Memahami Karakter Change Leadership yang Dapat Memajukan Perusahaan

Memahami Karakter Change Leadership yang Dapat Memajukan Perusahaan

Apa yang dimaksud dengan change leadership?

Ada banyak komponen yang dapat memengaruhi sebuah organisasi atau perusahaan. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa jiwa kepemimpinan atau leadership merupakan hal yang paling signifikan dalam meningkatkan progres sebuah organisasi dan perusahaan.

Jiwa kepemimpinan yang baik dapat memperkuat kinerja tim dan juga menyelaraskan langkah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satu karakteristik kepemimpinan ideal di dalam organisasi atau perusahaan masa kini adalah change leadership.

Change leadership merupakan konsep kepemimpinan yang mengacu pada kemampuan seseorang untuk memimpin dan mengelola perubahan dalam sebuah organisasi (Anderson, 2022).

Hal tersebut tidak terbatas pada senantiasa membuat perubahan, tetapi juga tentang memastikan bahwa perusahaan senantiasa dapat bertahan perubahan tersebut diterapkan dengan sukses dan berdampak positif bagi perusahaan.

Peran seorang pemimpin dalam mengelola perubahan sangat penting guna memastikan keberlangsungan perusahaan.

Mengenal Berbagai Komponen Change Leadership

Membangun change leadership bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi dengan memahami komponen-komponen ini, Anda dapat menerapkannya di perusahaan atau organisasi Anda secara bertahap.

Visi yang Jelas

Untuk menerapkan Change Leadership di perusahaan, pertama-tama Anda harus membangun visi yang jelas tentang arah yang ingin dicapai melalui perubahan tersebut.

Seorang pemimpin harus mampu mengomunikasikan visi dan misi ini secara efektif kepada seluruh tim agar semua anggota tim Anda dapat memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan perubahan yang ingin dilakukan oleh perusahaan.

Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang efektif merupakan kunci dalam membuat suatu perubahan. Pemimpin harus mampu berkomunikasi secara terbuka dan jelas dengan seluruh tim, menyampaikan informasi tentang alasan di balik perubahan, manfaat yang diharapkan, dan menjelaskan  peran masing-masing individu dalam mewujudkan perubahan tersebut.

Empati dan Engagement

Pemimpin yang ingin menerapkan change leadership wajib memiliki tingkat empati yang tinggi terhadap semua anggota tim dalam merespons perubahan.

Sebagai pemimpin, penting bagi Anda untuk bisa mendengarkan anggota tim dengan baik serta mengakomodasi saran dan kritik anggota tim. Selain itu, Anda juga harus terlibat secara aktif dalam proses perubahan. Jangan lupa untuk menunjukkan komitmen dan dukungan terhadap tim Anda.

Pola Kepemimpinan yang Menginspirasi

Pemimpin yang efektif dalam mengelola perubahan adalah mereka yang mampu menginspirasi dan memotivasi tim untuk beradaptasi dan berkontribusi secara positif terhadap perubahan.

Maka dari itu, Anda harus menjadi contoh yang baik bagi mereka dan memimpin dengan penuh rasa bijak. Jangan lupa untuk menciptakan lingkungan yang mampu mendorong inovasi dan kolaborasi.

Risk Mitigation

Pemimpin yang ingin mengusung change leadership harus memiliki pemahaman yang baik tentang risiko yang terkait dengan perubahan tersebut.

Anda harus mampu mengidentifikasi adanya hambatan di depan serta mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengelola risiko tersebut secara tenang dan proaktif.

Komitmen terhadap Sustainability

Perubahan merupakan proses yang berkelanjutan, dan pemimpin harus memiliki komitmen untuk terus belajar dan berkembang di sepanjang perjalanan ini.

Anda harus terbuka terhadap umpan balik dan saran serta bersedia untuk menyesuaikan strategi perusahaan/organisasi sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Kerjasama dan Kolaborasi

Pemimpin yang ingin menerapkan Change Leadership juga harus mampu membangun kerja sama dan kolaborasi yang kuat di antara anggota tim.

Anda harus berani untuk mendorong terciptanya sinergi antara berbagai divisi di perusahaan/organisasi dan individu, sehingga semua orang di dalamnya dapat bekerja sama untuk mengusung perubahan ke arah yang lebih baik.

Tentunya, Change Leadership memegang peran vital dalam memajukan perusahaan melalui perubahan. Namun, segala perubahan tentu membutuhkan proses, demikian pula Change Leadership.

Yang terpenting, dalam menjalankan prosesnya, Anda selaku pemimpin harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang komponen-komponen utama dari Change Leadership, sehingga Anda dapat memimpin perubahan dengan lebih efektif dan membawa perusahaan menuju kesuksesan jangka panjang.

 

Jangan lupa untuk menerapkan visi yang jelas, komunikasi yang efektif, empati, dan gaya kepemimpinan yang inspiratif agar Anda dan tim dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan saling bersinergi dalam menyambut berbagai perubahan.

Mengenal Agile Project Management: Komponen dan Manfaat

Mengenal Agile Project Management: Komponen dan Manfaat

Manajemen proyek di dalam sebuah perusahaan sangat penting untuk menciptakan kolaborasi yang optimal antaranggota tim dan mempermudah perusahaan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah Agile Project Management.

Agile Project Management adalah metode pengelolaan proyek yang terbuka terhadap semua anggota tim baik dari segi perencanaan proyek, product quality control, hingga sistem yang dipakai. Metode ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tim untuk selalu terlibat terhadap proyek dan menekankan transparansi.

Keterbukaan dalam agile project management juga bertujuan supaya pemimpin dan anggota tim dapat lebih adaptif terhadap perubahan serta dapat berdiskusi dengan lebih sehat untuk mencapai tujuan dengan lebih optimal.

 

Apa Saja Komponen Agile Project Management?

Manajemen ini menekankan kolaborasi yang kuat antara tim proyek, pelanggan, dan pihak terkait lainnya. Pendekatan ini berbeda dari metode tradisional seperti Waterfall, yang menekankan pada perencanaan yang ketat di awal proyek dan jarang mengakomodasi perubahan yang terjadi di tengah jalan.

Lalu, bagaimana langkah-langkah mewujudkan agile management?  Ikuti cara ini:

Menyusun Sprint Planning

Salah satu core value dari agile management adalah sprint. Dalam sprint ini, tim bekerja pada serangkaian tugas yang telah ditetapkan sebelumnya dalam periode waktu tertentu, biasanya satu hingga empat minggu. Proses perencanaan sprint salah satunya meliputi identifikasi tugas-tugas yang akan diselesaikan selama masa sprint tersebut berlangsung.

Kolaborasi dan Komunikasi yang Aktif

Communication is the key, termasuk dalam penerapan agile management. Dorong kolaborasi dan komunikasi yang terbuka di antara anggota tim. Stand-up meetings, misalnya, yang dilakukan secara rutin, dapat membantu memastikan bahwa setiap anggota tim memahami tujuan dari proyek dan mengidentifikasi masalah apa pun yang mungkin mereka hadapi secepat mungkin.

Adaptasi Berkelanjutan

Agile Management berfokus pada respons terhadap perubahan yang cepat tanggap dan efektif. Kunci untuk menghadapi perubahan ini ada dalam evaluasi yang kontinyu dan terstruktur terhadap kinerja tim serta menyesuaikan planning berdasarkan feedback yang diterima.

Sosialisasi Pemahaman

Agar proses agile management ini dapat berjalan secara efektif, setiap anggota tim harus benar-benar memahaminya. Pemimpin perusahaan juga harus memainkan peran aktif dalam mendukung sosialisasi ini dan memastikan bahwa seluruh budaya perusahaan betul-betul mendukung prinsip-prinsip agile management.

 

Apa Saja Manfaat Agile Management?

Penerapan agile management yang terstruktur dan kontinyu dapat memberikan manfaat bagi perusahaan:

Adanya Fleksibilitas dan Adaptabilitas

Agile Project Management memungkinkan tim untuk lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan pelanggan atau kondisi pasar. Ini membantu proyek tetap relevan dan bernilai dalam lingkungan yang terus berubah.

Adanya Peningkatan Kualitas

Dengan flow singkat dan adanya feedback yang sifatnya kontinyu, tim di dalam perusahaan akan selalu memiliki kesempatan untuk terus-menerus memperbaiki dan meningkatkan kualitas pekerjaan.

Kepuasan Pelanggan yang Lebih Tinggi

Agile management tidak hanya berdampak baik pada kinerja tim saja, tetapi juga pada pelanggan yang menggunakan jasa/produk perusahaan Anda. Agile Project Management juga turut melibatkan pelanggan dan memastikan bahwa produk atau layanan yang dihasilkan benar-benar memenuhi kebutuhan dan harapan mereka. Hal ini tentu akan membuat pelanggan merasa dihargai dan membuat perusahaan mampu untuk lebih memahami pelanggan.

Meningkatkan Teamwork

Lewat kebiasaan seperti stand-up meetings dan sprint review, agile project management memastikan bahwa semua anggota tim memahami tujuan yang akan diraih dan saling bekerja sama dalam prosesnya. Kebiasaan tersebut tentu membantu memperkuat kolaborasi antaranggota dan mengurangi risiko kegagalan komunikasi.

 

Sudahkah Anda menerapkan agile project management pada tim Anda? Apabila Anda ingin membuat tim Anda lebih solid dan mampu mencapai tujuan perusahaan, maka Anda bisa segera merancang metode ini untuk usaha Anda.

Peran Innovation Labs dalam Meningkatkan Daya Saing Bisnis

Peran Innovation Labs dalam Meningkatkan Daya Saing Bisnis

Di era disrupsi seperti sekarang ini, inovasi menjadi kunci utama bagi perusahaan untuk bertahan dan berkembang. Innovation labs, atau sering juga disebut dengan istilah hubs, inkubator, atau akselerator, hadir sebagai wadah untuk mendorong lahirnya ide-ide baru dan inovatif yang dapat meningkatkan daya saing bisnis.

Lalu, apa sebenarnya innovation labs itu? Bagaimana perusahaan bisa memanfaatkan wadah ini sebagai cara untuk meningkatkan daya saing bisnis?

Apa Itu Innovation Labs?

Innovation labs adalah sebuah unit bisnis yang menerapkan berbagai metode untuk menghasilkan inovasi-inovasi bisnis yang diharapkan dapat menghasilkan gebrakan baru dalam industri. Di dalam innovation labs, tim yang terlibat akan melakukan proses kreatif seperti brainstorming dan design thinking untuk menemukan ide-ide baru yang mengarah pada inovasi.

Bagaimana Perusahaan Bisa Memanfaatkan Innovation Labs?

Perusahaan dapat memanfaatkan innovation labs dengan berbagai cara, di antaranya:

  • Mengembangkan produk dan layanan baru. Lab dapat menjadi tempat untuk mengembangkan produk dan layanan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk memasuki pasar baru serta memperluas jangkauan konsumen yang ada saat ini
  • Meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Dapat membantu perusahaan untuk menemukan cara baru untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasinya. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk menghemat biaya dan meningkatkan keuntungan
  • Meningkatkan budaya inovasi. Dapat membantu perusahaan untuk menciptakan budaya inovasi di mana karyawan didorong untuk selalu berpikir kreatif dan mencari ide-ide baru. Hal ini dapat membantu perusahaan untuk tetap terdepan dalam persaingan.

Bagaimana Peran Lab ini dalam Meningkatkan Daya Saing Bisnis?

Seperti yang sudah disebutkan di awal artikel, innovation labs merupakan wadah yang penting dalam mendukung inovasi. Inovasi sendiri merupakan kunci penting bagi sebuah bisnis untuk bisa memenangkan persaingan. Bagaimana kaitan antara innovation labs dengan peningkatan daya saing bisnis?

  • Membantu perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan. Dunia bisnis terus berubah dengan cepat. Innovation labs dapat membantu perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan ini dengan mengembangkan produk dan layanan baru yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang
  • Membantu perusahaan untuk menjadi lebih kompetitif. Dapat membantu perusahaan untuk menjadi lebih kompetitif dengan mengembangkan produk dan layanan yang lebih baik daripada produk dan layanan pesaing
  • Membantu perusahaan untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik. Talenta terbaik selalu mencari peluang untuk bekerja di perusahaan yang inovatif. Inovasi ini dapat membantu perusahaan untuk menarik dan mempertahankan talenta terbaik dengan menawarkan lingkungan kerja yang kreatif dan dinamis.

Agar semua tujuan ini dapat tercapai, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan maupun stakeholders:

  • Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, perusahaan perlu memastikan bahwa inovasi ini memiliki sumber daya yang memadai, seperti dana, staf, dan teknologi
  • Perusahaan juga perlu memastikan bahwa innovation labs terintegrasi dengan baik dengan strategi bisnis secara keseluruhan
  • Yang terpenting, perusahaan perlu menciptakan budaya yang mendukung inovasi, di mana karyawan didorong untuk selalu berpikir kreatif dan mencari ide-ide baru.

Dengan menerapkan strategi inovatif melalui innovation labs, perusahaan dapat memperkuat posisi kompetitifnya, beradaptasi dengan perubahan pasar, dan menarik talenta terbaik. Dengan dukungan yang tepat, labs dapat menjadi pusat penggerak inovasi yang membawa kesuksesan jangka panjang bagi perusahaan.

Mengenal Continuous Performance Management Beserta Tujuannya Customized Training Solutions

Mengenal Continuous Performance Management Beserta Tujuannya

Tujuan perusahaan perlu didukung oleh kinerja karyawan yang berkualitas. Cara kerja tersebut perlu diatur sedemikian rupa supaya performa karyawan bisa konsisten.

Karena itu, perlu adanya penerapan continuous performance management. Cara ini dianggap lebih adaptif ketimbang metode penilaian kinerja lainnya.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan manajemen kinerja berkelanjutan ini? Apa tujuan serta bagaimana cara penerapannya?

Yuk, kita simak pembahasan singkatnya dalam artikel ini.

Apa yang Dimaksud dengan Continuous Performance Management?

Dilansir dari LinovHR, manajemen kinerja berkelanjutan adalah sebuah proses manajemen yang memantau kinerja karyawan secara berkelanjutan dalam periode tertentu selama satu tahun.

Mengapa perlu adanya pengaturan seperti ini? Secara garis besar, hal ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas strategi bisnis perusahaan juga untuk mengukur kinerja karyawan dalam satu periode tertentu.

Pemantauan kinerja yang dilakukan secara konsisten akan menciptakan lingkungan kerja yang positif. Karyawan akan merasa dihargai karena menerima feedback mengenai pekerjaannya selama ini. Sementara itu, karyawan pun akan saling memberi masukan satu sama lain dalam melaksanakan tugas.

Tujuan Penerapan

Continuous performance management memang berperan untuk menjaga kualitas kinerja karyawan dan membantu perusahaan memenuhi target bisnisnya. Namun, ada sejumlah tujuan lain dari penerapan manajemen ini.

Apa saja tujuan tersebut? Berikut informasi yang dirangkum dari berbagai sumber.

1. Membangun relasi yang kuat antar karyawan

Manajemen kinerja ini mendorong komunikasi dua arah antar karyawan juga atasan. Komunikasi yang baik diperlukan agar semua elemen perusahaan memahami tujuan bisnis sehingga target akan lebih mudah tercapai.

Pada akhirnya, akan tercipta engagement yang kuat di lingkungan kerja.

2. Menekan tingkat turnover 

Pemantauan berkelanjutan harus diiringi dengan tindakan perbaikan atau evaluasi. Perbaikan yang rutin dilakukan akan meningkatkan kepuasan dari karyawan. Hal ini akan membantu menekan tingkat turnover di perusahaan.

3. Membentuk loyalitas karyawan

Feedback berkelanjutan yang dibarengi dengan evaluasi akan menumbuhkan rasa kepercayaan pada karyawan. Rasa percaya tersebut bisa membentuk loyalitas. Karyawan yang bekerja dengan penuh motivasi tentu akan memberi dampak positif pada performa bisnis. Target profit pun bisa lebih mudah dicapai.

Alur Manajemen Performa

Apa saja tahap yang harus kita penuhi dalam manajemen kinerja berkelanjutan? Karena dilaksanakan terus-menerus, tahap-tahap ini akan membentuk sebuah siklus. Seperti apa pelaksanaannya?

1. Tahap perencanaan

Pada tahap ini, atasan harus merumuskan tujuan perusahaan. Tujuan harus digambarkan secara lengkap dan detail, mulai dari target jangka panjang, jangka pendek, serta tindakan apa yang harus dilakukan untuk memenuhinya.

Informasi yang spesifik juga akan lebih mudah dipahami karyawan sehingga mereka bisa melakukan pekerjaan yang diharapkan perusahaan.

2. Tahap pengamatan

Selanjutnya adalah pengamatan. Tahap ini bisa dilakukan beberapa kali dalam setahun tergantung pada kebutuhan perusahaan. Saat monitoring, akan terlihat seberapa efektif strategi bisnis bisa diterapkan. Akan tampak pula bagian-bagian yang belum berjalan sesuai target sehingga perlu dicarikan solusi.

3. Peninjauan kembali

Tahap ini merupakan momen untuk menjalankan komunikasi dua arah antara karyawan dengan atasan. Semua pihak memiliki kesempatan untuk mengutarakan pendapat dan masukan.

4. Penghargaan

Terakhir, perusahaan sebaiknya tidak lupa memberi penghargaan pada semua pihak yang telah memberikan kontribusi. Reward akan menumbuhkan motivasi pada pekerja untuk terus meningkatkan kinerjanya. Selain itu, otomatis akan muncul kompetisi berkaitan dengan performa kerja. Pada akhirnya, hal ini akan menguntungkan perusahaan.

 

Continuous performance management penting diterapkan untuk menjaga, bahkan meningkatkan kualitas kerja karyawan. Kinerja yang baik tentu akan turut membantu perusahaan mencapai target bisnis yang telah ditetapkan.

Cara Kerja OKR, KPI, dan BSC dan Contoh Penerapannya

Cara Kerja OKR, KPI, dan BSC dan Contoh Penerapannya

Seperti apa jadinya kinerja organisasi tanpa Objective and Key Results, Key Performance Indicator, dan Balance Scorecard?

Seperti kita ketahui, tiga hal tersebut merupakan instrumen yang digunakan untuk mengukur kinerja karyawan, target, dan elemen lainnya dalam sebuah organisasi.

Tentu saja, pengukuran tersebut perlu dilakukan untuk membantu kita memenuhi tujuan atau target perusahaan.

Yuk, kita ulas fungsi OKR, KPI, dan BSC, cara kerja, serta contoh implementasinya.

Fungsi OKR, KPI, dan BSC

Sebenarnya apa saja fungsi OKR, KPI, dan BSC? Mengapa kedudukannya bisa begitu penting?

Fungsi OKR

Dilansir dari laman Glints, OKR adalah salah satu media pengukur keberhasilan perusahaan yang memiliki sejumlah fungsi penting. Peranan yang paling mendasar adalah membantu kinerja tim agar sejalan dengan tujuan perusahaan.

Selain itu, OKR juga berfungsi untuk membuat proses perencanaan berjalan lebih fleksibel. Hal ini lantaran alur tujuan yang relatif pendek sehingga membuka ruang untuk karyawan melakukan berbagai penyesuaian. Pada akhirnya, karyawan akan termotivasi untuk lebih terlibat sehingga produktivitas pun meningkat.

Fungsi KPI 

Lantas, apa saja fungsi dari KPI? Dirangkum dari laman detikedu, KPI tidak hanya berperan dalam mengukur pencapaian bisnis. KPI juga digunakan untuk menghasilkan data evaluasi karyawan dan bisnis secara jelas dan transparan.

Selain itu, sesuai dengan namanya, Key Performance Indicator dipakai untuk mengetahui seberapa besar peningkatan performa karyawan sekaligus seberapa efektif bisnis berjalan untuk mencapai target. Hasil pengukuran tersebut bisa menjadi motivasi seseorang untuk meningkatkan kualitas kerjanya sehingga sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

Fungsi BSC 

Sementara itu, BSC turut melibatkan hal-hal yang sering luput dari perhatian dalam mengukur keberhasilan bisnis. Contohnya adalah tingkat kepuasan pelanggan dan budaya kerja perusahaan.

Sama halnya seperti OKR dan KPI, BSC juga memiliki sejumlah fungsi yang esensial. BSC memperjelas alur strategi bisnis perusahaan hingga membantu kerja karyawan berjalan harmonis dengan tujuan perusahaan. Selain itu, BSC juga mendukung manajemen informasi berkualitas serta meningkatkan mutu pelaporan performa bisnis.

Cara Membuat OKR, KPI, dan BSC 

Apa saja langkah yang harus dilakukan untuk membuat tiga instrumen ini? Berikut informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Cara Membuat OKR 

Ada tiga langkah dalam pembuatan OKR, yakni:

  • Menetapkan tujuan.
  • Merinci key results atau langkah apa saja yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut.
  • Melakukan hal-hal yang dapat mewujudkan tujuan perusahaan.

Cara Membuat KPI

Sementara itu, penyusunan KPI sebaiknya mengikuti tahapan berikut:

  • Memiliki tujuan bisnis yang jelas.
  • Merinci tujuan bisnis, termasuk tenggat waktu dan cara apa yang akan digunakan untuk mencapainya.
  • Mengumpulkan data untuk indikator penilaian.
  • Membuat rumus KPI yang sesuai.
  • Menyajikan KPI dari data ke bentuk visual yang mudah dipahami. karyawan agar tujuan perusahaan bisa tercapai.

Cara Membuat BSC

BSC bisa dibuat dengan panduan template dan meliputi beberapa aspek seperti faktor internal, finansial, serta pertumbuhan dan perkembangan. Tahapannya adalah:

  • Menentukan visi.
  • Memperluas perspektif.
  • Tentukan tujuan dan ukuran untuk meraih hasil yang diinginkan.
  • Mengkomunikasikan BSC pada pihak-pihak terkait.

Contoh Penerapan OKR, KPI, dan BSC

Contoh OKR dalam divisi sales sebuah perusahaan misalnya:

  • Objective: 

Meningkatkan penjualan sebesar 3 miliar

  • Key results: .

Memperluas cakupan wilayah, mendapatkan penjualan sebesar Rp 250 juta per bulan, meningkatkan jumlah kontak telepon sebanyak 2500 untuk setiap agen sales, melakukan demo produk sebanyak 10 kali dalam satu pekan.

 

Sementara itu, contoh penerapan KPI untuk divisi human capital adalah sebagai berikut.

No Key Performance Indicator Unit Pengukuran  Target
1. Jumlah rekrutmen karyawan baru % 100
2. Penyelenggaraan pelatihan untuk karyawan baru angka 30 jam
3. Pembaruan data % 100
4. Administrasi karyawan % 100
5. Tingkat turnover % Maksimal 3

 

Bagaimana dengan penerapan BSC? Berikut adalah contohnya.

Perspektif Objektif Tujuan Indikator Inisiatif
Keuangan Meningkatkan laba Meningkatkan pendapatan perusahaan Laporan keuangan Menjalin kemitraan dengan perkreditan
Pelanggan Membuka layanan di marketplace Meningkatkan jumlah pelanggan dan penjualan Jumlah transaksi online Mempelajari traffic sosial media
Bisnis Internal Mempercepat proses pemesanan Mempercepat proses transaksi Peningkatan jumlah transaksi Penggunaan alat-alat modern
Pembelajaran dan Pertumbuhan Meningkatkan mutu karyawan Meningkatkan pelayanan Kepuasan pelanggan. Mutu produk meningkat Rutin mengadakan pelatihan

 

Kuasai Implementasi Workforce Planning untuk Efisiensi Bisnis Anda

Kuasai Implementasi Workforce Planning untuk Efisiensi Bisnis Anda

Tidak diragukan lagi bahwa tenaga kerja atau SDM merupakan salah satu aset penting bagi setiap perusahaan. Penting bagi bisnis untuk mempekerjakan karyawan dalam jumlah yang tepat, serta dengan keterampilan yang tepat pula.

Tak hanya itu, perusahaan juga perlu menempatkan karyawan pada peran yang tepat supaya tujuan bisnisnya bisa tercapai secara optimal. Nah, untuk mewujudkan hal tersebut, perusahaan perlu menerapkan strategi workforce planning (perencanaan tenaga kerja) yang terencana dan terukur.

Pertanyaannya, bagaimana caranya? Temukan jawabannya di sini!

Pengertian Workforce Planning

Workforce planning adalah proses memperkirakan, merencanakan, dan mengidentifikasi orang-orang yang tepat dengan keahlian khusus yang tersedia untuk pekerjaan yang tepat pada waktu dan biaya yang tepat. Hal ini membantu mengidentifikasi kesenjangan antara permintaan dengan kapasitas, sehingga organisasi dapat secara proaktif menerapkan langkah-langkah perbaikan untuk mencapai tujuannya.

Artinya, tidak ada situasi over atau under staffing dalam suatu perusahaan. Dengan kata lain, perencanaan tenaga kerja adalah proses penyelarasan kapasitas dan kemampuan tenaga kerja untuk memenuhi tuntutan proyek saat ini dan masa depan.

7 Langkah Penerapan Workforce Planning yang Strategis

Untuk dapat menerapkan perencanaan tenaga kerja yang efektif dan strategis, terdapat beberapa tahapan yang harus Anda lakukan, di antaranya:

1. Tentukan Arah dan Tujuan Bisnis

Perencanaan tenaga kerja adalah proses top-down yang memerlukan arah organisasi yang jelas dan tujuan yang strategis. Tujuannya adalah untuk memberikan informasi serta memandu keputusan di masa depan.

  • Menurut Anda, ke arah mana bisnis Anda akan berjalan?
  • Apa yang ingin Anda capai melalui perencanaan tenaga kerja?
  • Apa tujuan/pencapaian utama yang Anda targetkan?
  • Mengapa bisnis Anda memerlukan struktur perencanaan tenaga kerja baru?

Ini adalah pertanyaan penting untuk ditanyakan pada diri Anda sendiri sebelum menganalisis tenaga kerja Anda dan menerapkan strategi manajemen karyawan baru.

2. Analisa Tenaga Kerja yang Ada Saat Ini

Selanjutnya, coba analisis komposisi dan keterampilan tenaga kerja yang Anda miliki saat ini, baik itu tenaga kerja internal maupun eksternal. Evaluasi secara rinci terkait keterampilan, kualifikasi, dan pengalaman karyawan.

Analisis ini sangat penting untuk mengidentifikasi apakah ada kesenjangan keterampilan atau tidak. Pada gilirannya, analisis ini akan memudahkan Anda dalam membuat keputusan tentang perekrutan, pelatihan, dan pengembangan di masa depan.

3. Memprediksi Kebutuhan Tenaga Kerja di Masa Depan

Kemampuan untuk mengantisipasi dan bersiap menghadapi perubahan di masa depan adalah kunci workforce planning yang tangkas dan efektif. Nah, saat memperkirakan kebutuhan tenaga kerja di masa depan, Anda harus mempertimbangkan beberapa langkah berikut:

  • Identifikasi posisi mana yang perlu peningkatan dan malah menjadi mubazir karena perubahan kebutuhan bisnis atau kemajuan teknologi.
  • Evaluasi apakah ada perubahan dalam strategi bisnis yang nantinya mengubah kebutuhan tenaga kerja.
  • Analisa faktor eksternal seperti perubahan dinamika pasar tenaga kerja dan demografi.

4. Analisis Kesenjangan

Setelah mengetahui komposisi tenaga kerja Anda saat ini dan yang diproyeksikan di masa depan, langkah selanjutnya adalah menganalisis kesenjangan di antara keduanya. Jika terdapat kekurangan SDM, Anda dapat membekali karyawan yang ada dengan pelatihan untuk mengisi kesenjangan keterampilan atau merekrut karyawan baru (jika finansial perusahaan memungkinkan).

Sebaliknya, jika kelebihan SDM, coba percepat jadwal penyelesaian proyek, outsourcing, kebijakan perekrutan musiman, atau yang lainnya. Saat mengidentifikasi kesenjangan ini, pastikan Anda mempertimbangkan berbagai faktor seperti potensi turnover karyawan, tren pasar, dll.

5. Buat Perencanaan

Setelah empat langkah pertama selesai, saatnya Anda membuat workforce planning yang konkrit. Hal ini harus mencakup strategi untuk mempertahankan talenta dan merekrut karyawan terbaik, rencana untuk merestrukturisasi departemen jika diperlukan, dan menerapkan teknologi yang ada.

6. Terapkan Rencana Itu

Ada beberapa hal yang perlu Anda miliki supaya perencanaan tenaga kerja yang sudah Anda susun bisa sukses diterapkan, yaitu:

  • Personil SDM yang memahami dengan jelas peran dan tanggung jawab baru mereka.
  • Strategi dan proses pencatatan seluruh data dan informasi yang relevan.
  • Saluran komunikasi yang efektif antara semua pihak yang berinvestasi untuk mendukung rencana tersebut.
  • Kriteria pengukuran dan evaluasi yang ditentukan untuk menilai keberhasilan rencana.

7. Pantau Hasilnya Secara Teratur

Perlu Anda ingat bahwa workforce planning adalah proses yang berulang dan berkelanjutan. Kemajuannya perlu dipantau dan diukur secara berkala berdasarkan pencapaian tertentu yang selaras dengan tujuan bisnis jangka panjang.  Pasalnya, seiring dengan perubahan bisnis yang dinamis, strategi perencanaan tenaga kerja juga sangat mungkin untuk berubah.

Dalam menghadapi tantangan pasar yang terus berubah, penerapan workforce planning menjadi makin penting bagi kesuksesan bisnis, baik itu jangka pendek maupun panjang. Oleh karena itu, setiap perusahaan harus bisa membuat rencana tenaga kerja yang jelas dan terstruktur, guna meningkatkan efisiensi bisnis dan keunggulan kompetitif.

Mengapa Executive Coaching Penting untuk Kemajuan Perusahaan?

Mengapa Executive Coaching Penting untuk Kemajuan Perusahaan?

Program coaching berkelanjutan tidak hanya penting bagi karyawan, tetapi juga mereka yang menduduki posisi kepemimpinan dalam perusahaan. Executive coaching merupakan program berkelanjutan yang membidik posisi vital tertentu dalam perusahaan. Inilah keuntungan melakukan executive coaching untuk perusahaan.

Apa Itu Executive Coaching

Executive coaching merupakan bagian dari program pengembangan yang berfokus pada orang-orang di posisi eksekutif atau level kepemimpinan yang cukup tinggi. Program ini membantu mereka meningkatkan kompetensi untuk menerapkan aspek kepemimpinan yang lebih baik.

Pelatihan eksekutif tidak hanya membidik mereka yang posisinya sudah tinggi. Perusahaan bisa memberi pelatihan serupa ke individu yang terlihat potensial untuk dijadikan pemimpin.

Metode Populer untuk Executive Coaching 

Ada beberapa metode populer yang digunakan untuk pelatihan eksekutif.

Metode GROW merupakan model coaching populer yang telah ada sejak 1980-an. GROW adalah singkatan dari empat orientasi utama pelatihan ini: Goal (tujuan), Reality (realita saat ini), Options (pilihan tindakan), dan Will (tindakan yang akan dilakukan).

Metode lainnya adalah FUEL, yaitu pelatihan open-ended yang menuntut adaptasi dan pembelajaran terus-menerus. Pilar utama metode FUEL adalah Frame the conversation (kesamaan visi dalam dialog), Understand the current state (memahami kondisi saat ini), Explore the final state (ketahui tujuan yang diinginkan), dan Lay out success plan (lakukan perencanaan untuk mencapai tujuan).

Apa perbedaan antara metode GROW dan FUEL? Struktur GROW cocok untuk melatih pemimpin dengan tujuan spesifik yang sudah direncanakan. Sebaliknya, FUEL adalah metode yang menuntut adaptasi terus-menerus tergantung situasi dan kondisi. Jadi, fokus FUEL adalah adaptasi perilaku dan pemikiran yang sifatnya lebih umum.

GROW dan FUEL sama-sama dibutuhkan walau tujuannya sedikit berbeda. Executive coaching yang baik harus memperhatikan kebutuhan utama peserta agar tujuan mereka tercapai.

Keuntungan Menerapkan Executive Coaching 

Mengapa executive coaching menguntungkan bagi perusahaan? Inilah beberapa alasannya:

  • Menggali Potensi Pemimpin

Figur pemimpin juga memiliki potensi yang mungkin belum dimanfaatkan secara maksimal. Dengan pelatihan, mereka bisa menggunakan potensi tersebut untuk lebih meningkatkan kesuksesan perusahaan. Penggalian potensi juga membantu peserta mengisi “celah” di dalam kepribadian mereka sebagai pemimpin

Contohnya adalah penggalian potensi terkait manajemen risiko untuk pemimpin inovatif, atau kreativitas untuk calon pemimpin yang bisa diandalkan pegawai tetapi cenderung saat taat pada aturan.

  • Meningkatkan Kepercayaan Diri

Pemimpin harus menunjukkan kepercayaan diri karena kedudukannya sebagai panutan dan tokoh pemegang otoritas. Kepercayaan diri bisa dipupuk lewat peningkatan berbagai kualitas pribadi dalam diri. Hal ini terutama penting untuk pelatihan bagi individu yang potensial untuk menjadi pemimpin.

Dengan kepercayaan diri, seorang pemimpin mampu memotivasi karyawan dan mengembangkan kultur kerja positif dalam perusahaan. Kepercayaan diri juga menjadikan pemimpin sebagai sosok yang bisa diandalkan saat kondisi sulit menerpa. Seluruh insan perusahaan pun bisa menjadi lebih percaya diri dalam mengatasi masalah.

  • Meningkatkan Performa Pribadi dan Tim

Pelatihan eksekutif merupakan cara untuk meningkatkan performa kerja pemimpin (atau calon pemimpin). Contohnya adalah peningkatan soft skills yang penting untuk menyelesaikan berbagai tugas secara efektif. Akan tetapi, fokus untuk pelatihan ini tidak hanya berpusat pada si pemimpin.

 

Inti dari executive coaching adalah peningkatan kinerja pemimpin sehingga bawahannya bisa bekerja dengan lebih efektif dan memiliki motivasi internal. Dengan meningkatkan performa dan karakter pribadi, pemimpin bisa ikut meningkatkan kinerja karyawan serta memberi contoh.

Pemangku kedudukan tertentu dalam perusahaan juga membutuhkan bimbingan dan pelatihan agar potensi mereka semakin meningkat. Hasilnya pun akan ikut menguntungkan perusahaan karena kinerja meningkat. Dapatkan program executive coaching seperti yang ditawarkan Peopleshift dan buktikan sendiri bagaimana hasilnya mampu meningkatkan kinerja perusahaan.

Tips Menyampaikan Performance Feedback ke Karyawan

Tips Menyampaikan Performance Feedback ke Karyawan

Performance feedback merupakan serangkaian proses evaluasi terhadap kinerja karyawan yang dilakukan oleh atasan. Sesuai namanya, proses ini melibatkan penilaian kualitas kerja, kekuatan, dan elemen-elemen yang perlu ditingkatkan dari karyawan terkait.

Jenis-Jenis Performance Feedback

Pada dasarnya, ada beberapa metode pemberian feedback terhadap kinerja karyawan. Melansir laman RevoU, berikut beberapa jenis metode pemberian feedback:

  • 360-degree feedback: Metode dilakukan dengan cara mengumpulkan banyak feedback dari berbagai sumber, seperti manajer, junior, dan rekan kerja.
  • Self-assessment: Dengan metode ni, karyawan harus menilai kinerja mereka sendiri dengan penuh kesadaran diri.
  • Evaluasi berbasis tujuan: Metode penilaian ini fokus pada sejauh mana pencapaian karyawan terhadap tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
  • Continuous feedback: Feedback satu ini dilakukan secara berkelanjutan untuk membantu pertumbuhan karyawan secara berkelanjutan.
  • Managerial review: Metode yang satu ini dilakukan oleh pihak manajer langsung terhadap masing-masing karyawan yang berada di bawah kepemimpinannya.

Tips Menyampaikan Performance Feedback ke Karyawan

Performance feedback lebih dari sekadar evaluasi, tetapi juga alat yang bisa digunakan karyawan untuk memahami kelemahan dan kekuatan mereka, meningkatkan produktivitas, meningkatkan retensi karyawan, dan lain sebagainya. Melansir laman Indeed, berikut beberapa tips untuk menyampaikan evaluasi kinerja karyawan.

1. Up-to-date dengan posisi setiap karyawan

Sebelum melakukan evaluasi kinerja, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh atasan. Salah satunya adalah mengetahui posisi mereka di tempat kerja. Selanjutnya, bandingkan kinerja mereka dengan apa yang diminta perusahaan terhadap posisi mereka. Berikut beberapa pertanyaan yang bisa digunakan sebagai alat bantu:

  • Apakah karyawan memahami tugas dari posisi mereka?
  • Apakah kinerja karyawan memenuhi, melebihi, atau di bawah ekspektasi?
  • Apakah karyawan ingin tumbuh bersama perusahaan?

2. Buat catatan berkala tentang performa karyawan

Sebagai bentuk evaluasi kinerja karyawan, penting bagi atasan untuk selalu membuat catatan umum terkait performa karyawan. Di dalamnya bisa mencakup tingkat produktivitas karyawan, bagaimana mereka bekerja dalam tim, dan keterampilan interpersonal mereka. Biasanya atasan meminta anggota timnya untuk melakukan self-assessment terlebih dahulu dengan mencatat tugas apa saja yang sudah mereka lakukan dan bagaimana tingkat keberhasilannya.

3. Jangan bertele-tele

Umumnya, para atasan didorong untuk menyesuaikan feedback negatif dengan feedback positif. Metode ini justru sebenarnya sangat tidak disarankan. Sebab, karyawan bisa melihatnya sekalipun tidak dijelaskan secara gamblang.

Sederhananya begini, nilai suatu feedback positif akan berkurang bila kalimat pujian disertai dengan feedback negatif. Jadi, untuk para atasan yang ingin memberikan feedback negatif, ada baiknya untuk disampaikan secara gamblang dan jangan bertele-tele.

4. Gunakan kata kerja

Saat memberikan performance feedback, hindari penggunaan kata-kata seperti “bagus”, “jelek”, “luar biasa”, dan kata-kata sifat lainnya. Selain karena terlalu umum, kata-kata tersebut juga kurang menjelaskan kualitas kinerja karyawan. Sebagai alternatif, gunakan kata kerja dan kalimat-kalimat seperti:

  • “Karyawan ini mengalokasikan…”
  • “Karyawan ini membantu rekan kerjanya…”
  • “Karyawan ini selalu memotivasi rekan kerjanya…”
  • “Karyawan memahami semua aspek pekerjaannya.”

5. Tanyakan pertanyaan yang tepat

Evaluasi kinerja karyawan harus dilakukan secara dua arah. Ini artinya, atasan harus melakukan komunikasi empat mata sebagai bagian dari proses evaluasi. Proses ini melibatkan beberapa pertanyaan untuk lebih memahami karyawan. Berikut beberapa pertanyaan yang bisa digunakan:

  • Apa pencapaian yang ingin kamu wujudkan tahun depan?
  • Pencapaian mana yang paling kamu banggakan dari tahun lalu?
  • Tantangan seperti apa yang menghambatmu untuk mencapai tujuan?
  • Bagaimana perasaanmu tentang posisimu di dalam tim?
  • Apa yang bisa saya lakukan sebagai atasan kamu?

 

Itulah beberapa tips menyampaikan performance feedback terhadap karyawan. Proses ini penting untuk membantu karyawan menemukan kelemahan dan keunggulan, mengembangkan keterampilan sesuai dengan posisi mereka, dan meningkatkan produktivitas.

7 Manfaat Team Building Activities dalam Dunia Profesional

7 Manfaat Team Building Activities dalam Dunia Profesional

Suatu perusahaan atau institusi kerap mengadakan team building activities setidaknya sekali dalam satu tahun. Secara umum, kegiatan ini ditujukan untuk meningkatkan komunikasi dan interaksi antarkaryawan dalam suatu institusi. Namun, bukan itu saja manfaatnya, berikut beberapa di antaranya.

Melansir dari berbagai sumber, berikut ini adalah manfaat kegiatan team building dalam dunia kerja.

1. Meningkatkan keakraban antarkaryawan

Manfaat kegiatan team building yang pertama adalah meningkatkan keakraban antarkaryawan. Hal ini penting mengingat seorang karyawan akan selalu berinteraksi dengan orang-orang baru yang memiliki kepribadian dan latar belakang yang beragam. Keakraban di dunia kerja penting guna menunjang kelancaran operasional dalam dunia kerja.

2. Meningkatkan kualitas skill komunikasi

Team building yang umumnya diadakan oleh divisi HRD tak hanya meningkatkan skill komunikasi antarindividu, tetapi juga antardivisi. Selama mengikuti kegiatan team building, komunikasi akan otomatis terbentuk antarkaryawan dan divisi.  Hal ini dapat meningkatkan kualitas workflow dan membuat diskusi makin mudah.

3. Meningkatkan kerja sama tim

Dalam suatu tim kerja, setiap karyawan memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing. Nah, team building activities membantu meningkatkan kesadaran setiap anggota tim terhadap peran dan tanggung jawab mereka. Dengan begitu, setiap anggota bisa lebih bertanggung jawab terhadap tugasnya.

4. Meningkatkan produktivitas dan kreativitas

Suasana kerja yang nyaman dan cenderung agak santai dapat meningkatkan produktivitas sekaligus kreativitas karyawan dari berbagai jenis profesi. Kegiatan team building yang unik dan beragam membantu menciptakan lingkungan kerja seperti ini. Dengan begitu, karyawan bisa lebih fokus, produktif, dan bahkan menghasilkan banyak ide-ide baru yang inovatif.

5. Menumbuhkan motivasi

Manfaat team building activities yang selanjutnya adalah meningkatkan motivasi karyawan dalam bekerja. Pada dasarnya, karyawan yang senang dengan pekerjaan mereka dan merasa dihargai oleh perusahaan adalah karyawan yang selalu termotivasi untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik.

Meningkatnya motivasi kerja adalah salah satu manfaat utama dari kegiatan team building. Sebab, saat perusahaan meluangkan waktu, uang, dan tenaga untuk merencanakan kegiatan team building, karyawan akan merasa bahwa perusahaan mereka peduli dengan kesuksesan, kebahagiaan, dan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

6. Mengajarkan toleransi terhadap perbedaan pendapat

Setiap karyawan pastinya memiliki pemikiran yang berbeda-beda. Hal seperti ini akan sangat berdampak pada proses diskusi di lingkungan kerja. Meskipun sangat lumrah, nyatanya masih banyak karyawan yang belum bisa toleran terhadap perbedaan pendapat.

Nah, di sinilah pentingnya team building, yakni untuk mengubah perbedaan pendapat dalam diskusi tim menjadi masukan yang bermanfaat bagi kemajuan organisasi. Melalui team building pula, karyawan yang sebelumnya tidak terbiasa dengan perbedaan, menjadi lebih terbuka dengan keberagaman.

7. Memupuk sikap saling percaya

Dalam suatu divisi, setiap karyawan memiliki tugas dan tanggung jawab mereka masing-masing. Kendati berbeda, tetap saja tujuan mereka sama sehingga tetap butuh yang namanya kerja sama. Kerja sama tim bisa tercipta bila ada sikap saling percaya antaranggota tim.

Dengan melakukan kegiatan team building, maka perlahan-lahan dapat tercipta sikap saling percaya antaranggota tim. Hal ini tak hanya menguntungkan organisasi, tetapi juga masing-masing anggota tim karena kemampuan mereka dipercaya oleh rekan kerja mereka.

 

Jadi, itulah pentingnya mengadakan team building activities dalam dunia kerja. Kegiatan ini seyogianya rutin dilakukan setiap satu tahun sekali guna meningkatkan kualitas kinerja karyawan. Di sisi lain, kegiatan team building dapat digunakan sebagai rekreasi sehingga karyawan tidak jenuh dengan rutinitas mereka di kantor.

7 Talent Acquisition Strategies yang Jitu untuk Rekrutmen Karyawan

7 Talent Acquisition Strategies yang Jitu untuk Rekrutmen Karyawan

Salah satu kunci kesuksesan jangka panjang di suatu perusahaan adalah sumber daya manusianya, khususnya karyawan yang Anda rekrut dan pertahankan. Akan tetapi, menemukan karyawan yang ideal untuk mengisi posisi tertentu bukanlah perkara yang mudah. Apalagi, lingkungan perekrutan saat ini terbilang sangat kompetitif.

Lantas, bagaimana solusi untuk menemukan dan merekrut kandidat terbaik sesuai dengan kebutuhan perusahaan? Jawabannya adalah dengan membangun talent acquisition strategies (strategi akuisisi bakat) yang kuat.

7 Talent Acquisition Strategies yang Patut Diterapkan

Pada tahun 2023, lebih dari 75% perusahaan di seluruh dunia melaporkan kekurangan talenta. Angka ini merupakan yang tertinggi dalam 17 tahun terakhir. Berdasarkan informasi tersebut, Anda pasti setuju bahwa membangun strategi akuisisi talenta tidaklah mudah.

Padahal, perusahaan dengan program akuisisi talenta yang kuat lebih berpotensi meningkatkan retensi karyawan dan meraih kesuksesan jangka panjang. Untungnya, ada beberapa strategi yang bisa Anda terapkan, di antaranya:

1. Bangun Branding Perusahaan

Untuk membangun talent acquisition strategies yang kuat, Anda harus terlebih dahulu membangun branding perusahaan. Pasalnya, hampir semua pekerja akan mempertimbangkan reputasi dan nilai-nilai perusahaan sebelum memutuskan untuk melamar kerja di perusahaan tersebut.

Branding perusahaan bisa dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya:

  • Tentukan Employee Value Proposition (EVP), yaitu nilai yang bisa perusahaan Anda tawarkan kepada karyawan sebagai imbalan atas keterampilan dan pengalaman mereka. Ini bisa berupa pengembangan karier, program pensiun, asuransi kesehatan, dll.
  • Gunakan cerita dan testimonium dari karyawan saat ini untuk menonjolkan budaya perusahaan Anda.
  • Bagikan konten yang memberikan wawasan tentang budaya perusahaan Anda, seperti video BTS (Behind The Scene), acara profesional yang dipimpin karyawan, atau keterlibatan komunitas.
  • Pastikan website perusahaan Anda memiliki halaman karier yang mencerminkan merek perusahaan, serta memberikan wawasan yang jelas dan menarik tentang kehidupan kerja di sana.

2. Sesuaikan Rencana Perekrutan dengan Tujuan Bisnis

Dalam membangun strategi akuisisi bakat, tidak hanya posisi organisasi saat ini saja yang harus Anda pahami, tetapi juga tujuan organisasi Anda di masa depan. Caranya, Anda bisa menganalisis kesenjangan untuk memahami keterampilan, pengalaman, dan peran yang saat ini ada di organisasi Anda, versus posisi yang diperlukan untuk mencapai tujuan di masa depan.

Buka jalur komunikasi antara profesional HR dan kepala departemen untuk memastikan kesenjangan keterampilan ini diisi oleh orang yang tepat, pada waktu yang tepat. Anda juga bisa bertindak secara proaktif dengan membangun talent pool. Mirip dengan marketplace, talent pool berisi sejumlah kandidat yang telah disaring dan berfungsi sebagai sumber bagi tim HR untuk merekrut begitu ada lowongan baru.

3. Prioritaskan Skill daripada Kualifikasi

Salah satu tren terbaru saat ini dalam strategi akuisisi bakat adalah mengadopsi rekrutmen yang berfokus pada keterampilan alih-alih kualifikasi tradisional. Model rekrutmen semacam ini terbukti lebih efisien. Ini karena proses perekrutan menjadi lebih sederhana, tetapi tetap bisa mendapatkan kandidat yang tepat untuk kebutuhan spesifik perusahaan.

Pergeseran prioritas tadi didukung oleh bukti-bukti yang meyakinkan. Menurut US Chamber of Commerce, sebanyak 95% profesional HR melaporkan bahwa orang-orang dengan sertifikasi yang diperoleh melalui jalur alternatif (seperti kursus, komunitas belajar, dll) mempunyai kinerja pada tingkat yang sama bahkan lebih baik dibandingkan mereka yang memiliki gelar tradisional.

4. Manfaatkan Program Referral dengan Karyawan Saat Ini

Strategi akuisisi bakat ini sangat recommended bagi startup yang beroperasi dengan sumber daya terbatas dan perlu merekrut karyawan dengan cepat guna memenuhi tuntutan pertumbuhan bisnis. Selain itu melalui program referral, Anda juga turut melibatkan karyawan saat ini dalam perolehan bakat untuk merekomendasikan kandidat yang memenuhi syarat.

5. Gunakan Software ATS

Penggunaan software ATS (Applicant Tracking System) juga termasuk salah satu tips jitu untuk membangun talent acquisition strategies yang kuat. Pasalnya, teknologi dapat mengotomatiskan tugas-tugas dengan lebih efisien dan cepat: mulai dari memposting lowongan, meninjau resume, menjadwalkan wawancara, komunikasi dengan kandidat, dll.

6. Gunakan Pendekatan Wawancara Terstruktur

Berikan dukungan kepada manajer perekrutan selama wawancara, dengan melakukan standardisasi proses wawancara yang terstruktur. Berbeda dengan wawancara tradisional yang tidak terstruktur, wawancara terstruktur mengharuskan pewawancara bertanya kepada semua kandidat:

  • Pertanyaan yang sama
  • Dalam urutan yang sama
  • Dinilai dengan kriteria yang sama

Hal ini memastikan bahwa semua kandidat akan dievaluasi berdasarkan keterampilan inti untuk peran tersebut.

7. Melakukan Orientasi Secara Proaktif untuk Mengurangi Ghosting

Ghosting tidak hanya terjadi dunia kencan, tetapi juga di dunia kerja. Terkadang, manajer HR bisa di-ghosting oleh kandidat, baik itu usai wawancara ataupun setelah bertukar kontrak.

Anda bisa mulai mengirimkan video sambutan yang dipersonalisasi kepada calon karyawan dari tim mereka. Pertimbangkan juga untuk menyediakan mentor atau buddy untuk karyawan baru, serta memberikan materi orientasi yang komprehensif seputar budaya perusahaan, kebijakan, dan lain sebagainya.

 

Kesimpulannya, menerapkan talent acquisition strategies yang kuat secara menyeluruh merupakan sebuah tugas yang menantang. Namun, dengan mengadopsi strategi-strategi di atas, bukan hal mustahil perusahaan Anda dapat membangun akuisisi bakat yang solid guna menarik, mengembangkan, dan mempertahankan bakat terbaik. Ini juga berguna untuk memperkuat posisi perusahaan di pasar sebagai tempat kerja yang ideal.