Consultative Selling: Pengertian hingga Strategi Jitu untuk Menerapkannya

Consultative Selling: Pengertian hingga Strategi Jitu untuk Menerapkannya

Teknik penjualan memiliki banyak ragam, dan salah satu yang menarik adalah consultative selling alias penjualan konsultatif. Apa saja manfaat yang bisa didapat dengan menerapkan teknik ini? Lalu, bagaimana strategi jitu penerapannya?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anda perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan penjualan konsultatif itu. Simak uraian lengkapnya berikut ini!

Apa Itu Consultative Selling?

Consultative selling adalah salah satu faktor pembeda dalam ketatnya persaingan bisnis di era sekarang. Menurut toffeedev, penjualan konsultatif berkaitan erat dengan teknik penjualan yang fokus pada kebutuhan konsumen.

Teknik ini sangat penting untuk diterapkan, karena brand Anda bisa mendapat loyalitas konsumen setelah Anda memberikan bantuan untuk mengatasi masalah dan memenuhi kebutuhan mereka.

Di sisi lain, consultative selling juga bisa diartikan sebagai bentuk pendekatan dalam jual-beli yang menekankan dialog mendalam dengan calon pelanggan. Dari sini, tim penjualan akan tahu informasi seputar kebutuhan mereka, sehingga bisa segera menyesuaikan.

Sederhananya, penjualan konsultatif adalah teknik penjualan yang dilakukan dengan memberikan layanan konsultasi kepada calon pelanggan. Artinya, hubungan antara penjual dengan pembeli tidak sekadar untuk transaksi, tetapi juga saling bertukar pikiran guna mendapat nasihat, saran, maupun yang lainnya.

Teknik ini sangat relevan dalam aktivitas jual-beli modern. Jika di era sekarang Anda hanya mengandalkan teknik penjualan konvensional, maka Anda akan sangat ketinggalan.

Manfaat Consultative Selling

Dalam dunia marketing, teknik penjualan konsultatif memiliki beberapa manfaat. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Membangun Hubungan Jangka Panjang

Proses penjualan konsultatif pada dasarnya memang tidak sekadar fokus pada tahapan closing. Namun, ada hal yang jauh lebih penting dibanding itu, yakni membangun hubungan baik dalam jangka yang panjang.

Jika hanya fokus pada closing, maka pelanggan tidak akan ‘terikat’ dengan Anda. Bisa jadi ia hanya akan melakukan sekali transaksi, kemudian hilang entah ke mana.

Namun dengan teknik penjualan konsultatif, Anda bisa mendapat closing serta loyalitas pelanggan. Kemungkinan besar ia tidak hanya akan melakukan sekali transaksi, tetapi juga berlanjut ke transaksi-transaksi selanjutnya.

Consultative selling akan membuat pelanggan semakin paham terhadap produk yang ditawarkan. Bahkan, mereka juga akan mendapat berbagai masukan untuk menghadapi permasalahan yang dialami. Hal ini tentunya memperbesar peluang bagi penjual untuk mendapat pelanggan setia dan potensial.

2. Memberikan Pengalaman yang Baik bagi Pelanggan

Pelanggan yang sekadar membeli produk jelas tidak akan mendapat pengalaman apa pun, kecuali proses transaksi jual-beli seperti biasa. Namun dengan consultative selling, seorang pelanggan akan mendapat pengalaman berbeda yang lebih menarik.

Ia akan merasa lebih dihargai secara personal. Selain itu, ia juga akan mendapat informasi lebih lanjut dari sekadar yang diharapkan. Hal ini tentunya akan menjadi pengalaman yang berkesan bagi mereka dalam melakukan transaksi jual-beli.

3. Jadi Sarana Diferensiasi dengan Kompetitor

Kompetitor dalam dunia bisnis itu sangat banyak. Jika Anda melakukan pendekatan yang sama dalam menawarkan produk, maka akan sangat sulit mendapatkan pelanggan—apalagi yang setia. Oleh sebab itu, diperlukan diferensiasi dalam menerapkan teknik penjualan.

Consultative selling menjadi salah satu contohnya. Dengan teknik ini, Anda bisa memberikan layanan yang berbeda dari yang lainnya. Sesuatu yang berbeda sudah pasti lebih menarik dan lebih mampu memikat banyak perhatian, termasuk dari para pelanggan. 

Strategi Penerapan Consultative Selling

Setelah tahu betapa penting dan bermanfaatnya teknik penjualan konsultatif ini, Anda juga perlu memahami kiat dan strategi untuk menerapkan teknik ini dalam upaya marketing. Berikut beberapa di antaranya!

1. Mendalami Kebutuhan dengan Menjadi Pendengar yang Baik

Untuk sukses menjalankan teknik penjualan konsultatif, Anda tidak boleh mendominasi dalam berkomunikasi. Namun, jadilah seorang pendengar yang baik, sehingga bisa memahami permasalahan yang dialami calon pelanggan. Posisikan diri Anda sebagai seorang konsultan, bukan sekadar marketer.

2. Menghindari Metode Hard Selling, Fokus Pada Nilai Produk

Metode hard selling dalam penjualan itu dapat dimaknai sebagai metode yang penuh penekanan. Penerapan metode ini cenderung mendorong calon pelanggan untuk membeli produk yang sedang ditawarkan.

Nah, dalam teknik consultative selling, hal ini harus dihindari. Anda cukup fokus menjelaskan nilai-nilai yang ada pada produk yang ditawarkan sebagai upaya mengatasi masalah yang dialami calon pelanggan.

3. Ciptakan Kesan yang Menyenangkan

Mengingat penjualan konsultatif merupakan teknik yang akan berkesinambungan ke depannya, maka Anda perlu memberikan kesan yang menyenangkan kepada calon pelanggan. Hal ini akan membuat mereka nyaman untuk berkomunikasi lebih lanjut dengan Anda.

Salah satu cara menciptakan kesan tersebut ialah dengan memberikan senyuman saat pertama kali bertemu, tidak mengintimidasi, ramah dan sesekali melemparkan candaan, serta yang paling penting ialah menjadikan komunikasi tersebut seolah sebagai komunikasi antar-teman, bukan antara penjual dan pelanggan.

4. Rajin Follow-Up dan Memberi Dukungan Pelanggan untuk Mempertahankan Hubungan

Selanjutnya, pertahankan hubungan baik Anda dengan pelanggan dengan rajin melakukan follow-up. Oleh karena itu, Anda perlu mengetahui kontak pelanggan dan beberapa informasi dasar lainnya.

Dari situ, Anda bisa merajut kembali komunikasi. Tanyakan kabar, ucapkan selamat ulang tahun, berikan motivasi dan informasi menarik, juga hal-hal lainnya. Namun, semua itu harus dilakukan dalam jumlah yang terukur atau secukupnya, jangan sampai berlebihan.

5. Kisahkan Cerita Sukses dan Berikan Solusi yang Relevan

Dalam upaya mempromosikan produk kepada calon pelanggan, teknik consultative selling dapat dilakukan dengan memberikan cerita sukses dari orang-orang dalam mengatasi masalah serupa. Dari situ, Anda bisa masuk memberikan solusi dengan produk yang Anda tawarkan.

Untuk dapat melakukan hal tersebut, Anda perlu memiliki pemahaman yang baik dan mendalam terkait produk yang ditawarkan. 

6. Bangun Kepercayaan Berbasis Pengetahuan

Dalam menjalankan consultative selling, Anda juga harus membangun kepercayaan calon pelanggan. Hal ini bisa dilakukan dengan basis pengetahuan, sehingga calon pelanggan tidak akan memiliki keraguan terhadap berbagai informasi yang Anda sampaikan.

Oleh sebab itu, Anda harus mempelajari beragam masalah yang kerap dialami calon pelanggan dan berhubungan dengan produk yang Anda tawarkan.

7. Ambil Kendali Atas Percakapan

Terakhir, ambillah kendali atas percakapan yang dilakukan dengan calon pelanggan. Namun, jangan sampai terlalu mendominasi. Pastikan calon pelanggan tetap memiliki kesempatan untuk menceritakan keluh kesah terkait permasalahan yang dihadapi, dan Anda menempatkan diri sebagai konsultan yang penuh empati.

Mengambil kendali atas percakapan berarti Andalah yang menentukan ke mana arah percakapan tersebut akan dibawa.

Mengingat peran Anda adalah sebagai seorang penjual yang sedang menerapkan teknik penjualan konsultatif, bawalah percakapan ke arah proses transaksi. Jangan justru menjadi ajang curhat belaka yang tak memberikan keuntungan apa-apa bagi Anda.

Itulah uraian lengkap mengenai consultative selling, meliputi pengertian, manfaat, serta strategi untuk menerapkannya. Setelah tahu semuanya, juga memahami betapa pentingnya teknik penjualan ini, kini Anda bisa mulai mencoba menerapkannya guna meningkatkan penjualan produk dalam usaha Anda.

Pastikan Anda melakukan proses ini secara sabar, karena consultative selling bukanlah teknik instan yang dapat langsung dirasakan hasilnya.

Mengenal Customer Journey Mapping dan Tahapannya

Mengenal Customer Journey Mapping dan Tahapannya

Bagi sebuah bisnis, pelanggan merupakan salah satu komponen terpenting yang berperan dalam memajukan perusahaan. Pasalnya, kepuasan pelanggan berhubungan erat dengan aktivitas penjualan serta brand image yang dimiliki perusahaan. Salah satu caranya adalah dengan membuat customer journey mapping atau pemetaan perjalanan pelanggan.

Customer journey mapping merupakan suatu cara yang digunakan untuk memahami perjalanan pelanggan Anda, saat pertama kali mengenal brand hingga menjadi pelanggan setia. Memahami customer journey memudahkan perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengambil tindakan yang tepat dalam menghadapi kendala pelanggan saat berinteraksi dengan brand. 

Dengan membuat pemetaan (mapping) ini, Anda dapat meningkatkan pengalaman pelanggan dan memberikan dampak positif untuk bisnis Anda. Pada artikel ini akan membahas apa itu customer journey mapping, alasan mengapa bisnis harus membuat customer journey mapping, dan apa saja tahapannya. 

Apa Itu Customer Journey Mapping?

Customer journey mapping merupakan visual yang merepresentasikan alur proses perjalanan pelanggan saat berinteraksi dengan brand Anda. Perjalanan ini dimulai dari saat pertama kali mengetahui brand, mencari tahu produk-produknya, hingga pada akhirnya memutuskan untuk membeli produk.

Sering kali dalam berinteraksi dengan brand, pelanggan memiliki persepsi tertentu yang memengaruhi perasaan (puas, kecewa, dan sebagainya) dan kemudian memengaruhi tindakan mereka selanjutnya. 

Misalnya setelah melakukan pembelian, apakah pelanggan merasa puas dengan produk Anda? Apakah pelanggan akan membeli produk lainnya? Atau pelanggan merasa tidak puas dan akan menulis ulasan buruk dan tidak mau menggunakan produk Anda lagi?

Pertanyaan-pertanyaan di atas dapat menjadi salah satu contoh yang digunakan untuk membantu memahami pola pikir pelanggan. Dari hasil analisis tersebut, Anda dapat mengoptimalkan pengembangan produk dan melakukan strategi pemasaran yang tepat. Pada akhirnya, hal ini dapat meningkatkan penjualan dan meningkatkan brand image Anda.

Mengapa Customer Journey Mapping itu Penting?

Dengan membuat pemetaan, Anda dapat memvisualisasikan pengalaman yang dialami pelanggan saat berinteraksi dengan brand Anda. Membuat customer journey mapping  dapat memudahkan Anda dalam memahami perspektif pelanggan sehingga dapat mengetahui apa saja yang menjadi pain points dalam setiap langkah perjalanan mereka.

Sebagai contoh, banyak pembeli online yang meninggalkan troli belanja mereka dan tidak jadi melakukan pembelian. Hal ini membuktikan bahwa perjalanan pelanggan pada tahap consideration tidak selalu berakhir dengan pembelian.

Informasi tersebut kemudian dapat menjadi insights penting untuk membantu Anda dalam mengidentifikasi kendala pelanggan serta dapat mengambil solusi yang tepat dan efektif. Secara sederhana, melakukan pemetaan ini dapat membantu bisnis Anda untuk meningkatkan pengalaman pelanggan saat berinteraksi dengan brand Anda.

Tahapan Customer Journey Mapping

Agar dapat memahami cara membuat customer journey mapping, berikut ini merupakan langkah-langkah yang harus diketahui dalam setiap perjalanan pelanggan, yakni:

  1. Awareness

Tahap ini merupakan tahap pertama saat pelanggan baru menyadari kehadiran suatu produk maupun brand yang Anda miliki. Umumnya, hal ini terjadi ketika Anda melakukan pengenalan produk menggunakan strategi marketing baik secara online maupun offline.

  1. Interest / Consideration

Jika pelanggan mulai tertarik dengan brand Anda dan ingin mengetahui lebih lanjut mengenai produk-produk Anda, pelanggan telah berada pada tahapan kedua, yaitu interest. Agar tahapan ini berjalan dengan lancar, bisnis perlu menampilkan review positif, deskripsi produk, kontak customer service dan penunjang lainnya.

  1. Decision

Bila pelanggan merasa cocok dengan produk yang Anda tawarkan, ia sudah melangkah ke tahapan terakhir, yaitu decision. Pada tahap ini, pelanggan sudah menemukan pilihan yang tepat, maka bisnis harus menawarkan kemudahan dalam pembuatan akun, kemudahan opsi pembayaran, serta kemudahan dalam melakukan proses checkout.

 

Menggunakan customer journey mapping sangat membantu Anda untuk dapat meningkatkan pengalaman pelanggan dengan memahami pain points yang dirasakan oleh mereka. Meski demikian, membuat serta menganalisis customer journey mapping memerlukan upaya yang lebih sehingga dapat menjadi tantangan tersendiri bagi Anda.