Managing Conflict: Contoh Praktik Terbaik Untuk Mengoptimalkan Tempat Kerja

Managing Conflict: Contoh Praktik Terbaik Untuk Mengoptimalkan Tempat Kerja

Konflik di tempat kerja bisa terjadi karena berbagai alasan, mulai dari perbedaan pendapat, kepribadian, sudut pandang, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebuah konflik bisa berlarut-larut apabila tempat kerja tersebut tidak tahu caranya melakukan managing conflict yang baik dan benar. Mau tempat kerja Anda tetap kondusif dan nyaman ketika sedang terjadi konflik di tempat kerja? Simak cara-cara berikut ini.

Kiat-kiat Managing Conflict

Komunikasi Terbuka dan Jujur

Komunikasi adalah kunci utama dalam managing conflict. Pastikan semua pihak yang terlibat memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat mereka secara terbuka dan jujur. Dengarkan dengan penuh perhatian dan hindari interupsi saat orang lain berbicara. Dengan cara ini, setiap individu merasa dihargai dan didengar, yang dapat meredakan ketegangan.

Identifikasi Akar Masalah

Sering kali, konflik muncul dari masalah yang lebih dalam daripada yang terlihat di permukaan. Penting untuk mengidentifikasi akar masalah tersebut. Lakukan analisis mendalam untuk memahami penyebab sebenarnya dari konflik. Ini bisa melibatkan diskusi dengan pihak yang terlibat atau mengamati dinamika tim secara keseluruhan.

Tetapkan Aturan dan Batasan

Supaya konflik yang sedang terjadi tidak akan berlarut-larut atau muncul konflik baru di kemudian hari, tetapkan aturan dan batasan yang jelas di tempat kerja. Contohnya, semua pihak harus sepakat untuk tidak menggunakan kata-kata kasar atau menyerang secara pribadi ketika konflik sedang berlangsung untuk menyelesaikan konflik dengan kepala dingin.

Fokus pada Solusi, Bukan Masalah

Alih-alih berfokus pada masalah, arahkan perhatian pada solusi. Diskusikan apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi dan mencegah konflik serupa di masa depan. Berpikir secara konstruktif dan kreatif dapat membantu menemukan jalan keluar yang menguntungkan semua pihak.

Gunakan Pendekatan Mediasi

Kita bisa meminta tolong jasa mediator ketika konflik yang sedang terjadi tidak bisa diselesaikan oleh pihak yang terlibat. Karena seorang mediator biasanya berasal dari luar perusahaan atau dari dalam organisasi, mereka bisa dipercaya untuk bertindak lebih adil untuk menyelesaikan konflik itu.

Berikan Pelatihan Manajemen Konflik

Sebelum munculnya sebuah konflik, tempat kerja harus menyediakan pelatihan seperti negosiasi dan sebagainya untuk memberi jalan keluar ketika sedang terjadi konflik di tempat kerja. Pelatihan ini juga bisa mencakup cara-cara komunikasi yang efektif sehingga tidak perlu terjadi konflik.

Tetap Tenang dan Profesional

Managing conflict dengan kepala dingin dan profesionalisme adalah kunci. Hindari menunjukkan emosi berlebihan seperti marah atau frustrasi. Tetap tenang membantu menciptakan lingkungan yang kondusif untuk penyelesaian masalah karena tindakan emosional sering kali hanya memperburuk situasi.

Evaluasi dan Tindak Lanjut

Ketika sebuah konflik telah diselesaikan, lakukan evaluasi secara menyeluruh untuk memahami apa yang berjalan dengan baik dan yang perlu diperbaiki sehingga kita tahu apakah strategi pemecahan konflik itu berjalan dengan baik atau tidak. Evaluasi ini juga berguna untuk mencegah konflik di masa depan.

Bangun Budaya Kerja yang Positif

Menciptakan budaya kerja yang positif dapat mencegah konflik. Budaya kerja yang menghargai kerja sama, komunikasi terbuka, dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat dapat mengurangi kemungkinan terjadinya konflik. Promosikan nilai-nilai ini melalui tindakan sehari-hari dan kebijakan perusahaan.

Sediakan Waktu untuk Rekreasi Tim

Tempat kerja perlu melakukan kegiatan rekreasi dalam rangka team building sehingga hubungan antar anggota tim dapat menjadi semakin erat. Aktivitas ini juga bisa membantu para anggota tim untuk mengenal diri satu sama lain di luar tempat kerja.

Tanpa adanya cara-cara managing conflict yang efektif di tempat kerja atau di mana saja, situasi di tempat kerja bisa menjadi tidak kondusif dan tidak nyaman bagi siapa pun yang bekerja di sana. Selama kita bisa belajar dari kiat-kiat di atas, konflik yang bisa terjadi karena perbedaan pendapat atau alasan lainnya bisa segera diatasi untuk menjaga kenyamanan tempat kerja kita semua.

Tips Membangun High Performance Team di Era Kerja Remote

Tips Membangun High Performance Team di Era Kerja Remote

Di era digital seperti sekarang, kerja remote telah menjadi model kerja yang banyak diminati masyarakat, terlebih setelah pandemi COVID-19. Banyak perusahaan yang beralih ke model kerja ini untuk meminimalkan biaya operasional sambil menjaga produktivitas karyawan. Namun, membangun high performance team saat bekerja dari jarak jauh bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan strategi khusus untuk memastikan setiap karyawan tetap produktif.

Tips Membangun High Performance Team Saat Remote

Melansir dari berbagai sumber, berikut ini adalah beberapa tips untuk membangun tim yang berkinerja tinggi saat kerja remote.

1. Atur target dan alur kerja secara jelas

Menentukan target dan alur kerja yang rinci dan jelas adalah langkah pertama untuk menciptakan tim yang berkinerja tinggi. Untuk menerapkannya, penting bagi tim untuk memiliki to-do list yang mencakup target pekerjaan setiap hari atau dalam satu minggu.

Pisahkan pula jenis pekerjaan sesuai dengan skala prioritasnya. Setelah pekerjaan selesai, wajib didokumentasikan dengan baik agar semua anggota tim bisa mengecek progresnya dengan jelas. Hal ini juga memudahkan tim untuk memahami apa yang harus dikerjakan.

2. Buat kesepakatan jadwal kerja

Dalam model kerja remote, penting bagi tim untuk menyepakati jadwal kerja. Hal ini bertujuan agar semua anggota tim bisa bekerja dalam waktu yang sama. Dengan begitu, proses komunikasi dan kolaborasi tetap berjalan dengan lancar meskipun terpisah oleh jarak.

Diskusikan dan sepakati kapan harus kerja melalui video conference maupun alat kolaborasi online lainnya. Dengan memiliki jadwal yang pasti dan disepakati oleh semua anggota tim, maka kolaborasi tim akan berjalan secara lebih efektif.

3. Manfaatkan teknologi secara optimal

Teknologi adalah sahabat bagi para pekerja remote. Maka dari itu, gunakan berbagai aplikasi maupun platform berupa situs web untuk membantu memudahkan pekerjaan. Alat-alat seperti Zoom, Trello, Basecamps, Slack, dan lain sebagainya dapat digunakan untuk mempermudah komunikasi, kolaborasi, sekaligus manajemen proyek. Pastikan pula semua anggota tim familiar dan mampu mempelajari fitur-fitur alat-alat tersebut agar bisa menggunakannya dengan maksimal untuk meningkatkan produktivitas.

4. Rutin melakukan evaluasi

Tips selanjutnya untuk menciptakan high performance team saat kerja remote adalah dengan rutin melakukan evaluasi. Lakukan evaluasi secara berkala guna mengetahui progres suatu proyek, apa yang belum tercapai, apa yang sudah selesai, dan bagaimana pekerjaan masing-masing anggota.

Dengan melakukan evaluasi secara berkala, maka tim bisa mengidentifikasi hambatan yang mungkin dihadapi oleh tim dan segera menemukan solusi yang tepat. Dengan melakukan evaluasi rutin, setiap anggota juga bisa memastikan bahwa tim selalu berkembang dan bekerja secara efisien dan efektif.

5. Tingkatkan komunikasi antar rekan kerja

Tips terakhir untuk membangun high performance team pada model kerja remote adalah dengan meningkatkan komunikasi. Komunikasi merupakan elemen vital dalam tim yang bekerja secara jarak jauh. Tanpa adanya komunikasi yang baik, anggota tim bisa merasa kurang berkontribusi atau kurang diperhatikan oleh anggota lainnya.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk meningkatkan komunikasi antar rekan kerja. Tak ada salahnya untuk sekadar chatting ringan melalui platform kolaborasi online guna menjaga hubungan antaranggota tim. Dengan komunikasi yang baik, maka tercipta ikatan yang kuat antar anggota tim yang pada akhirnya bisa meningkatkan kualitas kerja.

Jadi, itulah beberapa cara untuk membangun high performance team saat melakukan kerja remote. Dengan menerapkan strategi di atas, maka produktivitas tetap terjaga dan setiap anggota tim bisa bekerja dengan optimal.

7 Teknik Efektif untuk Managing Conflict dalam Tim, Leader Wajib Tahu!

7 Teknik Efektif untuk Managing Conflict dalam Tim, Leader Wajib Tahu!

Mengelola konflik atau managing conflict dalam tim adalah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh seorang pemimpin. Konflik dapat muncul dari berbagai sumber, mulai dari perbedaan pendapat hingga ketegangan pribadi yang tidak terhindarkan. Namun, jika tidak ditangani dengan baik, konflik bisa merusak produktivitas, menghancurkan semangat tim, dan menghambat pencapaian tujuan organisasi. 

Teknik Managing Conflict dalam Tim

Setiap pemimpin wajib mengetahui bagaimana cara mengelola konflik yang efektif. Melalui pendekatan yang tepat, konflik dapat diubah menjadi peluang untuk pertumbuhan, inovasi, dan penguatan hubungan antar anggota tim. Lalu, bagaimana cara mengelola konflik dalam tim yang efektif? Berikut beberapa teknik yang dapat dilakukan:  

1. Komunikasi terbuka

Mengelola konflik memerlukan komunikasi terbuka. Pemimpin wajib menciptakan suasana lingkungan yang nyaman untuk para karyawan membicarakan masalah yang mereka alami. Selain itu, pemimpin juga harus mendengar setiap keluhan dengan rasa empati, memberi kesempatan untuk berpendapat, serta memastikan bahwa komunikasi berlangsung jujur antara setiap karyawan yang berkonflik.

2. Mencari akar permasalahan

Selain itu, setiap pemimpin juga harus mampu mengetahui akar masalah yang menjadi sumber konflik. Melalui pemahaman yang baik akan sumber konflik, para pemimpin bisa mendapatkan solusi terbaik untuk menyelesaikannya. 

3. Melakukan mediasi

Teknik lain yang dapat dilakukan dalam managing conflict adalah melalui mediasi, dan pemimpin tim menjadi mediator dalam aktivitas ini. Mediasi berarti mempertemukan pihak yang berkonflik, dan menjadi tugas mediator sebagai penengah yang membantu mencapai kesepakatan yang tidak merugikan salah satu pihak. Ini berarti, pemimpin harus bersikap netral saat menjadi mediator.

4. Mencari solusi terbaik

Dalam mengatasi konflik, tentu tidak ada solusi yang berat sebelah. Justru, pemimpin harus mencari solusi yang adil untuk semua pihak. Setiap pihak yang berkonflik harus merasa puas dengan kesepakatan yang diambil. Caranya, identifikasi apa yang menjadi kepentingan setiap pihak, temukan berbagai pilihan kreatif yang mungkin, dan cari titik tengah yang dapat memenuhi keperluan setiap pihak. 

5. Mengambil keputusan dengan melibatkan semua pihak yang terlibat dalam konflik

Tidak ada salahnya untuk melibatkan pihak yang mengalami konflik dalam menentukan solusi terbaik. Dengan demikian, setiap pihak yang berkonflik akan merasa didengarkan dan dimengerti oleh pimpinan, sekaligus mempunyai rasa kepemilikan yang besar untuk setiap keputusan yang disepakati. 

6. Membangun hubungan baik antaranggota tim

Tidak hanya berfokus pada managing conflict, pimpinan juga harus dapat menciptakan kerja sama dan hubungan yang baik kepada setiap anggota tim. Guna mewujudkan hal ini, pimpinan harus membentuk komunikasi, kepercayaan dan kolaborasi yang baik. Semakin baik hubungan setiap anggota tim, tentu akan menjadi lebih mudah bagi mereka dalam menyelesaikan konflik melalui cara yang lebih efektif dan efisien. 

7. Melakukan evaluasi

Setelah berhasil menyelesaikan konflik yang dialami anggota tim, langkah terakhir yang harus dilakukan adalah melakukan evaluasi dari permasalahan yang terjadi serta belajar dari kondisi tersebut. Evaluasi akan membantu memberikan pemahaman yang lebih baik akan faktor apa yang menjadi pemicu terjadinya konflik dan tindakan apa yang dapat dilakukan untuk mencegahnya pada masa mendatang. 

Selain itu, melakukan introspeksi bersama dengan semua anggota tim juga bisa membantu meningkatkan interpretasi sekaligus menciptakan potensi pertumbuhan tim yang jauh lebih baik. 

Managing conflict yang terjadi di antara anggota tim tentu tidak dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Pemimpin memerlukan kebijaksanaan, keahlian komunikasi, dan tentu saja kesabaran. Melalui hal-hal tersebut, ditambahkan dengan mengimplementasikan teknik yang tepat, para pemimpin organisasi tentu sangat mampu menciptakan lingkungan kerja yang nyaman dan harmonis serta menguatkan hubungan tim secara menyeluruh. 

Penerapan Strategi Behavior-based untuk Kesuksesan Manajemen Tim

Penerapan Strategi Behavior-based untuk Kesuksesan Manajemen Tim

Salah satu rahasia sukses dalam kerja tim adalah perilaku (behavior) anggota yang selaras dan saling berkontribusi untuk tujuan bersama. Strategi behavior-based pun menjadi penting untuk memastikan keselarasan perilaku ini. Bagaimana caranya agar manajer tim bisa merapkan kesuksesan tim berbasis behavior?

Apa Itu Strategi Behavior-based

Behavior-based strategy adalah strategi yang menekankan pembentukan perilaku tertentu untuk mencapai tujuan. Konsep ini sering terlihat dalam aspek keamanan dan keselamatan kerja, terutama terkait pengamatan dan modifikasi perilaku staf atau anggota tim.

Strategi behavior-based berfokus pada observasi menyeluruh, evaluasi dan edukasi berdasarkan target perilaku yang telah disusun, serta pengamatan dan pelatihan secara terus-menerus. Tujuannya adalah memastikan bahwa anggota tim mengadopsi perilaku yang dianggap “sesuai standar”.

Keuntungan Menerapkan Strategi Behavior Based 

Penerapan strategi behavior-based dalam tim menawarkan beberapa keuntungan, yaitu sebagai berikut:

  • Efisiensi Kerja Meningkat

Strategi ini diterapkan menggunakan standar pengukuran perilaku. Hal ini memberi anggota tim standar tertentu yang bisa mereka ikuti. Hal ini akan membuat efisiensi kerja meningkat karena anggota tim punya standar perilaku.

  • Mudah Mendeteksi Kekurangan dan Risiko

Strategi behavior-based memudahkan pemimpin tim untuk mendeteksi kekurangan atau faktor risiko. Hal ini karena adanya penetapan standar perilaku yang baku sehingga setiap pelanggaran bisa terlihat jelas.

  • Mudah Memberi Feedback

Standar pengukuran perilaku akan memudahkan proses pemberian feedback. Pimpinan tim bisa memberi feedback spesifik untuk masing-masing anggota sehingga sifatnya lebih personal.

  • Meningkatkan Kualitas dan Kontribusi Karyawan

Strategi yang melibatkan modifikasi perilaku bisa menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas serta keterlibatan karyawan. Anda bisa meningkatkan kinerja mereka lewat patokan pengukuran perilaku yang telah dibuat serta mengajak mereka terlibat dalam proses evaluasi.

Langkah Menerapkan Strategi Behavior-based dalam Manajemen 

Strategi manajemen berbasis perilaku bisa Anda terapkan dalam berbagai bidang. Inilah dasar-dasar penyusunan behavior-based strategy yang mampu memaksimalkan kerja manajemen dalam tim Anda.

  • Bangun Komitmen lewat Kepemimpinan

Para anggota tim kerja harus yakin dengan kualitas kepemimpinan agar lebih termotivasi untuk terlibat dalam strategi manajemen. Pemimpin harus menunjukkan komitmen dengan cara ikut terlibat dalam program, menerapkan standar serupa dalam perilaku sehari-hari, serta menyediakan materi dan sumber info yang dibutuhkan.

  • Lakukan Evaluasi Risiko dan Kekurangan

Strategi behavior-based dibuat berdasarkan perilaku yang harus diperbaiki atau ditingkatkan agar tujuan kerja tercapai. Lakukan evaluasi lengkap untuk menentukan hal apa saja yang wajib diperbaiki dengan modifikasi perilaku. Jangan lupa menentukan strategi manajemen risiko berdasarkan hasil observasi dan evaluasi.

  • Tetapkan Tujuan Strategi yang Terarah

Buat daftar target yang tim Anda harus capai lewat modifikasi perilaku. Misalnya, dalam strategi keamanan kerja, berkurangnya insiden terpeleset serta kelalaian penggunaan helm merupakan target dari modifikasi perilaku yang ditanamkan ke pegawai.

  • Ciptakan Sistem Respons dan Koreksi yang Akurat

Dalam strategi behavior-based, pengawas atau manajer tim harus bisa merespons perilaku tertentu secara cepat dan akurat. Hal ini penting untuk memodifikasi perilaku karyawan atau anggota tim sesuai yang diharapkan. Contohnya adalah pembuatan sistem teguran dan peringatan untuk karyawan yang lalai memenuhi standar kerja.

  • Beri Feedback Sebanyak Mungkin

Perubahan perilaku tidak akan terjadi tanpa sistem feedback yang terus-menerus. Jadikan pemberian feedback sebagai bagian rutin dari strategi behavior-based Anda, apapun bidangnya. Feedback tersebut bisa diberikan secara spontan atau pada waktu-waktu tertentu, misalnya saat rapat pagi dan mingguan.

  • Lakukan Evaluasi Menyeluruh

Evaluasi menyeluruh dilakukan untuk mengecek tahap pelaksanaan strategi, mendiskusikan kemajuan dan perubahan positif, serta menganalisis kekurangan dan faktor risiko yang terlihat. Hasil evaluasi harus dijadikan patokan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pelaksanaan strategi behavior-based dalam manajemen.

 

Strategi behavior-based menawarkan keunggulan unik dalam manajemen tim karena fokusnya terhadap perilaku positif. Lewat strategi yang membidik langsung perilaku anggota tim, manajer bisa menetapkan tujuan bersama, meningkatkan efisiensi, serta membuat standar pengukuran yang lebih mendetail untuk kebutuhan evaluasi.

Pengaruh Employee Engagement Pada High-Performance Team

Pengaruh Employee Engagement Pada High-Performance Team

Semua perusahaan dan institusi di berbagai belahan dunia pastinya pernah mengalami kekurangan tenaga kerja terampil dan pasar tenaga kerja yang kompetitif. Untuk mendapatkan pekerja yang kompeten di bidangnya, aspek high-performance teams and employee engagement harus diperhatikan.

Meningkatkan employee engagement atau keterlibatan karyawan merupakan kunci untuk mengurangi tingkat turnover, menarik tenaga kerja berkualitas, dan pada akhirnya dapat membantu menciptakan high-performance teams atau tim dengan kinerja bagus.

Bagaimana Employee Engagement Memengaruhi Kinerja Tim?

Employee engagement tak hanya soal kepuasan kerja atau loyalitas pegawai terhadap perusahaan. Keterlibatan karyawan juga mencakup sejauh mana karyawan merasa dilibatkan atau terlibat dalam pekerjaan mereka maupun di dalam perusahaan secara umum.

Menurut studi, keterlibatan karyawan dapat meningkatkan retensi, produktivitas, dan kualitas kerja karyawan. Bahkan sekitar 59,7% kinerja karyawan sangat dipengaruhi oleh engagement di lingkungan kerja. Riset yang sama juga membuktikan bahwa keterlibatan karyawan tidak sepenuhnya didorong oleh atasan.

Meskipun atasan memainkan peran penting dalam tingkat keterlibatan karyawan, faktanya masih banyak faktor lain yang mendorong karyawan untuk mengerahkan kemampuan mereka yang sebenarnya dan menjadi karyawan yang selalu terlibat dalam pekerjaan.

Lebih lanjut, saat karyawan merasa selalu dilibatkan, maka mereka akan lebih mudah fokus, produktif, dan mau bekerja sama dengan karyawan lainnya. Lebih jelasnya, berikut efek dari employee engagement terhadap kinerja tim.

1. Meningkatkan kolaborasi

Karyawan yang selalu terlibat dalam urusan kantor cenderung lebih mudah diajak kerja sama dengan pegawai lainnya. Mereka umumnya lebih mudah beradaptasi dengan tim yang baru, lancar dalam berbagi ide, memberikan feedback, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Hal ini penting mengingat kolaborasi yang solid antar karyawan merupakan kunci dari high-performance team.

2. Motivasi yang lebih tinggi

Karyawan dengan engagement tinggi cenderung memiliki motivasi kerja yang tinggi. Setiap kali mereka menyelesaikan suatu proyek, mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan memiliki arti dan tujuan yang jelas sehingga mereka terdorong untuk bekerja secara lebih giat lagi.

3. Peningkatan produktivitas

Employee engagement dapat meningkatkan produktivitas karyawan secara keseluruhan. Karyawan yang aktif di lingkungan kerja cenderung mudah untuk berkonsentrasi sehingga pekerjaan bisa lebih cepat selesai. Tingkat produktivitas yang tinggi dalam sebuah tim juga menjadi salah satu indikator dari kinerja tim yang baik.

4. Hasil kerja yang berkualitas

Saat karyawan selalu dilibatkan dalam urusan kantor, mereka akan lebih termotivasi untuk memberikan yang terbaik sehingga bisa menghasilkan karya-karya yang berkualitas. Hal ini tentu saja menguntungkan perusahaan karena bisa menghasilkan produk atau layanan berkualitas.

5. Tingkat turnover rendah

Seperti yang dijelaskan, karyawan yang merasa selalu dilibatkan dalam pekerjaan akan merasa lebih puas dengan perusahaan tempat mereka bekerja. Hal ini langsung berpengaruh terhadap tingkat turnover karyawan sehingga memungkinkan suatu tim untuk tetap stabil dan terus mengalami perkembangan.

Seperti Apa High-Performance Team Itu?

Pada umumnya, high-performance team merupakan sekelompok orang yang bekerja sama untuk mewujudkan tujuan bersama dengan kualitas kinerja yang optimal. Tim semacam ini terbentuk karena setiap anggota di dalamnya selalu dilibatkan dalam urusan pekerjaan maupun perusahaan secara umum. Nah, berikut ini beberapa ciri-ciri dari high-performance team:

  • Sikap terbuka dan saling percaya: Anggota tim saling percaya satu sama lain dan merasa nyaman untuk berbagi gagasan, ide, dan umpan balik tanpa merasa takut akan dihakimi atau dipandang sebelah mata.
  • Komitmen terhadap visi misi bersama: Setiap anggota tim memiliki pemahaman yang jelas terkait visi dan misi tim dan berkomitmen untuk mencapainya.
  • Komunikasi yang efektif: Setiap anggota tim mau dan mampu berkomunikasi secara terbuka dan jelas.
  • Keragaman latar belakang dan keterampilan: High-performance team terdiri dari orang-orang dengan latar belakang, pengalaman, dan keterampilan yang beragam. Keberagaman ini membantu tim untuk bisa melihat segala sesuatu dari berbagai sudut pandang.
  • Keterlibatan: Employee engagement menciptakan tim dengan kinerja yang tinggi. Setiap anggota tim merasa terlibat dalam setiap proses pengambilan keputusan dan memiliki kesempatan yang sama rata untuk memengaruhi strategi tim.

Tips Membangun High-Performance Team

Memperkuat employee engagement adalah langkah krusial dalam menciptakan high-performance team yang berkualitas. Melansir laman Forbes, berikut beberapa tips untuk membaung high-performance team:

1. Hindari pemberian feedback yang kontraproduktif

Langkah pertama untuk menciptakan tim dengan kinerja bagus adalah menghindari pemberian feedback yang kontraproduktif. Maksudnya adalah jangan memberikan feedback secara tahunan karena justru dapat menurunkan motivasi kerja para karyawan.

Sebagai gantinya, berikan feedback setiap kali selesai mengerjakan proyek. Pastikan feedback diberikan secara spesifik sehingga karyawan tahu bahwa mereka dipandang, dihargai, dan diberi ruang untuk berkembang.

2. Berikan apresiasi secara tepat waktu dan spesifik

Ucapan “good job” memang menjadi bentuk apresiasi secara verbal yang umum disampaikan oleh atasan terhadap bawahannya. Namun ucapan tersebut sebenarnya tak cukup untuk membuat karyawan merasa dihargai dan diapresiasi.

Jadi, cobalah untuk memberikan apresiasi seperti perayaan kecil-kecilan untuk semua karyawan setiap kali mereka berhasil menyelesaikan suatu proyek dengan kualitas bagus. Hal ini secara langsung dapat meningkatkan motivasi karyawan untuk lebih terlibat dalam pekerjaan sehingga bisa tercipta high-performance team.

3. Ciptakan budaya organisasi yang inklusif

Setiap orang dalam suatu organisasi memiliki hak untuk didengar, dilihat, dan diapresiasi. Inklusivitas ini akan membuat semua karyawan merasa dirangkul dan dihargai eksistensinya. Dengan begitu, mereka bisa memberikan yang terkait saat bekerja.

Untuk menciptakan budaya organisasi yang inklusif, cobalah untuk sering-sering mengadakan komunikasi secara terbuka. Ciptakan suasana yang mendorong setiap karyawan untuk mau berpartisipasi dan merasa bahwa mereka semua adalah bagian dari tim.

4. Ciptakan transparansi

Karyawan dengan engagement tinggi di lingkungan kerja cenderung ingin tahu apa yang dipikirkan oleh atasan terkait pekerjaan dan perusahaan. Untuk itu, bagi para atasan, cobalah untuk lebih terbuka dengan bawahan. Bagikan apa yang ingin dicapai perusahaan, rayakan setiap keberhasilan, dan bersikaplah terbuka setiap kali menghadapi tantangan. Cara ini membuat bawahan merasa dipercaya oleh atasan yang pada akhirnya mereka akan membalasnya dengan dedikasi dan kesetiaan.

5. Jangan merasa cepat puas

Menciptakan tim dengan kinerja bagus merupakan perjalanan yang tidak akan ada akhirnya. Bagi para atasan, penting sekali untuk mengawasi setiap progres dan menyesuaikan strategi tim agar karyawan tetap merasa terlibat dan mampu memberikan yang terbaik.

Itulah ulasan terkait relasi antara high-performance teams and employee engagement. Employee engagement atau keterlibatan karyawan merupakan kunci untuk menciptakan high-performance team atau tim yang berkinerja tinggi. Dengan meningkatkan keterlibatan karyawan, maka perusahaan bisa mengurangi tingkat turnover, menarik tenaga kerja berkualitas, dan pada akhirnya mampu menciptakan tim dengan kinerja yang bagus.

7 Manfaat Employee Retention Bagi Perusahaan + Cara Meningkatkannya

7 Manfaat Employee Retention Bagi Perusahaan + Cara Meningkatkannya

Menurut Majalah Fortune, sebanyak 87% pengusaha di AS setuju bahwa meningkatkan employee retention merupakan bagian penting dari strategi keberlanjutan bisnis mereka. Artinya, retensi karyawan terbukti dapat membawa banyak keuntungan bagi perusahaan, terutama di tengah lingkungan bisnis yang saat ini makin dinamis.

Jika memang ada banyak manfaat dari retensi karyawan untuk bisnis, bagaimana cara meningkatkannya? Simak penjelasannya.

Manfaat Employee Retention

Manfaat retensi karyawan bukan soal menghemat biaya dari turnover karyawan, tetapi juga peluang bagi perusahaan untuk tumbuh dan berkembang di tengah lingkungan bisnis yang makin kompetitif. Berikut adalah beberapa manfaat utama employee retention untuk perusahaan:

1. Menghemat Biaya

Pergantian staf dapat memberikan tekanan finansial yang besar pada perusahaan. Berdasarkan laporan SHRM, perusahaan memerlukan biaya sebesar 33% dari gaji tahunan seorang karyawan untuk merekrut karyawan baru.

Biaya yang tercakup di sini bukan hanya gaji, tetapi juga imbas dari menurunnya produktivitas tim, biaya iklan lowongan kerja, wawancara dan penyaringan, biaya orientasi, hingga biaya pelatihan. Sebaliknya, biaya-biaya ini bisa ditekan dengan berinvestasi pada strategi retensi karyawan.

2. Meningkatkan Produktivitas

Tingkat turnover yang tinggi dapat menyebabkan penurunan produktivitas. Hal ini karena ketika seorang karyawan mengundurkan diri, diperlukan waktu antara 1 hingga 2 tahun bagi karyawan baru untuk bisa produktif dan membangun keakraban, baik itu dengan protokol maupun standar perusahaan.

Ditambah lagi karyawan lama akan dibebani PR untuk melatih dan meningkatkan kecepatan karyawan baru. Sekarang, bayangkan saja jika tingkat turnover Anda tinggi, karyawan lama Anda harus sering beradaptasi dan melatih karyawan baru sambil tetap mengerjakan tugas mereka? Hal ini tentu dapat menyebabkan kelelahan yang berlebihan, frustasi, kualitas kerja rendah, dan semangat kerja menurun.

3. Keterlibatan Karyawan Lebih Tinggi

Karyawan yang sudah lama mengabdi dan menyukai tempat mereka bekerja, kemungkinan besar akan lebih terlibat, loyal, dan memberikan yang terbaik dalam pekerjaannya. Tingkat keterlibatan ini dihasilkan dari inisiatif employee retention seperti lingkungan kerja yang menyenangkan, peluang pengembangan profesional, apresiasi dari perusahaan, dll.

Nah, ketika karyawan merasa lebih dihargai dan didukung di tempat kerja, produktivitas dan kepuasan karyawan pun meningkat. Bonusnya, karyawan dengan keterlibatan yang tinggi terlibat dapat menjadi perwakilan yang senantiasa akan berbicara positif tentang perusahaan Anda, baik itu di dalam maupun di luar tempat kerja.

4. Profitabilitas Meningkat

Melansir dari Gallup, perusahaan dengan keterlibatan karyawan yang tinggi, 23% lebih profitable dibandingkan perusahaan dengan keterlibatan rendah. Perolehan pendapatan ini antara lain berasal dari penghematan biaya perekrutan, produktivitas karyawan yang optimal, serta kepercayaan dan pengalaman pelanggan.

5. Meningkatkan Keterampilan dan Kolaborasi Tim

Kemampuan perusahaan untuk mempertahankan retensi karyawan ternyata juga memengaruhi keterampilan dan kolaborasi tim. Sering kali, makin lama seorang karyawan bertahan di suatu perusahaan, makin mahir mereka dalam melakukan pekerjaannya.

Selain itu, ketika anggota tim yang sama menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memecahkan masalah dan mengatasi tantangan bersama, mereka lebih mudah membentuk solidaritas yang kuat. Pada gilirannya, tim yang solid dan terampil lebih mungkin untuk terlibat dan berinvestasi dalam mencapai tujuan bersama.

6. Customer Experience yang Lebih Baik

Tingkat retensi karyawan juga berpengaruh terhadap kualitas layanan pelanggan di suatu perusahaan. Karyawan yang lama bekerja di sebuah perusahaan cenderung lebih memahami nilai, budaya, dan prosedur perusahaan.

Terlebih lagi, pemahaman yang lebih dalam tentang produk dan layanan yang ditawarkan oleh perusahaan, memungkinkan mereka untuk memberikan layanan pelanggan yang lebih berkualitas daripada rekrutan baru.

7. Employee Retention Dapat Menjadi Magnet Tarik Bakat

Para profesional terampil cenderung tertarik ke perusahaan yang menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap karyawannya. Mereka mencari tempat di mana mereka dapat mengembangkan karir mereka secara berkelanjutan dan berkontribusi pada pertumbuhan perusahaan. Perusahaan dengan tingkat retensi yang tinggi menawarkan kedua aspek ini, membuatnya menjadi daya tarik bagi kandidat berkualitas.

Strategi Meningkatkan Employee Retention

Bagi Anda yang ingin meningkatkan tingkat retensi karyawan secara signifikan dan merasakan manfaat di atas, berikut ini beberapa strategi yang bisa Anda terapkan:

  • Komunikasi dua arah yang efektif antara manajemen dan karyawan.
  • Tawarkan gaji yang kompetitif serta tunjangan yang menarik seperti asuransi kesehatan, cuti berbayar, imbalan lembur, dll.
  • Sebanyak 79% karyawan berhenti dari pekerjaannya karena kurangnya apresiasi dan pengakuan dari perusahaan. Jadi, terapkanlah program recognition atau awards kepada karyawan terbaik secara teratur, bisa dalam bentuk pujian lisan, penghargaan karyawan bulanan, atau bonus.
  • Mengingat lanskap pekerjaan semakin dinamis sejak pandemi Covid-19, tawarkan pengaturan kerja yang fleksibel, baik melalui opsi kerja remote, hybrid, jam kerja fleksibel, dll.
  • Secara aktif mendukung dan memberikan kesempatan pengembangan karir.
  • Mendorong keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan dan inisiatif perusahaan. Ini bisa melalui tim khusus, survei karyawan, atau sesi brainstorming.
  • Membangun budaya perusahaan yang inklusif, etis, dan menghargai keberagaman.

Penutup

Singkatnya, employee retention merupakan pendekatan kompleks yang lebih dari sekadar penghematan finansial. Manfaatnya mencakup peningkatan produktivitas, pendapatan, keterlibatan karyawan, dan sebagainya. Oleh sebab itu, berinvestasi pada strategi retensi karyawan saat ini patut menjadi prioritas, bahkan keharusan.

Mengenal Apa Itu Employee Retention dan Faktor yang Memengaruhinya

Mengenal Apa Itu Employee Retention dan Faktor yang Memengaruhinya

Proses perekrutan karyawan menjadi solusi bagi perusahaan dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja. Hanya saja, intensitas perekrutan karyawan yang tinggi menunjukkan kalau employee retention di sebuah perusahaan sangatlah rendah. Dampaknya, operasional bisnis perusahaan dapat mengalami gangguan. 

Employee retention merupakan parameter terkait kemampuan perusahaan dalam mempertahankan karyawan bertalenta tinggi sehingga betah bekerja. Retensi karyawan yang tinggi menunjukkan kalau perusahaan mampu secara efektif mengelola SDM dan meningkatkan loyalitas mereka. 

Faktor yang Mempengaruhi Employee Retention

Ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi retensi karyawan dalam sebuah perusahaan, di antaranya: 

1. Tujuan atau Motivasi Kerja

Aspek pertama yang berpengaruh pada retensi karyawan adalah tujuan atau motivasi kerja. Anda perlu menyadari kalau mendapatkan penghasilan bukanlah satu-satunya sumber motivasi karyawan. Sebuah pekerjaan juga mempunyai kaitan erat dengan identitas serta tujuan hidup karyawan.

Karyawan memiliki kecenderungan punya motivasi lebih tinggi kalau mereka merasa kalau tujuan bisnis perusahaan selaras dengan prinsip hidup mereka. Apalagi, jika pekerjaan yang mereka lakukan memberikan dampak yang positif, baik baik perusahaan maupun masyarakat luas. 

2. Kompensasi Karyawan

Faktor berikutnya yang berpengaruh pada retensi karyawan adalah kompensasi. Karyawan akan memiliki tingkat kepuasan tinggi pada perusahaan yang memberikan kompensasi serta benefit yang kompetitif. Mereka menjadi lebih betah dan enggan pindah kerja ke tempat lain. 

3. Prosedur Perekrutan

Retensi karyawan juga mempunyai kaitan erat dengan proses perekrutan. Tahapan perekrutan karyawan yang baik dan jujur dapat meningkatkan retensi karyawan. Salah satunya adalah dengan menjelaskan budaya kerja perusahaan secara terbuka kepada setiap kandidat. 

4. Kualitas Manajerial

Faktor berikutnya yang berpengaruh dengan employee retention adalah kualitas manajerial perusahaan. Dalam berbagai kasus, manajer yang toxic menjadi alasan banyaknya karyawan yang memilih untuk resign

Oleh karena itu, Anda perlu melakukan evaluasi secara bertahap terhadap kinerja setiap manajer. Pastikan kalau manajer memiliki peran yang positif dalam mendorong perkembangan karyawan dan melakukan interaksi yang positif dengan mereka.

5. Feedback atau Pengakuan atas Pencapaian Kerja

Anda bisa pula memperoleh peningkatan retensi karyawan dengan memberikan feedback atau pengakuan atas kinerja mereka. Feedback tak harus berupa pujian, tetapi bisa pula berbentuk kritik yang membangun. Dengan adanya kritik tersebut, karyawan dapat memperbaiki kinerja mereka jadi lebih baik. 

Selanjutnya, Anda dapat memberikan pengakuan atas pencapaian kerja karyawan dalam berbagai bentuk. Anda bisa saja membuat program karyawan terbaik setiap bulan. Sebagai pelengkap, ada pula pilihan untuk memberikan kompensasi ekstra bagi setiap karyawan yang mempunyai kinerja positif. 

6. Lingkungan Kerja

Selanjutnya, Anda perlu pula memperhatikan lingkungan kerja para karyawan. Pastikan kalau lingkungan kerja dapat memberikan rasa tenang, aman, dan nyaman bagi karyawan. Dengan begitu, para karyawan dapat melakukan interaksi satu sama lain secara positif.

7. Ada Tidaknya Kesempatan Berkembang

Faktor terakhir dan tak kalah penting dalam upaya meningkatkan retensi karyawan adalah kesempatan berkembang. Perusahaan yang menyediakan peluang bagi karyawan untuk mengembangkan skill dan keahlian merupakan karakteristik tempat kerja yang positif. 

Apalagi, kalau Anda mengimbangi upaya pengembangan kemampuan tersebut dengan jenjang karier yang jelas. Dengan begitu, karyawan akan termotivasi untuk mengembangkan keahlian dengan harapan bisa memperoleh posisi yang lebih tinggi dalam perusahaan.

Itulah info penting yang dapat Anda terapkan dalam upaya meningkatkan employee retention. Semoga bermanfaat. 

High Performance Teams and Employee Engagement, Dua Hal yang Diidamkan Semua Perusahaan

High Performance Teams and Employee Engagement, Dua Hal yang Diidamkan Semua Perusahaan

Organisasi yang ingin berkembang perlu mengerahkan usaha untuk membentuk high performance teams and employee engagement. Sumber daya manusia merupakan penggerak inovasi perusahaan. Karena itu, investasi untuk membentuk tim yang solid dan engaged sangatlah penting. 

Apa Itu High Performance Team? 

High performance team adalah kelompok yang giat mengembangkan organisasi melalui kinerjanya yang signifikan. Masing-masing anggota kelompok bertanggung jawab atas tugas yang diberikan kepadanya. Terdapat beberapa karakteristik dari kelompok dengan performa baik, yaitu:

  • Berorientasi pada gol
  • Berkomitmen terhadap rekan kerja
  • Komitmen terhadap tujuan kelompok
  • Kolaboratif dan saling mendukung dengan anggota tim
  • Memiliki keterampilan yang tinggi atau ahli di bidangnya
  • Mampu menghasilkan produk dengan standar yang tinggi
  • Bersedia menerima kritik yang konstruktif

Ahli mengatakan bahwa sebuah tim akan efektif jika anggotanya tidak melebihi 8 orang. Jumlah individu yang terlalu banyak dalam satu tim akan mengganggu koordinasi, meningkatkan ketegangan antar-anggota, dan menurunkan produktivitas. 

Terdapat tiga peran penting yang harus ada di dalam suatu kelompok, yaitu: action roles, people skills roles, dan intellectual roles. Action roles mencakup individu yang mengeksekusi rencana kelompok, sedangkan intellectual roles adalah pihak-pihak yang mengusulkan program. Individu dengan people skills melakukan manajemen kelompok.

Apa Itu Employee Engagement?

Employee engagement umumnya didefinisikan sebagai sejauh mana komitmen seorang individu untuk membantu organisasinya mencapai tujuan yang diangankan. Konsep ini mendeskripsikan keterikatan individu kepada organisasi dan misi yang dijalankan. Hal tersebut tercermin dalam pikiran, perasaan, maupun tindakan individu saat bekerja.

Menumbuhkan employee engagement merupakan hal yang penting bagi perusahaan karena memberikan manfaat sebagai berikut:

  • Peningkatan kinerja yang signifikan
  • Peningkatan pendapatan dan laba perusahaan
  • Penurunan jumlah karyawan yang keluar dari organisasi
  • Peningkatan kepuasan kerja
  • Pengalaman konsumen yang lebih baik
  • Peningkatan loyalitas konsumen terhadap brand

Ada beberapa kriteria yang digunakan untuk mengukur employee engagement, seperti: kesejahteraan karyawan, tingkat turnover di dalam organisasi, tingkat absensi pegawai, produktivitas perusahaan, persentase pekerja yang memeroleh penghargaan atas kinerjanya, dan lain sebagainya.

Keterkaitan Antara High Performance Teams and Employee Engagement

High performance teams and employee engagement merupakan dua konsep yang berkaitan erat. Individu yang memiliki engagement terhadap pekerjaannya akan lebih termotivasi untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan di dalam timnya. Dia akan menunjukkan kinerja yang terbaik karena rasa keterikatan terhadap pekerjaannya.

Motivasi untuk menunjukkan usaha maksimal di dalam kelompok ini didasari oleh fakta bahwa individu memahami perannya dalam kelompok tersebut dan juga organisasi secara keseluruhan. Pemahaman akan fungsi individu dalam meraih tujuan membuat individu bekerja dengan lebih efisien.

Individu yang memiliki employee engagement tinggi pun memiliki komitmen yang lebih tinggi terhadap tim di mana dirinya ditempatkan. Ketika permasalahan muncul di dalam tim, individu pun lebih memilih untuk menyelesaikannya dengan cara yang produktif dibandingkan dengan mengandalkan emosi.

Apabila semua anggota di dalam kelompok memiliki tingkat engagement yang tinggi terhadap pekerjaan, kelompok tersebut akan menunjukkan kinerja berstandar tinggi dengan level konflik yang relatif rendah. 

Tim semacam ini sangat dibutuhkan oleh perusahaan karena mereka dapat menyelesaikan berbagai tantangan industri dengan lebih efektif. Mereka tidak mudah putus asa ketika dihadapkan dengan permasalahan yang rumit. Setiap anggota tim pun memahami peranannya dan saling membantu untuk menghadapi tantangan.

Peran Manajer untuk High Performance Teams

Pihak manajemen perusahaan memiliki tanggung jawab besar untuk membentuk high performance teams and employee engagement. Berikut beberapa strategi yang disarankan untuk para manajer:

1. Mengimplementasikan SMART

Perusahaan harus menjelaskan visi yang ingin diraih kepada setiap karyawan. Visi tersebut harus bisa diturunkan menjadi gol-gol yang lebih operasional. Manajemen perusahaan sebaiknya mengimplementasikan konsep SMART di dalam menentukan gol yang ingin dicapai. 

Konsep SMART mencakup:

  • Specific; gol sifatnya fokus terhadap suatu isu.
  • Measurable; gol dapat diukur dengan parameter-parameter tertentu.
  • Achievable; target tidak mustahil untuk dicapai.
  • Relevant; gol tersebut relevan dengan tujuan organisasi keseluruhan.
  • Time-bound; gol harus dicapai dalam jangka waktu tertentu.

Fungsi individu dengan peran people skills di dalam tim adalah memastikan bahwa seluruh anggota tim bekerja untuk mencapai gol yang sudah ditentukan, sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh perusahaan. 

2. Komunikasi yang lancar dan praktis

Agar tim dapat menunjukkan kinerja yang baik, proses komunikasi di dalam organisasi tidak boleh berbelit-belit. Perusahaan harus menerapkan sistem komunikasi yang terstandar sehingga kegiatan komunikasi berjalan dengan efisien.

Sebagai contoh, perusahaan menentukan bahwa aplikasi WhatsApp digunakan untuk menyampaikan update dalam kegiatan operasional perusahaan sehari-hari, dan email resmi dari perusahaan digunakan untuk urusan yang sifatnya lebih formal (misalnya: berkorespondensi dengan stakeholder di luar perusahaan).

Adanya prosedur komunikasi yang jelas mencegah terjadinya salah paham antar-anggota tim. Karyawan tidak akan melewatkan berita penting yang berkaitan dengan pekerjaannya. 

3. Dukung pengambilan keputusan di berbagai level

Manajer perlu memberikan kebebasan bagi karyawan untuk mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas tugasnya. Hal ini berarti bahwa karyawan tidak harus selalu menunggu persetujuan dari atasan ketika ada permasalahan yang urgen dan merupakan bagian dari tanggung jawabnya.

Sistem bekerja yang seperti ini membangun sense ownership (rasa kepemilikan), tanggung jawab, dan budaya saling percaya antar-anggota tim. Individu di dalam tim pun menjadi tidak segan untuk mengutarakan pendapatnya dan mengusulkan solusi permasalahan di hadapan manajemen. 

Meskipun begitu, manajer harus memberikan batasan yang jelas mengenai keputusan seperti apa yang dapat dibuat dengan mandiri dan yang harus didiskusikan bersama dengan anggota kelompok lain.

4. Sistem reward untuk pencapaian individu dan tim

Perusahaan harus memberikan penghargaan kepada karyawan atas pencapaian yang telah diraih, baik secara individual maupun berkelompok. Penghargaan akan meningkatkan semangat karyawan dan mendorong mereka untuk menunjukkan kinerja yang lebih baik lagi.

Penghargaan perusahaan tidak harus diberikan ketika karyawan mencapai gol yang besar. Manajer dapat memberikan apresiasi jika karyawan berhasil mencapai key milestones, menunjukkan kinerja yang stabil, maupun menyelesaikan tugas sederhana dengan standar yang tinggi.

Bentuk apresiasi yang diberikan pun bermacam-macam. Anda dapat memuji karyawan yang berprestasi di hadapan rekan kerjanya, atau memberikan kompensasi yang sifatnya material. 

5. Dukung pengembangan karyawan

Tim yang memiliki kinerja baik adalah tim yang senantiasa bertumbuh. Salah satu karakteristik high performance team adalah ambisi untuk terus berkembang. Karena itulah perusahaan sebaiknya mengakomodasi kebutuhan mereka untuk belajar mengenai hal baru di dalam industrinya. 

Kesempatan untuk mengembangkan diri, seperti pelatihan maupun mentoring, akan membuat karyawan merasa lebih termotivasi dan siap untuk menjalankan tugasnya. Kesempatan semacam ini harus disediakan oleh semua karyawan.

Hal terpenting adalah memberikan penawaran yang benar-benar diinginkan karyawan. Karena karyawan sehari-hari berkutat dengan kegiatan operasional perusahaan, dia akan lebih paham mengenai pelatihan apa yang dibutuhkan. Dengarkan masukan dari karyawan-karyawan Anda.

Untuk membangun high performance teams and employee engagement, perusahaan harus sensitif terhadap dinamika yang terjadi di dalam organisasi. Hal ini termasuk memahami kelebihan dan kekurangan dari tim.

Sumber: 

https://www.thomas.co/resources/type/hr-blog/how-build-high-performance-teams#:~:text=A%20high%2Dperforming%20team%20is,for%20their%20workload%20and%20actions

https://www.qualtrics.com/experience-management/employee/employee-engagement/#:~:text=A%20definition%20of%20employee%20engagement,their%20work%2C%20and%20their%20team.

https://eletive.com/blog/measure-employee-engagement/ 

https://www.case.org/resources/employee-engagement-leads-high-performing-teams#:~:text=Boosting%20employee%20engagement%20can%20be,performance%20is%20influenced%20by%20it

https://www.frankli.io/post/connecting-employee-engagement-and-performance 

https://www.quantumworkplace.com/future-of-work/characteristics-of-high-performing-teams 

https://www.thomas.co/resources/type/hr-blog/how-build-high-performance-teams