Assertive vs Aggressive dalam Komunikasi, Mana yang Lebih Baik?

Assertive vs Aggressive dalam Komunikasi, Mana yang Lebih Baik?

Kalau Anda perhatikan baik-baik, saat seseorang berbicara, ia akan melakukan beberapa jenis gaya. Ada yang berbicara secara tegas, ada pula yang cara bicaranya sangat menggebu-gebu.

Nah, hal tersebut merupakan bentuk dari gaya komunikasi assertive (asertif) dan aggressive (agresif). Untuk memahami kedua jenis gaya ini, mari simak uraian berikut hingga selesai!

Mengenal Komunikasi Assertive vs Aggressive?

Sekilas, antara komunikasi yang tegas dan menggebu-gebu tampak serupa. Namun demikian, jika kedua hal tersebut dipahami secara lebih mendalam, kita bisa melihat perbedaan yang signifikan.

Apa itu komunikasi assertive? Untuk memahami ini, Anda harus tahu dulu apa yang dimaksud dengan assertive. Secara umum, assertive adalah ketegasan. Jika dikaitkan dengan komunikasi, hal ini termasuk cara berkomunikasi yang jelas, langsung, serta konstruktif.

Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini memiliki keyakinan bahwa pendapatnya dan pendapat orang lain sama-sama penting untuk dipertimbangkan dan dihormati.

Dengan kata lain, komunikasi asertif merupakan komunikasi yang dilakukan secara tegas, tetapi tetap menunjukkan rasa hormat, sehingga hal ini termasuk sesuatu yang positif.

Sementara itu, apa yang dimaksud komunikasi aggressive? Secara umum, komunikasi aggressive kerap dikonotasikan sebagai gaya komunikasi yang negatif. Kondisi ini terjadi karena dalam praktiknya orang-orang yang melakukan gaya komunikasi ini menyimpan emosi kemarahan dalam diri.

Meski demikian, mereka tetap bersikap tenang guna menutupi emosi tersebut agar bisa mengendalikan lawan bicaranya. Orang-orang yang berkomunikasi dengan gaya ini cenderung hanya mengutamakan pendapat diri sendiri tanpa peduli pendapat dari orang lain.

Perbedaan Komunikasi Assertive vs Aggressive

Dari uraian di atas, dapat sedikit disimpulkan kalau perbedaan mendasar antara komunikasi assertive dan aggressive terletak pada cara penggunanya dalam menghadapi pendapat orang lain.

Assertive berarti peduli dan menghargai pendapat orang lain, sementara aggressive tidak, alias hanya mementingkan pendapat diri sendiri.

Di samping itu, perbedaan komunikasi assertive dan aggressive dapat ditinjau dari cirinya masing-masing.

Ciri Komunikasi Assertive

  • Dapat mengekspresikan diri dengan jelas.
  • Mampu menjaga batasan saat menyampaikan suatu informasi.
  • Mampu untuk menolak atau berkata, “Tidak.”
  • Bisa digunakan untuk mengelola konflik yang konstruktif.
  • Menunjukkan bentuk penghargaan pada diri sendiri dan orang lain.
  • Mampu menjadi pendengar yang baik.
  • Cukup tenang dan terkendali.
  • Tidak ragu untuk meminta bantuan atau dukungan.

Ciri Komunikasi Aggressive

  • Ekspresi yang ditunjukkan adalah kemarahan.
  • Mengintimidasi lawan bicara secara fisik atau verbal.
  • Tidak menunjukkan kepedulian pada perasaan orang lain.
  • Menunjukkan reaksi yang berlebihan.
  • Tidak menghormati batas pribadi orang lain, sehingga sering menyerang ranah pribadi mereka.
  • Mendominasi.
  • Sulit digunakan untuk mengelola konflik.
  • Manipulatif.
  • Tidak empati.
  • Polanya selalu berulang.

Metode Komunikasi Assertive vs Aggressive

Setelah memahami pengertian dan perbedaan komunikasi assertive dan aggressive, kini saatnya memahami tentang metode yang digunakan.

Secara umum, metode komunikasi assertive dilakukan secara tenang dan terstruktur, apa yang ingin disampaikan sudah disusun sedemikian rupa.

Sementara itu, metode komunikasi aggressive adalah kebalikannya. Biasanya disampaikan secara impulsif, kata-katanya terdengar mengintimidasi, dan tidak memberikan kesempatan pada lawan bicara untuk berpendapat.

Perhatikan contoh ungkapan berikut ini:

  1. “Saya sangat menghargai tawaran bantuan yang Anda berikan. Namun maaf, saya ingin mencoba menyelesaikan pekerjaan ini sendiri dulu agar bisa menjadi sarana belajar.”
  2. “Saya bisa menyelesaikan pekerjaan ini sendiri, tidak perlu bantuan.”

Poin nomor 1 menunjukkan gaya komunikasi assertive, sementara poin nomor dua merupakan contoh gaya komunikasi aggressive.

Keduanya sama-sama bentuk penolakan atas suatu bantuan, tetapi poin 1 disampaikan secara tegas dan tetap memberikan rasa hormat pada lawan bicara, sementara poin 2 terkesan angkuh dan tidak menghargai.

Demikian uraian mengenai dua gaya komunikasi yang kerap digunakan oleh orang-orang dalam beraktivitas sehari-hari maupun pekerjaan. Jika disimpulkan dari uraian di atas, maka gaya komunikasi assertive bisa dibilang lebih baik dibanding gaya komunikasi aggressive.

Oleh sebab itu, sebaiknya Anda melatih diri untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara assertive, sekaligus mengendalikan diri untuk menghindari gaya komunikasi aggressive.

Managing Conflict: Contoh Praktik Terbaik Untuk Mengoptimalkan Tempat Kerja

Managing Conflict: Contoh Praktik Terbaik Untuk Mengoptimalkan Tempat Kerja

Konflik di tempat kerja bisa terjadi karena berbagai alasan, mulai dari perbedaan pendapat, kepribadian, sudut pandang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebuah konflik bisa berlarut-larut apabila tempat kerja tersebut tidak tahu caranya melakukan managing conflict yang baik dan benar. Mau tempat kerja Anda tetap kondusif dan nyaman ketika sedang terjadi konflik di tempat kerja? Simak cara-cara berikut ini.

Kiat-kiat Managing Conflict

Komunikasi Terbuka dan Jujur

Komunikasi adalah kunci utama dalam managing conflict. Pastikan semua pihak yang terlibat memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka secara terbuka dan jujur. Dengarkan dengan penuh perhatian dan hindari interupsi saat orang lain berbicara. Dengan cara ini, setiap individu merasa dihargai dan didengar, yang dapat meredakan ketegangan.

Identifikasi Akar Masalah

Sering kali, konflik muncul dari masalah yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Penting untuk mengidentifikasi akar masalah tersebut. Lakukan analisis mendalam untuk memahami penyebab sebenarnya dari konflik. Ini bisa melibatkan diskusi dengan pihak yang terlibat atau mengamati dinamika tim secara keseluruhan.

Tetapkan Aturan dan Batasan

Supaya konflik yang sedang terjadi tidak akan berlarut-larut atau muncul konflik baru di kemudian hari, tetapkan aturan dan batasan yang jelas di tempat kerja. Contohnya, semua pihak harus sepakat untuk tidak menggunakan kata-kata kasar atau menyerang secara pribadi ketika konflik sedang berlangsung untuk menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.

Fokus pada Solusi, Bukan Masalah

Alih-alih berfokus pada masalah, arahkan perhatian pada solusi. Diskusikan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi dan mencegah konflik serupa di masa depan. Berpikir secara konstruktif dan kreatif dapat membantu menemukan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak.

Gunakan Pendekatan Mediasi

Kita bisa meminta tolong jasa mediator ketika konflik yang sedang terjadi tidak bisa diselesaikan oleh pihak yang terlibat. Karena seorang mediator biasanya berasal dari luar perusahaan atau dari dalam organisasi, mereka bisa dipercaya untuk bertindak lebih adil untuk menyelesaikan konflik itu.

Berikan Pelatihan Manajemen Konflik

Sebelum munculnya sebuah konflik, tempat kerja harus menyediakan pelatihan seperti negosiasi dan sebagainya untuk memberi jalan keluar ketika sedang terjadi konflik di tempat kerja. Pelatihan ini juga bisa mencakup cara-cara komunikasi yang efektif sehingga tidak perlu terjadi konflik.

Tetap Tenang dan Profesional

Managing conflict dengan kepala dingin dan profesionalisme adalah kunci. Hindari menunjukkan emosi berlebihan seperti marah atau frustrasi. Tetap tenang membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penyelesaian masalah karena tindakan emosional sering kali hanya memperburuk situasi.

Evaluasi dan Tindak Lanjut

Ketika sebuah konflik telah diselesaikan, lakukan evaluasi secara menyeluruh untuk memahami apa yang berjalan dengan baik dan yang perlu diperbaiki sehingga kita tahu apakah strategi pemecahan konflik itu berjalan dengan baik atau tidak. Evaluasi ini juga berguna untuk mencegah konflik di masa depan.

Bangun Budaya Kerja yang Positif

Menciptakan budaya kerja yang positif dapat mencegah konflik. Budaya kerja yang menghargai kerja sama, komunikasi terbuka, dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat dapat mengurangi kemungkinan terjadinya konflik. Promosikan nilai-nilai ini melalui tindakan sehari-hari dan kebijakan perusahaan.

Sediakan Waktu untuk Rekreasi Tim

Tempat kerja perlu melakukan kegiatan rekreasi dalam rangka team building sehingga hubungan antar anggota tim dapat menjadi semakin erat. Aktivitas ini juga bisa membantu para anggota tim untuk mengenal diri satu sama lain di luar tempat kerja.

Tanpa adanya cara-cara managing conflict yang efektif di tempat kerja atau di mana saja, situasi di tempat kerja bisa menjadi tidak kondusif dan tidak nyaman bagi siapa pun yang bekerja di sana. Selama kita bisa belajar dari kiat-kiat di atas, konflik yang bisa terjadi karena perbedaan pendapat atau alasan lainnya bisa segera diatasi untuk menjaga kenyamanan tempat kerja kita semua.

7 Strategi Conflict Resolution di Tempat Kerja

7 Strategi Conflict Resolution di Tempat Kerja

Konflik di tempat kerja merupakan hal yang wajar terjadi. Jika konflik terjadi di tempat kerja, langkah terbaik adalah segera menyelesaikannya agar konflik tidak memburuk. Di sini, ada beberapa strategi conflict resolution di tempat kerja yang dapat diikuti.

Mencari Tahu Asal Konflik

Sering kali konflik tersebar lewat rumor. Semua orang membicarakan tentang konflik tetapi tidak mengetahui dari mana asalnya. Karena itu, saat terjadi konflik di tempat kerja, Anda harus mencari tahu asal konflik tersebut.

Tahu asal konflik akan membuat Anda memahami bagaimana konflik itu muncul. Anda juga jadi tahu orang-orang yang terlibat dengan konflik. Cara untuk mencari tahunya dengan memberikan pertanyaan pada orang yang terlibat dan mengetahui konflik sampai Anda memahami duduk masalahnya.

Mendengarkan Lebih Dari Satu Pihak

Conflict resolution tak bisa tercapai bila hanya mendengarkan satu pihak saja; itulah mengapa, Anda harus mendengarkan semua pihak. Namun, pastikan Anda tidak mengonfrontasi yang akan membuat orang lain tidak nyaman dan kehilangan kepercayaan.

Cara terbaik yaitu ajak mereka ke tempat yang lebih privat sehingga mereka bisa leluasa menceritakan masalah. Selanjutnya, pastikan setiap pihak memiliki waktu yang cukup untuk berbicara. Biarkan mereka mengeluarkan pandangan terhadap konflik agar perkaranya semakin jelas tanpa menunjukkan sikap berpihak. 

Menunjukkan Empati

Empati mengacu pada kemampuan dalam menempatkan diri pada posisi orang lain untuk memahami apa yang mereka rasakan serta melihat dari sudut pandang mereka. Menunjukkan empati membuat Anda memahami setiap pihak tanpa harus setuju pada salah satunya.

Bila Anda bersikap sebagai mediator, Anda dapat mendorong setiap pihak untuk menunjukkan empati mereka. Misalnya, dengan meminta mereka untuk mencoba melihat dari sudut pandang satu sama lain, menjelaskan bagaimana pikiran dan perasaan pihak lain serta membayangkan situasi di mata pihak lain.

Mengelola Emosi

Apabila Anda ingin menemukan conflict resolution, maka Anda tidak boleh terbawa emosi. Itu tandanya Anda harus bersikap netral selama mencari solusi masalah. Emosi yang meluap-luap akan mendorong munculnya penghinaan dan ketegangan yang berakhir memperburuk masalah.

Beberapa cara untuk mengelolanya dengan bersikap tenang, sabar, jujur dan memahami saat seseorang memiliki kepribadian sulit. Tidak hanya emosi Anda sendiri, Anda juga perlu menahan emosi pihak yang terlibat konflik supaya mereka bisa mencapai kesepakatan tanpa dipengaruhi reaksi emosional.

Menginvestigasi Konflik

Setelah Anda mendengarkan dari semua pihak, kini saatnya Anda melakukan investigasi konflik dengan menyeluruh. Dokumentasikan segala informasi dan bukti seperti foto, laporan masalah, pesan, video dan lainnya selama investigasi. Cobalah untuk mencari penyebab konflik yang mungkin terlewat pada awalnya.

Semua dokumen itu dikumpulkan untuk dianalisis sehingga dapat membuktikan apakah konflik benar terjadi atau tidak. Tidak hanya itu, hasil analisis dapat menentukan apakah perilaku pihak yang terlibat menyalahi peraturan perusahaan. 

Mendiskusikan Solusi Bersama

Saat investasi selesai dilakukan, langkah conflict resolution berikutnya yaitu mendiskusikan solusi masalah. Anda bisa membawa pihak-pihak yang terlibat konflik untuk mencapai tujuan bersama. Komunikasi yang baik diperlukan pada bagian ini karena Anda akan bertukar banyak pikiran sampai pilihan terbaik ditemukan.

Cari kesamaan yang ingin diraih setiap pihak agar mereka mampu bekerja sama untuk menyelesaikan konflik. Kemudian, tentukan tanggung jawab yang harus dipatuhi setiap pihak dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Mengevaluasi dan Melakukan Conflict Resolution

Dari penyelesaian konflik yang ada, Anda dapat mengevaluasi akar konflik sehingga tindakan pencegahan bisa dilakukan. Petiklah pelajaran dari konflik tersebut serta cara Anda menyelesaikannya untuk memastikan jika masalah tidak muncul kembali. Selain itu, tentukan mana proses penyelesaian konflik yang paling tepat di tempat kerja Anda.

Penutup

Konflik menjadi bagian kehidupan sehari-hari baik secara personal atau profesional. Karena itu, kemampuan conflict resolution sangat dibutuhkan demi menciptakan tempat kerja yang kondusif dan nyaman untuk semua pihak.