fbpx
Uncategorized

TANTANGAN EMPLOYEE ENGAGEMENT DI ERA NEW NORMAL

Semua pemimpin bisnis dan praktisi SDM tampaknya sepakat bahwa employee engagement adalah faktor yang sangat menentukan produktifitas dan kemampuan perusahaan untuk mewujudkan visinya.

Secara umum employee engagement didefinisikan sebagai sikap dan perilaku positif karyawan terhadap pekerjaan dan perusahaannya. Engagement yang tinggi lazimnya ditandai dengan semangat atau antusiasme dalam bekerja, dedikasi terhadap peran dan tugas yang diemban, dan kegigihan atau determinasi dalam mengatasi berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi dalam pekerjaan.

Pemahaman yang lebih lengkap tentang employee engagement bisa diperoleh dari model “Gallup Engagement Hierarchy.” Dalam model tersebut terdapat empat tingkatan employee engagement, yaitu kebutuhan dasar, dukungan manajemen, kerjasama, dan pertumbuhan.

Engagement di tingkat pertama, kebutuhan dasar, akan terbangun jika seorang pegawai memahami apa yang diharapkan perusahaan dari dirinya, dan ia merasa telah dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan pendukung pekerjaan yang dibutuhkan.

Di tingkat kedua, dukungan manajemen, engagement akan kuat jika pegawai merasa bahwa dirinya melakukan hal yang terbaik bagi perusahaan setiap hari, dan mendapatkan umpan balik yang berkualitas atas hasil kerjanya secara terus-menerus. Di samping itu, pegawai juga merasa bahwa atasannya peduli terhadap dirinya, dan ada orang-orang yang menyemangatinya untuk terus meningkatkan diri.

Di tingkat ketiga, kerjasama, engagement menuntut persyaratan yang lebih mendalam lagi, yaitu terjawabnya pertanyaan “do I belong?” Jawaban positif akan muncul jika pegawai merasa bahwa pendapatnya diperhitungkan. Di samping itu, tujuan perusahaan dirasa selaras dengan tujuan pribadinya, dan dia melihat bahwa rekan-rekan sejawatnya memiliki komitmen yang tinggi terhadap kualitas. Di sisi lain, kuatnya engagement di tingkat ketiga ini juga ditunjukkan dengan kondisi di mana pegawai merasa memiliki teman-teman baik di lingkungan kerjanya.

Lalu, bagaimana engagement di tingkat tertingginya, yaitu pertumbuhan, terbangun? Dalam hal ini nilainya akan positif jika pegawai merasakan adanya peningkatan quality of life yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir. Di samping itu, pegawai tersebut merasa memiliki kesempatan yang luas untuk belajar dan berkembang secara terus-menerus.

Dalam kondisi normal sebelum pandemi merebak, mungkin sebagian perusahaan sudah memiliki formula baku untuk membangun dan memperkuat employee engagement. Namun demikian, dominasi generasi milenial yang semakin terasa di hampir semua perusahaan, menuntut para pemimpin bisnis dan praktisi SDM mengkaji ulang formula baku tersebut. Banyak sekali riset yang telah menyimpulkan bahwa millennials memiliki pola pikir, gaya hidup, dan perilaku kerja yang sangat berbeda dari generasi di atasnya. Hal ini mungkin sekali membuat formula baku employee engagement menjadi usang.

Tantangan yang terkait dengan membangun dan memperkuat employee engagement ini menjadi semakin besar dengan adanya pandemi yang kemudian diikuti dengan new normal. Setidaknya ada tiga faktor yang menjadi penyebab. Pertama, pandemi membuat para pegawai berada dalam kondisi insecure, baik menyangkut kesehatan dan keselamatan mereka, maupun masa depan pekerjaan mereka. Kedua, sebagian bisnis menghadapi tekanan finansial yang tidak ringan, sehingga anggaran SDM pasti terpengaruh cukup signifikan. Ketiga, adanya keharusan melakukan physical distancing dan work from home.

Faktor- faktor tersebut memang tidak mudah untuk dikelola. Oleh karena itu, Peopleshift menyediakan sejumlah program pelatihan dan konsultansi yang bisa membantu perusahaan untuk mengatasi kondisi pandemi dan new normal ini dengan efektif.  Sementara itu, apa yang perlu dilakukan oleh perusahaan untuk setidaknya mampu mempertahankan employee engagement di masa pandemi dan new normal saat ini? Berikut beberapa tips yang bisa dicoba.

Pertama, pastikan bahwa perusahaan memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi pandemi ini, baik terkait dengan mitigasi risiko kesehatan, maupun mengelola turbulensi bisnis. Strategi tersebut harus disosialisasikan dengan jelas dan utuh kepada para pegawai secara berkala. Keterbukaan informasi yang diikuti dengan sikap tegas dan tegar dari manajemen, sangat dibutuhkan untuk menciptakan rasa aman bagi para pegawai. Di samping itu, perlu dibuat protokol kerja baru yang komprehensif dan detil, yang dijadikan panduan oleh seluruh pegawai dalam melaksanakan pekerjaan di masa new normal ini.

Kedua, coaching dan counseling  perlu dilakukan dengan lebih intensif. Perlu dipastikan bahwa setiap manajer menyediakan waktu yang memadai untuk berdialog dengan pegawai-pegawai yang ada di bawah koordinasinya. Di satu sisi, kesempatan tersebut digunakan untuk memperbaharui ekspektasi terhadap setiap pegawai. Pastikan setiap pegawai benar-benar memahami objectives yang harus dicapai, key results yang harus dihasilkan, dan aktivitas-aktivitas yang harus dilakukan untuk menghasilkannya. Di sisi lain, manajer juga perlu menyimak keluh-kesah setiap pegawai, dan membantu pegawai yang bersangkutan menemukan jalan keluar. Dengan kata lain, interaksi yang sifatnya informal, tidak terkait langsung dengan pekerjaan, perlu tetap dilakukan, walaupun mungkin secara daring.

Ketiga, pastikan bahwa program-program pembelajaran dan pengembangan tetap terselenggara dengan baik. Tentu saja kondisi pandemi dan keuangan perusahaan mengharuskan untuk memformulasikan ulang program-program yang ada, baik dari sisi tema dan konten, maupun teknis pelaksanaannya. Fokuslah pada program-program pengembangan hardskills yang selaras dengan strategi bisnis perusahaan, dan softskills yang bisa meningkatkan motivasi dan resilience para pegawai dalam menghadapi tekanan situasi.

Keempat, pastikan bahwa pegawai memiliki prasarana dan sarana pendukung yang dibutuhkan untuk bekerja secara optimal dalam kondisi new normal ini. Misalnya, karena sebagian besar pekerjaan mungkin dilakukan secara remote, pegawai membutuhkan laptop dan akses internet yang baik. Perusahaan perlu mencarikan solusi jika ada pegawai yang menghadapi kendala terkait hal tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *