5 Karakteristik Transformational Leadership yang Perlu Anda Ketahui

5 Karakteristik Transformational Leadership yang Perlu Anda Ketahui

Ada beberapa jenis leadership yang umum diterapkan oleh para team leader atau jajaran manajerial dalam menjalankan perannya. Salah satunya adalah transformational leadership. Alih-alih fokus membuat keputusan atau menyusun rencana strategis, jenis kepemimpinan ini lebih menitikberatkan pada pola kolaborasi yang bisa mendorong visi ke depan.

Gaya kepemimpinan memang bergantung pada tim yang dipimpin dan individu masing-masing. Namun, transformational leadership dinilai sebagai gaya kepemimpinan yang mampu menciptakan perubahan dan bertahan dalam waktu yang lama.

Pengertian Transformational Leadership 

Transformational leadership merupakan sebuah gaya kepemimpinan yang membutuhkan visi positif untuk masa depan. Pimpinan yang menganut cara ini mampu mendorong orang lain untuk mencapai perubahan yang positif melalui visi yang besar, inspirasi, dan ajakan untuk bertindak.

Leaders yang transformational mampu bekerja dengan anggita tim dan menyingkirkan kepentingan pribadi mereka untuk mengidentifikasi perubahan apa saja yang diperlukan. Ia juga mampu membuat visi untuk memandu perubahan tersebut dan melaksanakannya dengan penuh antusiasmen dan komitmen tinggi.

Selain itu, pimpinan yang mengaplikasikan cara ini juga lebih mampu untuk membangun koneksi yang dalam dengan anggota tim. Hal itu karena mereka cenderung memiliki skill komunikasi yang baik untuk menyemangati dan memotivasi timnya supaya maju.

Mengapa Transformational Leadership Itu Penting? 

Dalam sebuah perusahaan atau organisasi, memiliki pimpinan transformasional itu penting. Mengapa? Pasalnya, transformational leadership bisa mengubah sebuah tim menjadi kelompok yang berkinerja tinggi.

Selain itu, ada beberapa poin utama yang menekankan pentingnya transformational leadership, di antaranya:

  1. Berfokus dan menekankan pada perkembangan kemampuan individu di dalam tim, mencakup skill dan pengetahuan, guna pertumbuhan perusahaan atau organisasi.
  2. Mendorong, menginspirasi, dan memotivasi karyawan untuk menunjukkan performa yang mampu membuat perubahan.
  3. Menciptakan lingkungan kerja yang positif, memotivasi, dan terkoneksi
  4. Berimbas pada pertumbuhan individu baik dari segi performa kerja, dan membangun tim yang mampu berkarya di luar ekspektasi orang lain.

5 Karakteristik Transformational Leadership yang Perlu Anda Ketahui 

Untuk menerapkan transformational leadership, seorang leader atau pimpinan harus memiliki beberapa karakteristik. Apa saja?

  • Motivasi internal dan self-management

Transformational leadership menekankan pada pentingnya dorongan inovasi-inovasi baru. Untuk bisa melakukannya, leader harus memiliki motivasi internal dan self-management yang tinggi sebelum mampu menginspirasi orang-orang di sekitarnya untuk membuat perubahan.

  • Visioner

Pimpinan yang transformasional umumnya adalah seorang visioner. Dalam hal ini, ia harus mampu menetapkan visi, misi, serta nilai-nilai yang realistis, jelas, dan bisa dicapai oleh perusahaan. Para visioner juga mampu melihat arah tujuan jauh ke depan.

  • Terbuka atas ide-ide baru

Pimpinan transformasional harus memiliki pemikiran yang terbuka atas ide-ide atau inovasi baru yang bisa muncul kapan saja. Mereka juga cenderung mencari-cari kesempatan untuk melakukan hal-hal secara berbeda dan di luar kebiasaan. 

  • Mampu menjadi inspirasi

Karakteristik transformational leadership selanjutnya adalah kemampuan untuk menjadi inspirasi bagi anggota tim. Pimpinan harus aktif bergerak, mampu mendorong timnya untuk berkomunikasi dan proaktif dalam setiap tugas yang diberikan. 

  • Active listening yang baik

Transformational leader harus mampu mempraktikkan active listening yang baik. Ia dituntut untuk bisa memahami ide atau gagasan yang dikemukakan dengan pikiran terbuka dan tanpa mem-judge. Dengan melakukan hal ini, anggota tim akan merasa didengarkan dan dihargai sehingga mereka bisa terbuka tentang pikiran-pikiran yang bisa membawa perubahan.

Itulah beberapa karakteristik yang harus dimiliki dalam menjalankan transformational leadership. Pimpinan harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk meyakinkan tim member agar keluar dari comfort zone dan mengemukakan gagasan baru.

 

Mengenal Apa Itu Corporate Learning

Mengenal Apa Itu Corporate Learning

Salah satu tantangan terbesar bagi perusahaan di era modern adalah mengikuti perkembangan IPTEK dan situasi pasar yang dinamis. Maka dari itu, perusahaan harus mampu beradaptasi dengan cepat dan efektif. Salah satu cara untuk mencapai hal ini adalah dengan melakukan corporate learning yang berkelanjutan.

Apa Itu Corporate Learning?

Menurut IMD, corporate learning atau pembelajaran perusahaan adalah kemampuan organisasi untuk mendapatkan, mengaplikasikan, dan berbagi pengetahuan. Tujuannya adalah untuk mencari solusi baru dan menggunakannya untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan.

Kata “learning” atau “pembelajaran” sering kali merujuk pada departemen pelatihan (training) di perusahaan. Namun, pembelajaran perusahaan memiliki ruang lingkup yang lebih luas daripada itu.

Pembelajaran perusahaan melibatkan budaya belajar di seluruh bagian perusahaan. Hal ini dapat mencakup organisasi secara keseluruhan maupun karyawan secara individual yang senantiasa belajar dan menyesuaikan diri.

Dengan kata lain, pembelajaran perusahaan tidak sama dengan pelatihan perusahaan. Pelatihan perusahaan dapat menjadi bagian dari pembelajaran perusahaan, tetapi pembelajaran perusahaan memiliki cakupan yang lebih luas.

Pentingnya Corporate Learning

Pembelajaran perusahaan memiliki arti yang sangat penting, baik bagi karyawan maupun perusahaan. Berikut beberapa alasannya.

1. Meningkatkan Skill Karyawan

Dengan mengikuti program pelatihan yang diselenggarakan perusahaan, karyawan dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru. Selain meningkatkan kinerja individual karyawan, produktivitas perusahaan pun juga ikut meningkat.

2. Inovasi dan Adaptasi

Perusahaan perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar. Dengan pembelajaran berkelanjutan, perusahaan dapat melatih karyawan untuk menguasai teknologi baru, mendorong inovasi, dan mendapatkan ide-ide kreatif dari mereka.

3. Meningkatkan Motivasi Karyawan

Dengan adanya program pelatihan, karyawan akan lebih termotivasi dan semangat untuk bekerja. Selain itu, karyawan juga akan lebih puas karena merasa dianggap dan difasilitasi oleh perusahaan.

4. Mempertahankan Talenta Berbakat

Dengan dilakukannya dukungan pembelajaran yang berkelanjutan, para karyawan yang terampil pun akan merasa dihargai dan cenderung lebih loyal terhadap perusahaan.

5. Meningkatkan Daya Saing Perusahaan

Dengan adanya budaya belajar di tingkat karyawan dan organisasi, perusahaan dapat meningkatkan kemampuannya dalam menjawab tantangan pasar. Pada gilirannya, hal ini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

Contoh Corporate Learning

Berikut adalah beberapa contoh pembelajaran perusahaan yang paling umum.

1. Pelatihan Formal

Pembelajaran formal dapat mencakup seminar, workshop, dan kursus yang diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan karyawan, baik hard skill maupun soft skill. Tidak harus dilakukan secara internal, perusahaan juga dapat memanfaatkan pelatihan dari penyedia eksternal.

2. Orientasi

Perusahaan sering kali mengadakan program orientasi untuk karyawan baru. Tujuannya adalah memperkenalkan sistem, budaya, dan peraturan perusahaan yang penting diketahui oleh karyawan baru.

3. Mentoring dan Coaching

Melalui program ini, karyawan akan dibimbing oleh profesional berpengalaman untuk meningkatkan pengembangan pribadi dan profesional mereka.

4. Pengembangan Kepemimpinan

Melalui pengembangan kepemimpinan, perusahaan dapat mengidentifikasi dan menarik karyawan yang memiliki potensi sebagai pemimpin. Dengan adanya pemimpin yang kompeten di setiap level, kinerja perusahaan secara keseluruhan dapat meningkat secara positif.

5. Pembelajaran Informal

Proses pembelajaran juga dapat dilakukan secara informal, misalnya karyawan dapat belajar dari rekan kerja, belajar dari kesalahan, belajar dari pengalaman sehari-hari, dan belajar secara mandiri.

6. e-learning

Pembelajaran perusahaan juga dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi, seperti e-learning. Dengan fasilitas ini, karyawan dapat belajar secara online dari mana saja dengan jadwal yang mereka tentukan sendiri.

Demikianlah ulasan singkat tentang apa itu corporate learning, alasan mengapa itu penting, dan contoh penerapannya. Dengan pembelajaran yang berkelanjutan, perusahaan dapat memperbaiki kinerja bisnis dan meningkatkan daya saing.

7 Tips Meningkatkan Professional Development

7 Tips Meningkatkan Professional Development

Mendapatkan pekerjaan impian bukanlah akhir dari proses belajar dan berkembang. Cita-cita yang sudah terwujud harus diiringi dengan peningkatan professional development melalui pembelajaran berkelanjutan. Dengan begitu, karier seseorang tidak akan stagnan atau tertinggal di tengah perubahan yang cepat.

Apa Itu Professional Development?

Menurut ScienceDirect, professional development adalah proses yang berlangsung sepanjang karier, melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Seorang profesional dapat menambah pengetahuan dan keterampilan, serta melakukan pengawasan pribadi untuk meningkatkan praktik reflektif yang kritis.

Tips Meningkatkan Professional Development 

Banyak cara bisa dilakukan untuk pengembangan profesional, seperti melanjutkan pendidikan atau mengikuti pelatihan. Berikut adalah beberapa tips untuk meningkatkan pengembangan profesional kamu.

  1. Nilai Keterampilanmu

Pertama-tama, coba identifikasi keterampilan yang telah kamu miliki yang terkait dengan pekerjaanmu saat ini. Hal ini tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan interpersonal.

Misalnya, kamu bisa bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah cukup baik dalam bekerja sama? Apakah ada hal yang perlu diperbaiki? Dengan cara ini, kamu dapat lebih memahami potensi dan kebutuhan pengembangan profesionalmu.

  1. Susun Rencana

Buatlah tujuan pengembangan profesional yang ingin dicapai, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Setelah itu, susun rencana untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut dengan langkah-langkah nyata disertai target waktunya. Dengan cara ini, pengembangan profesional akan lebih terarah dan jelas.

Namun, rencana tidak harus kaku dan tetap. Kamu bisa mengevaluasi dan menyesuaikan rencana sesuai dengan perkembangan situasi dan kondisi. Jika ada tujuan atau langkah yang tidak efektif atau bermanfaat, kamu bisa mengubahnya dengan tujuan atau rencana baru yang lebih sesuai.

  1. Hadiri Seminar/Workshop

Jika kamu menemukan pengumuman tentang seminar atau workshop yang relevan, pertimbangkan untuk ikut jika jadwalnya tidak bertabrakan dengan kesibukanmu yang lain. Selain bisa mendapatkan pengetahuan baru, menghadiri acara semacam ini juga dapat menumbuhkan motivasi untuk terus berkembang dalam karier.

  1. Luangkan Waktu untuk Mengasah Keterampilan 

Di sela-sela kesibukan, kamu dapat meluangkan sedikit waktu untuk meningkatkan pengetahuan atau keterampilan. Misalnya, kamu bisa membaca buku keterampilan teknis atau buku pengembangan diri. Selain itu, kamu juga bisa mengikuti kursus, membaca artikel, dan menonton channel edukatif di YouTube.

  1. Temukan Mentor

Jika kamu merasa kesulitan dalam mengembangkan karier secara mandiri, pertimbangkan untuk mencari seorang mentor. Dalam hal ini, carilah mentor yang dapat menilai dan memberikan saran secara objektif tanpa bias.

Jika di perusahaanmu terdapat program mentoring internal, kamu bisa memanfaatkannya. Namun, jika tidak, kamu bisa mencarinya di tempat lain.

  1. Kembangkan Relasi

Bangunlah hubungan yang baik dengan semua orang di lingkungan profesionalmu, termasuk rekan kerja, atasan, dan klien. Selain itu, kamu bisa memperluas jaringan profesionalmu dengan bergabung di komunitas online dan offline, terutama yang sering mengadakan kegiatan profesional yang bermanfaat.

  1. Dapatkan Umpan Balik

Menilai diri sendiri secara objektif bisa jadi hal yang sulit. Karena itu, kamu bisa meminta umpan balik dari orang lain untuk menilai kinerjamu selama ini. Kamu bisa mendapatkan umpan balik dari atasan, mentor, kolega, dan bawahanmu.

  1. Berbagi Pengetahuan

Berbagi pengetahuan profesional juga dapat membantu mengasah pengetahuan dan keterampilan. Misalnya, kamu bisa membuka diskusi di forum online, memberikan jawaban atas pertanyaan, dan menjadi mentor bagi orang lain.

Itulah tujuh tips meningkatkan professional development. Dengan pengembangan profesional yang konsisten, karyawan dan kalangan profesional lain dapat tetap update dengan pengetahuan baru yang terus berkembang.

Pentingnya Business Agility dalam Menghadapi Era Digital

Pentingnya Business Agility dalam Menghadapi Era Digital

Era digital ditandai dengan perubahan tren dan perkembangan teknologi yang pesat. Pelaku usaha harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang terjadi. Business agility pun menjadi keahlian berharga yang akan membantu perusahaan menghadapi gejolak dunia digital.

Mengapa Business Agility Dibutuhkan? 

Business agility adalah kemampuan untuk beradaptasi terhadap perubahan dan tantangan secara fleksibel dan responsif demi mencapai tujuan usaha. Hal ini adalah kemampuan berharga yang wajib dimiliki semua perusahaan, terutama di era digital.

Arus tren, perkembangan teknologi, opini masyarakat, hingga kondisi sosial dan politik dapat mempengaruhi iklim bisnis. Teknologi digital seperti internet, media sosial, dan berbagai sarana komunikasi serta media juga membuat pengaruh tersebut lebih cepat tersebar. Perusahaan yang tidak bisa mengikuti arus perubahan ini akan kehilangan relevansinya dalam masyarakat.

Dengan business agility, perusahaan bisa mengelola semua perubahan dan tantangan agar bisnis tetap lancar. Kemampuan ini juga membantu perusahaan tetap relevan, tidak tenggelam dalam persaingan, dan memiliki reputasi baik di masyarakat. Perusahaan juga bisa tetap fokus dalam menjaga kepuasan konsumen serta konsistensi dalam visi dan misi.

Langkah Penting dalam Penerapan Business Agility 

Bagaimana cara menerapkan business agility dalam praktik bisnis?

Walau setiap perusahaan memiliki strategi berbeda, penerapan business agility sebaiknya melalui langkah-langkah spesifik agar hasilnya efektif. Inilah beberapa prinsip penting dalam menerapkan konsep tersebut:

  • Analisis Kesempatan dan Peluang

Analisis kesempatan dan peluang membantu bisnis agar selalu terdepan dalam arus tren dan informasi. Pelaku usaha harus memadukan berbagai metode riset agar bisa “membaca” pasar dengan lebih efektif. Selain riset pasar, pelaku usaha harus melakukan analisis data kuantitatif dan kualitatif serta melakukan survei untuk mendengar suara publik secara langsung.

  • Merancang Minimum Viable Product

Minimum Viable Product (MVP) adalah versi awal dari produk yang akan dirilis ke publik. Walau belum sempurna, MVP sudah memiliki karakteristik dan fitur dasar yang dibutuhkan agar bisa berfungsi. Fungsinya antara lain memperkirakan kualitas versi final dari produk tersebut serta mengetahui reaksi pengguna umum.

Dengan MVP, pelaku usaha bisa menyesuaikan strategi mereka secara berkala sambil merespons setiap opini, ulasan, dan kritik dari pengguna serta pemegang saham.

  • Evaluasi untuk Menentukan Arah Pengembangan Produk 

Evaluasi dalam konteks business agility merupakan proses yang berkelanjutan. MVP, riset pasar, survei, dan alat pengukuran lainnya menjadi landasan evaluasi bagi pelaku usaha. Gunanya untuk menyesuaikan beragam aspek bisnis dan menentukan strategi terbaik berdasarkan informasi serta perkembangan terbaru.

  • Menerapkan Value secara Konsisten

Ketika pelaku usaha berhasil melakukan riset pasar, survei, perencanaan, dan pembuatan MVP, menerapkan value secara konsisten akan lebih mudah. Bisnis Anda akan bisa beradaptasi dengan perubahan tanpa mengorbankan nilai yang terkandung dalam visi dan misi. 

Tantangan dalam Penerapan Business Agility

Walau memiliki peran penting, aplikasi business agility akan menemukan banyak tantangan,.

Misalnya, perusahaan yang cenderung berfokus pada tujuan jangka pendek cenderung kurang visioner, enggan mengambil risiko, dan sulit menerapkan business agility. Hambatan internal lain contohnya adalah kurangnya kejelasan dalam tujuan bersama, birokrasi yang terlalu rumit, benturan ego, hingga sosok pemimpin yang kurang mendukung inovasi serta adaptasi perubahan.

Agar perusahaan bisa menerapkan business agility dengan baik, Anda bisa mengikuti pelatihan soft skill seperti program dari Peopleshift. Programnya dibuat berdasarkan kondisi dan kebutuhan bisnis di era digital sehingga manfaatnya lebih relevan. Dengan business agility, perusahaan akan mampu menghadapi tantangan dan perubahan yang memiliki dampak signifikan terhadap lanskap bisnis.

Lean Management, Kunci Efisiensi Kerja dalam Organisasi

Lean Management, Kunci Efisiensi Kerja dalam Organisasi

Birokrasi rumit kini tidak lagi populer dalam berbagai perusahaan. Konsep lean management telah menjadi standar kesuksesan bagi pelaku usaha yang ingin sukses di tengah kompetisi. Fokus pada efisiensi tanpa mengorbankan kualitas menjadi kunci untuk meraih sukses sekaligus kepuasan pelanggan.

Manfaat Lean Management 

Lean management mengacu pada pengelolaan berbagai aspek usaha yang mementingkan efisiensi, kualitas, dan strategi yang lebih tepat sasaran. Konsep manajemen ini mengikis berbagai hal yang tidak dibutuhkan, baik dari segi biaya, sumber daya, maupun gaya komunikasi.

Ada beberapa aspek dalam perusahaan yang dapat diuntungkan dari lean management. Inilah beberapa contoh manfaatnya:

  • Produksi Cepat Tanpa Mengorbankan Kualitas

Lean management membantu perusahaan mempercepat proses produksi sehingga jumlahnya bisa ditingkatkan. Akan tetapi, konsep manajemen ini juga menjaga agar kualitas produk tidak menurun karena adanya fokus terhadap quality control.

  • Komunikasi lebih Ringkas dan Efisien

Penerapan lean management biasanya terlihat jelas dari gaya komunikasi. Karyawan, manajer, dan pemimpin bisa berkomunikasi secara langsung atau melalui birokrasi yang lebih ringkas. Pesan pun tersampaikan secara lebih efektif dan cepat.

  • Peningkatan Mutu Layanan Pelanggan

Memangkas hal-hal yang tidak perlu bisa meningkatkan kecepatan layanan. Pelanggan pun lebih puas karena mereka tidak perlu melalui birokrasi, antrean, atau halangan lain yang terjadi akibat kurangnya efisiensi.

  • Pengelolaan Finansial yang Lebih Baik

Efisiensi dalam konsep lean management juga berlaku dari segi keuangan. Pelaku usaha memfokuskan pengeluaran pada hal-hal penting. Pengelolaan uang pun menjadi lebih efisien.

Prinsip Penting dalam Penerapan Lean Management 

Bagaimana cara terbaik menerapkannya? Apapun strategi yang dibuat, pastikan mengikuti lima prinsip berikut:

  • Identifikasi Nilai Utama

Nilai bisnis yang utama menjadi patokan untuk setiap langkah dalam penerapan lean management. Nilai bisnis berfungsi memberikan arah dalam pengambilan keputusan. Anda pun lebih mudah menyingkirkan setiap hal yang tidak berkaitan dengan nilai utama bisnis tersebut.

  • Ciptakan Pemetaan Nilai

Pemetaan nilai merujuk pada langkah-langkah yang memberi nilai tambah pada proses bisnis. Setiap hal yang tidak memberi nilai tambah atau memboroskan aset bisnis bisa Anda singkirkan dengan menggunakan pemetaan ini sebagai patokan.

  • Sistem Kerja yang Berkelanjutan

Setelah menciptakan sistem pemetaan, Anda bisa mulai menciptakan sistem kerja yang arusnya lebih lancar dan tidak terhambat birokrasi. Sistem kerja yang berkelanjutan seperti ini meningkatkan efisiensi yang menyebar ke semua lini, termasuk layanan pelanggan.

  • Penekanan pada Kolaborasi dan Komunikasi

Kolaborasi dan komunikasi menjadi prinsip utama lean management, bukan birokrasi atau hierarki. Pelaku usaha harus menciptakan sistem komunikasi yang sifatnya langsung dan terbuka sehingga setiap saran, informasi, diskusi, hingga peringatan bisa tersampaikan dengan segera.

  • Evaluasi secara Terus-menerus

Setelah menentukan sistem manajemen yang memuaskan, selalu ada tantangan atau kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi dengan strategi baru. Perusahaan harus melakukan evaluasi pada semua tahap secara terus-menerus untuk mendeteksi hambatan dan risiko yang akan mengganggu arus kerja.

Tantangan dalam Penerapan Lean Management 

Walau memiliki banyak manfaat, penerapannya tidak mudah karena banyak tantangannya. Contoh paling jelas adalah adanya keengganan untuk beradaptasi terhadap perubahan, terutama jika hal ini datang dari pimpinan atau jajaran eksekutif.

Hambatan lainnya adalah tantangan dalam penerapan sistem manajemen itu sendiri. Perusahaan mungkin akan membutuhkan banyak modal, pelatihan, dan persiapan rumit lainnya demi beradaptasi dengan sistem manajemen ini.

Akademi pelatihan profesional seperti Peopleshift membantu mengatasi masalah ini. Lewat program intensif khusus untuk perusahaan, penerapan lean management pun bisa dilakukan dengan lebih cepat dan efektif. Pastikan mendaftar agar perusahaan bisa meningkatkan kinerja lewat program profesional dari Peopleshift.

Bagaimana Kanban Systems Meningkatkan Efisiensi Produksi

Bagaimana Kanban Systems Meningkatkan Efisiensi Produksi?

Proses produksi melibatkan rangkaian tindakan yang menghasilkan produk final dalam jumlah serta kualitas yang disyaratkan. Kanban Systems merupakan salah satu cara untuk melancarkan prosedur tersebut sehingga tidak menghasilkan penumpukan inventori, informasi yang simpang siur, serta masalah lainnya. 

Bagaimana cara menerapkan sistem ini dalam usaha Anda sendiri?

Apa Itu Kanban Systems 

Kanban Systems merupakan sistem manajemen berbasis pengaturan inventori yang menggunakan petunjuk visual untuk mendeskripsikan alurnya. Penerapannya melibatkan informasi berbasis respons cepat dan petunjuk visual seperti cue cards, baik yang berbentuk fisik maupun digital.

Aspek komunikasi visual ini terlihat dari sejarah Kanban Systems di pabrik produksi Toyota di Jepang. Pada awal tahun 1940-an, insinyur Taiichi Ono mengembangkan sistem manajemen inventori untuk melancarkan proses produksi Toyota dan meningkatkan daya saing melawan pabrik Amerika. Sistemnya membantu mengurangi pemborosan inventori dan meningkatkan efisiensi produksi.

Sistem Ono memanfaatkan rangkaian kartu petunjuk visual yang dipajang di rak-rak besar sehingga para pekerja bisa melihat semuanya. Kartu tersebut terbagi ke dalam beberapa kategori seperti To Do, Done, dan In Progress. Semua informasi tersaji secara real-time dan setiap departemen bisa memastikan bahwa alur kerja mereka lancar.

Di zaman modern, Sistem Kanban bisa diterapkan lewat software yang menampilkan alur tugas masing-masing departemen serta kartu-kartu petunjuk digital. Setiap kartu berisi informasi terkait kemajuan tugas yang mereka lakukan. Masalah yang terjadi langsung dicatat sehingga bisa segera dievaluasi dan dikelola.

6 Prinsip Kanban Systems 

Perusahaan masa kini bisa menerapkan Kanban Systems dengan mengadopsi teknologi seperti software manajemen dengan fitur visual cards. Akan tetapi, ada enam prinsip yang harus Anda ikuti untuk menerapkan Sistem Kanban, yaitu:

  • Memahami Alur Tugas Saat Ini

Prinsip utama Sistem Kanban adalah pemahaman akan tugas dan tanggung jawab setiap departemen dalam alur produksi. Hal ini menjadi patokan saat harus menerapkan sistem sesuai SOP masing-masing bagian.

  • Transformasi dan Peningkatan Kinerja secara Bertahap

Karena berfokus pada alur serta tanggung jawab di masing-masing departemen, Sistem Kanban mendorong perbaikan dan peningkatan kinerja dalam tahap kecil. Hal ini menciptakan transformasi yang sifatnya bertahap, bukan sekaligus.

  • Penerapan Konsep Leadership secara Merata

Konsep leadership tidak hanya diterapkan para manajer atau ketua tim. Para pegawai atau staf pun harus menerapkan elemen leadership seperti inisiatif, observasi, dan dorongan untuk membagikan ide.

  • Fokus pada Ekspektasi Konsumen

Penerapan Sistem Kanban bermuara pada ekspektasi dan kepuasan konsumen. Setiap langkah harus disesuaikan dengan standar yang diinginkan konsumen, terutama jika produk tersebut punya banyak saingan.

  • Atur Pekerjaan, Bukan Pekerjanya

Kanban Systems berfokus pada pengaturan sistem pekerjaan, bukan melakukan micromanagement terhadap setiap karyawan. Hal ini mendorong rasa tanggung jawab, kepercayaan, dan inisiatif terkait tugas masing-masing.

  • Evaluasi secara Berkelanjutan

Sistem Kanban mendorong evaluasi secara berkelanjutan bahkan selama proses produksi berlangsung. Setiap departemen dan staf bisa mengajukan ide yang akan langsung terlihat oleh setiap orang tanpa hambatan birokrasi.

Manfaat Penerapan Kanban Systems 

Sistem Kanban membantu perusahaan meningkatkan efisiensi, misalnya dalam hal mengurangi penumpukan bahan mentah agar tidak menumpuk saat proses produksi dilakukan. Sistem Kanban juga memangkas birokrasi terkait sharing pesan dan ide. Intinya, sistem ini memangkas hal-hal yang tidak diperlukan dalam proses produksi tanpa mengorbankan kualitas.

Anda bisa belajar menerapkan Kanban Systems lewat pelatihan yang berfokus pada perusahaan, misalnya program dari Peopleshift. Dengan materi yang berbasis pada tuntutan bisnis di era digital, sistem pelatihan ini akan membantu bisnis Anda untuk bisa beroperasi dengan lebih efektif dan efisien. 

Prototyping Model: Definisi, Tujuan, dan Manfaatnya

Prototyping Model: Definisi, Tujuan, dan Manfaatnya

Anda mungkin sering mendengar istilah prototype (prototipe). Prototipe adalah istilah yang sering muncul berkaitan dengan pengembangan produk, sistem, maupun sebuah aplikasi.

Selain prototype, mungkin Anda juga pernah mendengar istilah prototyping model. Apa yang dimaksud dengan prototyping model dan apa manfaat yang bisa didapatkan dengan melakukan hal ini? Berikut ini ulasannya. 

Definisi Prototyping Model

Apa itu prototyping model? Prototyping model adalah sebuah proses pembuatan prototype (prototipe), alias model atau contoh awal dari suatu produk, aplikasi, atau sistem yang akan dikembangkan. 

Membuat prototipe merupakan suatu hal yang penting dalam pengembangan produk. Pasalnya, dengan adanya prototipe Anda bisa mendapatkan feedback terkait produk yang sudah dibuat berdasarkan konsep awal. Hal ini akan membantu Anda memperbaiki prototipe sebelum mengembangkan produk, aplikasi, atau sistem yang dikembangkan secara utuh. 

Wujud prototipe bermacam-macam, tergantung pada produk yang akan dikembangkan. Karenanya, prototipe bisa berbentuk model interface pengguna, produk fisik, atau sekadar sketsa kasar. 

Biasanya, prototipe dibuat secara cepat. Oleh karena itu, prototipe tidak selalu sempurna dan menggambarkan produk secara utuh. Prototipe digunakan untuk mengomunikasikan ide maupun desain dalam wujud nyata sehingga pengguna bisa lebih mudah memahami konsep produk/sistem/aplikasi yang ditawarkan.

Tujuan Prototyping Model

Adapun tujuan utama dari prototyping model adalah sebagai berikut.

  1. Mengembangkan model atau rancangan suatu produk/sistem/aplikasi menjadi suatu produk final yang sesuai dengan permintaan pengguna.
  2. Menguji rancangan proses kerja atau konsep produk sebelum dipublikasikan.
  3. Memberikan gambaran kepada pengguna bagaimana perkiraan wujud dari produk/sistem/aplikasi yang akan dikembangkan sesuai konsep. Dengan demikian, pengguna bisa lebih memahami konsep produk/sistem/aplikasi yang akan dikembangkan. 
  4. Memancing adanya feedback terkait rancangan yang dibuat. Sering kali pengguna dibuat bingung dengan konsep sehingga enggan untuk memberikan feedback. Dengan adanya prototipe, pengguna bisa melihat lebih jelas seperti apa produk yang akan dikembangkan. Ini dapat mendorong pengguna untuk memberikan saran yang membangun kepada pembuat konsep dan prototipe. 

Manfaat Prototyping Model

Secara umum, ada empat manfaat yang bisa Anda dapatkan dengan membuat prototipe, yaitu:

  1. Klarifikasi konsep

Prototipe bisa membantu pengembang untuk mengklarifikasi konsep produk/layanan/sistem/aplikasi yang sudah dibuat sebelum pengembangan produk/layanan/aplikasi yang sesungguhnya dimulai.

2. Mendapatkan feedback awal

Dengan menunjukkan prototipe kepada pengguna, Anda bisa menerima masukan/feedback yang berguna untuk membuat perbaikan sebelum mengembangkan produk sebenarnya.

3. Mengidentifikasi masalah yang berpotensi muncul di masa mendatang

Membuat prototipe akan memungkinkan Anda untuk mengidentifikasi masalah maupun potensi kesalahan (error) yang bisa muncul. Ini dapat menghindarkan Anda dari kemunculan masalah yang lebih besar pada produk akhir karena Anda bisa mengantisipasi permasalahan sebelum mengembangkan produk/aplikasi/sistem tersebut lebih lanjut.

4. Mendukung pendekatan iteratif

Pendekatan iteratif dalam kaitannya dengan pengembangan suatu produk adalah sebuah pendekatan untuk membangun, menyempurnakan, serta meningkatkan kualitas produk dengan memecah suatu proyek besar menjadi proyek-proyek kecil. Setiap proyek kecil ini disebut sebagai iterasi.

Pembuatan prototipe mendukung pendekatan iteratif karena pembuatan prototipe mendukung adanya perbaikan yang dilakukan secara bertahap, sesuai dengan penerimaan masyarakat terhadap hasil prototipe yang Anda buat. 

Proses Prototyping Model

Membuat prototipe tentunya tidak bisa dilakukan secara asal-asalan. Ada tahapan-tahapan tertentu yang perlu dilakukan secara bertahap dalam rangka pembuatan prototipe. Proses yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Mengidentifikasi kebutuhan

Proses ini membantu Anda mengetahui prototipe apa yang akan dibuat. Pada tahap ini, tentukan juga siapa yang akan melihat/menggunakan prototipe tersebut.

2. Membuat desain prototipe

Setelah mengetahui prototipe apa yang akan dibuat, buat desain prototipe tersebut sesuai dengan kebutuhan.

3. Lakukan pengujian

Setelah membuat prototipe, langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian terhadap prototipe tersebut. Demonstrasikan prototipe tersebut kepada pengguna atau stakeholder untuk menerima feedback atas konsep yang terwujud dalam prototipe tersebut.

4. Perbaikan dan implementasi

Dengan feedback yang sudah Anda terima, perbaiki prototipe yang sudah dibuat. Gunakan feedback ini sebagai panduan pengembangan produk selanjutnya. 

Nah, itulah definisi prototyping model, tujuan, manfaat, dan prosesnya. Sebagai simpulan, prototyping model adalah proses pembuatan prototipe berdasarkan konsep awal produk, sistem, atau aplikasi yang dibuat. Melalui prototipe, Anda bisa memberikan gambaran riil konsep produk/sistem/aplikasi yang dibuat dan menerima feedback atas konsep tersebut.  

Prinsip dan Tahapan Human-centered Design dalam Membuat Produk

Prinsip dan Tahapan Human-centered Design dalam Membuat Produk

Dalam pengembangan sebuah produk/layanan, penting untuk mengetahui untuk siapa produk/layanan tersebut dibuat dan permasalahan apa yang mendasari dibuatnya produk/layanan tersebut. Hal ini penting, mengingat keberadaan sebuah produk/layanan adalah untuk menjawab permasalahan yang dialami penggunanya. 

Di sinilah human-centered design berperan penting dalam pengembangan produk. Human-centered design merupakan sebuah metode yang digunakan untuk membuat konsep produk/layanan yang berorientasi pada permasalahan target pengguna. 

Seperti apakah prinsip dan tahapan membuat produk/layanan yang human-centered? Berikut penjelasannya. 

Apa Itu Human-centered design?

Human-centered design merupakan suatu metode memecahkan suatu masalah dengan menempatkan permasalahan manusia sebagai objek utama pengembangan desain produk. Dengan metode ini, Anda bisa menciptakan konsep produk atau layanan yang sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan calon konsumen.

Human-centered design adalah sebuah cara untuk mempelajari permasalahan, keinginan, serta preferensi pengguna terkait suatu produk/layanan. Dengan menggunakan cara ini, Anda bisa meningkatkan kepekaan terhadap kebutuhan konsumen serta menghasilkan produk/layanan yang benar-benar dibutuhkan konsumen. Dengan cara ini, peluang mendapatkan keuntungan yang lebih besar juga meningkat.

Prinsip-Prinsip Human-centered design

Dalam pengembangan produk dengan human-centered design, ada beberapa prinsip yang perlu menjadi pegangan, yaitu:

  • People-centered
  • Understanding the root problems
  • Everything is a system
  •  Small and simple intervention

Mari kita pelajari apa yang ditekankan dalam masing-masing prinsip tersebut.

People-centered

Artinya, dalam hal pengembangan produk/layanan, Anda perlu berfokus pada masalah yang dihadapi pengguna/konsumen agar produk/layanan yang dikembangkan tepat sasaran.

Understanding the root problems 

Untuk melahirkan suatu solusi, Anda harus mengenali masalah apa yang ada. Pasalnya, memahami masalah merupakan kunci untuk menentukan langkah apa yang perlu diambil untuk mengatasi masalah. 

Demikian juga dengan pengembangan produk yang human-centered. Pengembangan produk bermula dari adanya identifikasi masalah yang harus diselesaikan. Masalah yang perlu diidentifikasi pun harus merupakan akar masalah—bukan sekadar masalah yang kecil saja. Identifikasi akar masalah merupakan hal yang penting dalam keberhasilan membuat produk yang human-centered.

Everything is a system 

Prinsip selanjutnya dalam membuat produk yang human-centered adalah meyakini bahwa segala hal saling berhubungan dan membentuk suatu sistem. Tampilan suatu produk, misalnya, bisa berpengaruh banyak terhadap berbagai aspek bisnis—misalnya marketing, sales, hingga pengembangan produk ke depannya.

Maka dari itu, perlu adanya brainstorming yang komprehensif untuk membuat desain yang baik. Biasanya, Anda perlu melibatkan banyak tim serta pemegang keputusan agar konsep desain yang dibuat benar-benar matang.

Small and simple intervention

Ketika mengembangkan suatu produk, Anda perlu menguji coba inovasi-inovasi baru yang ada secara bertahap hingga menemukan konsep penyempurnaan yang tepat. Alih-alih melakukan penyempurnaan dalam skala besar, akan lebih baik untuk melakukan penyempurnaan berskala minor secara bertahap dan kontinyu. 

Tahapan dalam Membuat Produk dengan Design yang Human-Centered 

Dalam membuat desain produk yang human-centered, ada beberapa tahapan yang perlu Anda ikuti. Tahapan-tahapan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

  1. Empathize (berempati)

Tahap ini bertujuan untuk memahami pengguna dan kebutuhan mereka. Maka dari itu, aktivitas yang Anda lakukan adalah melakukan observasi, survei, dan/atau wawancara.

2. Define (tentukan)

Setelah memahami apa yang jadi kebutuhan pengguna, lanjutkan dengan menentukan masalah apa yang ingin Anda selesaikan dengan produk/layanan yang akan dibuat. 

3. Ideate (ideasi)

Tahapan ini bertujuan untuk mengembangkan solusi yang bersifat inovatif untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Untuk itu, Anda perlu melakukan brainstorming untuk membuat konsep produk/layanan yang relevan dengan permasalahan yang timbul. 

4. Prototyping (membuat prototipe)

Apabila Anda sudah memiliki konsep produk/layanan yang akan dikembangkan, langkah selanjutnya adalah membuat prototipe produk/layanan. Hal ini dilakukan guna memberikan wujud nyata pada konsep yang telah dikembangkan sehingga calon pengguna bisa lebih memahami seperti apa konsep yang Anda kembangkan.

5. Testing (pengujian)

Setelah membuat prototipe, langkah selanjutnya adalah melakukan pengujian terhadap prototipe tersebut. Untuk itu, pada langkah ini Anda perlu melakukan user testing secara menyeluruh dan mengumpulkan feedback dari pengguna. Feedback ini akan digunakan sebagai bahan iterasi atau perbaikan pada produk.

6. Iterate (iterasi)

Tujuan tahapan ini adalah untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kualitas produk berdasarkan feedback dari pengguna. Jika diperlukan, biasanya kegiatan ini akan dilakukan secara berulang guna meningkatkan kualitas produk yang dibuat.

Nah, itulah penjelasan mengenai apa itu human-centered design, prinsip, dan tahapan-tahapan yang perlu diambil untuk membuat desain produk yang human-centered. Sebagai simpulan, human-centered design adalah suatu metode pengembangan produk yang berorientasi pada permasalahan target konsumen.  Dengan metode ini, produk yang dibuat bisa menjawab kebutuhan permasalahan dan kebutuhan pengguna.  

Apa Itu Innovation Labs? Berikut Manfaat dan Tujuannya

Apa Itu Innovation Labs? Berikut Manfaat dan Tujuannya

Persaingan bisnis yang ketat menuntut perusahaan untuk selalu menjadi yang terdepan di industri. Untuk itulah, perusahaan perlu mengerahkan ide-ide dan membuat inovasi produk/layanan yang bermanfaat serta mampu menggebrak industri. Dengan demikian, perusahaan bisa menjadi unggul dibandingkan para kompetitor.

Pentingnya ide-ide baru dalam bisnis membuat perusahaan membuat Innovation Labs-nya masing-masing. Dengan keberadaan lab ini, diharapkan perusahaan bisa melahirkan ide-ide brilian yang mencerminkan keunggulan mereka di industri.  

Apa Itu Innovation Labs?

Innovation Labs, atau sering juga disebut sebagai hubs, inkubator, atau akselerator, adalah sebuah unit bisnis yang menerapkan berbagai metode untuk membuat inovasi-inovasi bisnis yang diharapkan dapat membuat gebrakan baru di dalam industri.

Dalam Innovation Labs, tim yang terlibat akan melakukan proses kreatif berupa brainstorming serta design thinking untuk menemukan ide-ide baru yang mengarah pada inovasi.

Innovation Labs memiliki tugas untuk menemukan ide-ide baru, mengeksekusinya, serta mengiterasi (memperbaiki) ide tersebut sampai benar-benar bagus dan dapat diintegrasikan ke dalam bisnis yang sudah berjalan.

Selain itu, Innovation Labs juga bertugas untuk melakukan riset pasar untuk menemukan ide-ide baru  yang segar untuk dieksekusi. 

Menariknya, Innovation Labs biasanya merupakan unit yang terpisah dari struktur perusahaan dan berisikan orang-orang dari berbagai keahlian. Innovation Labs bisa terdiri dari karyawan-karyawan perusahaan tersebut, atau orang-orang baru yang direkrut khusus untuk unit ini. 

Manfaat Innovation Lab

Berikut adalah beberapa manfaat dari Innovation Labs, yaitu:

  • Meningkatkan inovasi

Adanya Innovation Labs bisa memfasilitasi pemikiran kreatif serta pemecahan masalah. Tak hanya itu, Innovation Labs bisa menyediakan ruang bagi karyawan untuk bereksperimen dalam menyusun ide-ide bisnis baru. Lab ini juga mendorong kolaborasi antar disiplin ilmu karena tim berisikan orang-orang dengan keahlian yang berbeda.

  • Meningkatkan kinerja bisnis

Dengan adanya Innovation Labs, suatu bisnis bisa mengembangkan produk/layanan baru yang berdaya saing dan unggul dibandingkan kompetitor. Bahkan, ada peluang produk/layanan yang dikembangkan Innovation Labs merupakan produk/layanan yang belum pernah ada sebelumnya. Alhasil, perusahaan bisa menjadi pionir dalam suatu produk/layanan tertentu dan menjadi trendsetter di pasar. 

  • Membuat dampak positif

Dengan adanya Innovation Labs, perusahaan bisa mengembangkan solusi yang menjawab permasalahan sosial dan global. Adanya inovasi yang dikembangkan juga bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat. 

  • Meningkatkan budaya kerja yang inovatif

Keberadaan Innovation Labs bisa mendukung tersedianya budaya yang terbuka untuk perubahan. Motivasi karyawan untuk turut memberikan ide-ide demi kemajuan bisnis pun berpotensi meningkat dengan adanya Innovation Labs ini.

Tujuan Innovation Lab

Innovation Labs didirikan dengan tujuan untuk merancang ide-ide baru yang dibutuhkan perusahaan untuk mengembangkan bisnis secara inovatif dan dapat menggebrak industri. Innovation Labs juga bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi talenta-talenta perusahaan untuk mengembangkan ide-ide mereka. 

Perusahaan juga bisa memanfaatkan Innovation Labs untuk menyaring talenta-talenta unggul yang memiliki potensi untuk memimpin perusahaan di masa mendatang.  

Contoh Innovation Labs

Saat ini, berbagai perusahaan di dunia sudah mulai membentuk Innovation Labs mereka masing-masing. Fokus dari lab-lab tersebut juga beragam. Namun pada intinya, lab-lab perusahaan tersebut bergerak sesuai bidang masing-masing dan memiliki tujuan untuk mengembangkan bisnis yang dijalankan.

Berikut adalah beberapa contoh Innovation Labs dari perusahaan-perusahaan internasional.

  • Samsung Innovation Labs

Innovation Lab dari Samsung ini berfokus pada pengembangan teknologi dan produk inovatif di berbagai bidang. Misalnya seperti perangkat seluler, semikonduktor, serta produk elektronik rumah tangga.

  • Pfizer Innovation Labs

Sesuai dengan bidangnya, Innovation Labs milik perusahaan farmasi Pfizer berfokus pada penelitian serta pengembangan obat-obatan yang inovatif.

  • Google X

Innovation Lab internal milik Google ini memiliki banyak proyek ambisius seperti mobil self-drive serta kacamata pintar. 

  • Acumen Innovation Labs

Acumen Innovation Labs merupakan salah satu Innovation Labs yang berfokus pada kebutuhan sosial. Lab ini memiliki fokus kerja berupa pemberdayaan masyarakat miskin melalui berbagai inovasi keuangan dan teknologi.

Sebagai kesimpulan, Innovation Labs merupakan suatu unit bisnis yang dibentuk perusahaan untuk membuat inovasi bisnis yang diharapkan dapat membuat gebrakan baru di dalam industri. Dengan adanya Innovation Labs ini, diharapkan perusahaan bisa menghasilkan produk/layanan yang inovatif dan belum pernah ada sebelumnya.

7 Team Building Activities untuk Mendorong Produktivitas Bisnis

7 Team Building Activities untuk Mendorong Produktivitas Bisnis

Keselarasan kinerja karyawan merupakan resep penting untuk produktivitas bisnis. Sayangnya, komponen ini terkadang dilupakan perusahaan. Team building activities merupakan langkah yang efektif (dan praktis) untuk meningkatkan kualitas kerja sama karyawan. 

7 Aktivitas yang Disarankan

Berikut ini merupakan aktivitas-aktivitas menarik untuk meningkatkan kolaborasi anggota tim:

1. No smiling 

Aktivitas ini bisa dilakukan sebelum meeting untuk mencairkan suasana. Salah satu tujuan yang ingin dicapai adalah membantu tim untuk tetap solid meskipun berada dalam situasi yang genting.

Anggota tim akan dikumpulkan dan diminta untuk tidak tersenyum selama beberapa menit lamanya. Individu yang bisa menahan senyum paling lama adalah pemenangnya. Aktivitas ini bisa dilakukan tanpa memedulikan besarnya tim Anda.

2. Ultimate dinner party 

Ini adalah salah satu team building activities yang bertujuan untuk membuat anggota tim saling mengenal satu sama lain. Aktivitas ini cocok dilakukan untuk grup kecil.

Setiap orang diminta menjawab “Jika Anda dapat mengundang 3 orang (yang masih hidup maupun telah meninggal) untuk pesta makan malam, siapakah yang akan Anda undang?” Setiap peserta harus memberikan argumen atas pilihannya dan menceritakan skenario acara makan malam tersebut.  

3. The barter puzzle 

Tujuan permainan ini adalah melatih karyawan untuk membuat keputusan bersama di bawah tekanan. Jumlah peserta yang disarankan adalah 12 hingga 20 orang, yang dibagi ke dalam beberapa tim.

Setelah membagi peserta ke dalam tim dengan jumlah anggota yang sama, setiap tim diberi puzzle set dengan tingkat kesulitan yang setara. Mereka harus menyelesaikan puzzle tersebut dalam batas waktu yang ditentukan. Menariknya, salah satu potongan puzzle yang diperlukan satu tim ternyata dipegang oleh tim yang lain.

4. Count to 20

Kegiatan ini bertujuan untuk melatih keterampilan mendengarkan secara aktif agar tim makin solid. Idealnya, jumlah peserta berkisar antara 5 hingga 30 orang.

Peserta bisa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Mereka akan menunduk dan memejamkan mata, lalu secara bergantian berhitung mulai dari 1, 2, hingga 20. Apabila lebih dari satu orang mengucapkan angka yang sama, perhitungan akan diulang dari awal.

5. Follow the leader 

Kegiatan ini merupakan salah satu team building activities yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi non-verbal dan kohesivitas. 

Seseorang di dalam kelompok ditugaskan menjadi “penebak” dan diminta meninggalkan ruangan sementara rekan lain melakukan briefing. Peserta di dalam ruang menunjuk seorang “pemimpin” yang akan membuat gerakan untuk ditiru anggota lain. Si penebak akan berusaha menentukan mana pemimpin tim berdasarkan gerakan kelompok.

6. Escape room quests

Tujuan aktivitas ini adalah melatih keterampilan problem solving secara beregu ketika berada dalam tekanan. Anggota tim pun akan merasa lebih nyaman satu sama lain karena aktivitas ini mendukung diskusi.

Tim (maksimal terdiri dari 10 orang) ditempatkan di dalam suatu ruang tertutup. Mereka diberi tugas untuk menyelesaikan teka-teki yang akan membantu mereka menemukan jalan keluar. 

7. Code of conduct

Aktivitas sederhana yang dilakukan pada pembukaan sebuah acara ini bertujuan untuk melatih karyawan membentuk aturan dan menaati aturan yang telah disepakati.

Kegiatan dimulai dengan menuliskan kata “bermakna” dan “menyenangkan” pada sebuah papan tulis. Setiap peserta diminta untuk menyampaikan mengenai hal yang membuat acara tersebut bermakna atau menyenangkan. Tim kemudian menyusun peraturan acara berdasarkan ide yang disampaikan.

Mempersiapkan Team Building Activities

Aktivitas-aktivitas yang disebutkan di atas perlu dipersiapkan dengan baik. Infrastruktur fisik, seperti ruang yang kondusif dan peralatan lain, harus tersedia. Selain itu, peserta harus diberi arahan terlebih dahulu agar fokus mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir.

Trainer yang berpengalaman pun dibutuhkan untuk kelancaran acara. Anda dapat menunjuk karyawan untuk mengawasi team building activities atau bekerja sama dengan lembaga pelatihan.