Unconscious Bias dan Cara Mengatasinya

Unconscious Bias dan Cara Mengatasinya

Di dunia kerja, keputusan menjadi salah satu pondasi penting. Terutama bagi divisi perekrutan, atau HRD. Umumnya, tugas HRD adalah mengambil keputusan dalam menentukan kandidat mana yang cocok untuk menjadi karyawan. Namun pada praktiknya, keputusan HRD tidak jarang dipengaruhi oleh unconscious bias atau bias yang tidak disadari.

Unconscious Bias dalam Proses Perekrutan

Bias yang tidak disadari biasanya terbentuk dalam pikiran. Hal ini membuat persepsi seseorang terhadap orang lain menjadi subjektif. Dalam proses rekrutmen, bias semacam ini akan menimbulkan hal negatif. Hal ini disebabkan oleh pengambilan keputusan yang dibuat berdasarkan pendapat personal. 

Kondisi semacam ini jelas diskriminatif terhadap satu atau sekelompok orang. Kandidat bisa kehilangan peluang kerja karena beberapa faktor tertentu jika dinilai berdasarkan bias. Bias sendiri biasanya terjadi di luar kesadaran, karena berasal dari persepsi, emosi bawah sadar, dan stereotype tertentu.

Dampak Unconscious Bias Terhadap Proses Perekrutan

Mereka yang bekerja sebagai HRD seharusnya tahu, bahwa bias dalam perekrutan punya beberapa dampak yang tidak diinginkan perusahaan, di antaranya:

  1. Mempersempit kesempatan menemukan kandidat potensial dengan kualifikasi sesuai kebutuhan.
  2. Meningkatkan risiko memperoleh karyawan tidak profesional tanpa skill yang menghambat produktivitas perusahaan.
  3. Membengkaknya biaya perekrutan akibat seringnya karyawan yang keluar karena kurang kompeten.

Untuk menghindari dampak bias yang tidak disadari, kita perlu mengetahui macam-macam bias yang biasanya muncul dalam proses perekrutan.

Jenis Unconscious Bias yang Sering Terjadi 

Berdasarkan situs rekrutmen profesional, Harver, ada beberapa jenis unconscious bias dalam proses perekrutan, yaitu:

1. Confirmation Bias

Dalam merekrut, seorang HRD berpotensi membuat keputusan cepat berdasarkan asumsi pribadinya ketika melihat seorang kandidat. Akibatnya, HRD akan mengajukan pertanyaan yang tidak relevan bahkan tidak berhubungan dengan kualifikasi yang sedang dicari perusahaan. Bias ini dikenal dengan confirmation bias

2. Beauty Bias

Diakui atau tidak, manusia cenderung lebih subjektif terhadap orang dengan penampilan fisik cantik atau tampan. Secara tidak sadar, mereka berasumsi bahwa hal ini berpengaruh terhadap bagaimana cara mereka bekerja. Padahal, itu tidak sepenuhnya benar. Beauty bias hanya berlaku pada lini kerja di mana penampilan menarik dibutuhkan, seperti model atau show girl.

3. Similarity Attraction Bias

Salah satu sifat asli manusia adalah dikelilingi oleh orang-orang yang mirip dengan mereka, baik soal preferensi, latar belakang, ataupun sifat. Hal inilah yang memunculkan adanya similarity attraction bias dalam sebuah proses perekrutan. 

4. Overconfident Bias

Berkutat di satu pekerjaan dalam waktu lama kerap membuat seseorang menjadi percaya diri terhadap kemampuannya dalam bidang tersebut. Hal ini juga bisa terjadi pada staf HRD. Sayangnya, kepercayaan diri tinggi bisa menimbulkan bias yang membuat objektivitas berkurang. Kondisi ini dikenal sebagai overconfident bias dalam proses perekrutan.

5. Judgement Bias

Seperti confirmation bias, baiknya sebuah keputusan dalam merekrut tidak dilakukan berdasarkan satu atau dua hal saja. Sadar atau tidak, hal tersebut akan membangun stereotype tertentu yang membuat kita enggan mencari tahu potensi dan keterampilan seorang kandidat. Dari sinilah judgement bias muncul.

Tips Menghindari Unconscious Bias dalam Proses Rekrutmen

Untuk menghindari munculnya bias dalam proses perekrutan, ada beberapa tips yang bisa dilakukan oleh HRD. Di antaranya:

  1. Membuat standarisasi pertanyaan sesuai kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan agar tidak muncul pertanyaan personal yang dapat menimbulkan bias.
  2. Melibatkan divisi terkait pada proses pengambilan keputusan supaya kandidat yang dipilih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
  3. Menggunakan instrumen yang sesuai pada proses perekrutan untuk mendapatkan kandidat terbaik. Misalnya, mempertimbangkan portofolio hasil karya untuk posisi desain grafis di perusahaan.

Bagi kebanyakan orang, unconscious bias mungkin dianggap sebagai sesuatu yang wajar. Namun, bicara profesionalitas, hal ini tidak seharusnya terjadi. Apalagi jika ingin perusahaan berkembang menjadi lebih besar. Semoga bermanfaat.

Comments are closed.