fbpx
Article

Pengen tetap terlihat asik dan professional saat public speaking menggunakan daring? Ikuti 2 Tips ini!

Di masa “new normal” ini, segala sesuatu yang daring menjadi trendy. Kerja daring, meeting daring, silaturahmi keluarga daring, sekolah dan kuliah daring, bahkan ujian skripsi dan wisuda juga daring. Bisa jadi, serba-daring ini menjadi experience yang seru. Tapi bisa jadi juga bagi sebagian orang justru tidak nyaman dan merepotkan. Bisa diduga bahwa yang lebih mudah menikmati adalah para millennials, sedangkan yang lebih resisten adalah generasi X ke atas.

Salah satu aktivitas yang ikut jadi daring adalah public speaking. Kapan saja kita berkemungkinan melakukan public speaking secara daring? Wah, banyak sekali. Beberapa di antaranya: presentasi kepada klien atau calon klien, menyampaikan analisis data yang diminta atasan, meeting rutin divisi kita di kantor, melakukan coaching dan counselling untuk anggota tim kita, dan mengisi online training atau webinar. Yang terakhir ini, belakangan menjadi sangat popular.

Pernah mengikuti online training atau webinar kan? Coba recall kembali ingatan Anda mengenai pengalaman yang dirasakan. Mungkin ada di antara kita yang mulai disergap rasa bosan setelah tiga puluh menit pertama. Atau bahkan lebih awal dari itu. Akhirnya apa yang kita lakukan? Ya betul, mematikan kamera video, sehingga kita bisa nyambi mengerjakan hal-hal yang lebih menarik, atau terasa lebih urgen, tanpa diketahui orang lain, termasuk si pembicara.

Sekarang coba Anda balik posisinya. Jika Anda yang jadi pembicara, lalu hampir semua audiens di webinar mematikan kamera video mereka, apa yang Anda rasakan? Bagaimana respon Anda? Mungkin sebagian ada yang spontan menjawab, “Ya sudahlah, pasrah saja. Yang penting saya tetap menyampaikan materi yang menjadi tugas saya.” Itu jawaban putus asa namanya. Ingat, ukuran keberhasilan yang paling mendasar dari public speaking adalah terbangunnya engagement dari audiens. Dalam konteks sesi daring, bisa jadi salah satu ukurannya adalah berapa banyak audiens yang tetap menyalakan kamera video tanpa diminta secara khusus untuk melakukan itu.

Menjadi public speaker secara daring yang handal memang membutuhkan pembekalan khusus. Teknik-teknik public speking dasar tidak cukup. Oleh karena itu, Peopleshift punya beberapa program pelatihan yang terkait dengan ini, mulai dari “Public Speaking that Connects,” “Powerful Online Public Speaking,” dan lain-lain.

Lalu apa yang harus dilakukan? Ingat kembali salah satu kaidah yang paling mendasar: “public speaking is all about the audience, not the speaker.” Audiens kita adalah manusia yang unik. Salah satunya dalam preferred sensory modality-nya, alias “jendela komunikasi utama”-nya. Ada orang visual, auditori dan kinestetik. Sebagai public speaker, kita wajib melayani ketiga kelompok orang tersebut.

Praktisnya bagaimana?

Pertama, physical appearance. Berpenampilan segar, rapi, dan terlihat antusias ketika tampil berbicara, sudah jelas merupakan kemestian. Tapi, perlu juga mengenakan pakaian yang cerah dan cukup menonjol, namun tetap pantas dan serasi. Ini satu trik untuk menjadi center of attention dari audiens yang menyaksikan Anda secara daring.

Hal yang kerap dilupakan oleh para pembicara daring adalah background. Pastikan betul background yang dilihat audiens tampil di belakang Anda benar-benar sejalan dengan posisi Anda, institusi yang Anda wakili, image yang ingin Anda bangun, dan/atau tema pembicaraan yang sedang Anda bawakan. Background ini bisa dipilih atau dibuat secara fisik, namun bisa juga dibuat secara virtual. Aplikasi online meeting seperti zoom menyediakan fitur untuk itu.

Di samping itu, melengkapi sesi public speaking Anda dengan slide presentasi yang powerful juga penting sekali. Slide yang baik adalah slide yang minim kata-kata. Gagasan lebih banyak disampaikan via gambar, grafik, dan foto. Kata-kata hanya berfungsi sebagai pelengkap, karena penjelasan verbal lebih disampaikan dalam public speaking Anda secara oral. Gunakan kombinasi warna yang pas dan konsisten, namun tidak terlalu meriah.

Masalah tampilan fisik, background, dan slide ini menjadi penting sebagai sarana untuk mengikat engagement dari orang-orang visual, yang konon mencakup 60% populasi audiens kita.

Kedua, voice projection. Teori menunjukkan bahwa dalam berkomunikasi, 93% understanding yang terbentuk di benak audiens dikontribusikan oleh non-verbal language. Komposisinya bisa dipecah lagi, di mana 55% disumbangkan oleh body language, termasuk posture, gesture, facial expression, dan body movement. Sedangkan 38% sisanya adalah voice projection, termasuk volume, tempo, ntonasi, ritme, dan jeda.

Dalam public speaking secara daring, tentunya body language agak terbatas untuk dimainkan. Oleh karena itu, voice projection harus digunakan dengan optima. Intinya, voice projection perlu betul-betul digunakan untuk menggambarkan maksud pesan yang ingin disampaikan, termasuk aspek emotion and feeling dari pesan tersebut. Ingat, aspek inilah yang paling penting bagi kelompok orang kinestetik, yang berdasarkan data mencakup setidaknya 30% dari populasi.

Masih terkait urusan voice, perlu diingat bahwa tempo yang terlalu cepat haram hukumnya. Rule of thumb yang bisa dijadikan patokan, ketika berbicara secara daring, berbicaralah dengan kecepatan 70%-80% dari saat Anda berbicara dalam format tatap muka offline. Mengapa? Bagaimanapun dalam sesi daring, lebih banyak noise yang bisa menganggu kemampuan audiens menangkap apa yang Anda sampaikan. Di samping itu, terdapat virtual space yang membatasi Anda dengan audiens. Anda tidak bisa mengatasinya misalnya dengan maju ke arah audiens, sebagaimana lazimnya dilakukan di sesi offline.

Dengan tempo berbicara yang lebih lambat, Anda berkesempatan mengatur nafas dengan lebih baik, dan memproduksi vokal dengan artikulasi yang lebih jelas dan bulat, sehingga para audiens, terutama mereka yang tergolong orang auditori, yang mencakup 10% dari populasi, bisa lebih terlayani dan terpuaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *