people management, karena implikasi keputusannya bermuara pada terjaga atau tidaknya eksistensi perusahaan.

Di tingkatan yang lebih mikro, namun sangat esensial, saat ini memotivasi pegawai juga menjadi tantangan tersendiri. Di titik tertentu, pandemi yang sudah berlangsung cukup lama  menimbulkan insecurity feeling yang akut. Anxiety melanda sebagian besar sejawat kita. Cemas terhadap potensi penularan Covid-19. Cemas mengenai keberlanjutan sumber nafkah. Cemas tentang sekolah anak-anak. Cemas atas ketidakjelasan masa depan.

Bukan cuma kecemasan yang perlu dikelola, namun juga kebosanan dan keterasingan yang menjadi akibat dari work from home (WFH) yang dilakukan karena keterpaksaan dan dalam periode yang relatif panjang.

Siapa yang bisa mengelola barisan SDM yang cemas dan jenuh itu agar dampak negatifnya terhadap produktifitas bisa ditekan? Jawabannya, empathetic leaders, para pemimpin yang mampu berempati. Para pemimpin dengan kualitas interpersonal skills yang tajam-terasah, sehingga mampu menjalankan coaching dan counselling yang intensif, namun efektif.

Jangan dilupakan, jauh sebelum pandemi menjadi persoalan yang mengemuka, memotivasi pegawai dan menjaga employee engagement sudah menjadi tantangan yang tidak ringan bagi para pemimpin bisnis kontemporer. Mengapa? Karena semua perusahaan berhadapan dengan the rise of millennials. Di tahun 2020 ini millennials sudah meliputi sekitar 75% dari pegawai. Membangun engagement mereka terhadap perusahaan adalah pekerjaan rumah yang menantang. Apalagi, beberapa survei mengindikasikan bahwa sekitar duapertiga pekerja millennials tidak berniat tinggal di perusahaan yang mempekerjakan mereka saat ini lebih dari lima tahun.

Sekelumit gambaran di atas menunjukkan betapa banyak hal yang harus dipelajari oleh para pemimpin bisnis hari ini. Visionary leadership perlu terus diasah, agar perusahaan bisa berteman dengan VUCA, dan menjadikannya peluang, bukan ancaman. Tak hanya berhenti di level mindset, berbagai tools perlu dikuasai, agar visi bisa dibumikan sampai ke tingkat yang executable. Agile method dan design thinking adalah sedikit contoh dari tools penting tersebut. 

Kemudian, para pemimpin bisnis juga perlu belajar strategic people management untuk memastikan SDM perusahaan terkelola sedemikian rupa, sehingga menjadi sumber daya saing berkelanjutan. Di samping itu, interpersonal skills, diikuti dengan coaching dan counselling skills, harus dipertajam. Tentunya, dilengkapi dengan pemahaman yang menyeluruh mengenai karakteristik millenials yang mendominasi proporsi pegawai.

Kesimpulannya, pandemi tidak menjadi alasan yang valid dan relevan untuk menunda, apalagi menghilangkan program-program leadership training bagi para pemimpin perusahaan di berbagai tingkatan. Sebaliknya, turbulensi dan ketidakpastian yang diciptakan pandemi ini justru meningkatkan urgensi leadership training.

Tantangannya adalah, bagaimana mengidentifikasi dengan tepat materi-materi leadership trainng yang dibutuhkan untuk menutup skills gap yang ada, di samping menciptakan berbagai metoda pembelajaran baru yang lebih efektif, dan relevan dengan berbagai limitasi yang ada di masa pandemi dan “new normal” saat ini. Peopleshift, hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan training need analysis yang mendalam dan menyeluruh, program-program leadership training yang diformulasikan oleh Peopleshift senantiasa didesain secara unik, sesuai dengan kebutuhan setiap perusahaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *